Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 06:11 WIB | Sabtu, 10 Maret 2018

Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya

Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM–”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10). Ada beberapa hal yang menarik dalam tulisan Paulus ini.

Pertama, Paulus hendak mengingatkan pembaca suratnya bahwa mereka adalah ciptaan Allah. Alasan Paulus menyatakan semuanya ini adalah karena manusia cenderung alpa dengan kenyataan ini. Segala persoalan dunia ini, jika ditelusuri bersumber pada kenyataan bahwa manusia sering lupa bahwa mereka hanya ciptaan.

Dosa pertama terjadi karena Adam dan Hawa alpa—atau lebih tepat melupakan diri—sebagai ciptaan Allah. Mereka ingin menjadi sama dengan Allah sehingga dengan sengaja melanggar perintah Allah dengan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.

Pembunuhan pertama terjadi karena Kain kesal terhadap Allah yang berkenan pada persembahan Habel. Dan karena nggak berani protes sama Allah, Kain membunuh adiknya itu. Manusia telah menjadi serigala terhadap sesamanya.    

Paulus mengingatkan bahwa warga jemaat adalah ciptaan Allah. Dan tidak hanya itu. Mereka bukan sembarang ciptaan karena—ini hal kedua—Allah begitu peduli terhadap mereka. Begitu pedulinya Allah, sehingga Dia mati untuk manusia. Ini yang dinyatakan Paulus dengan frasa ”diciptakan dalam Kristus Yesus”. 

Penulis Injil Yohanes mencatat: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16). Jelaslah, kasih Allah adalah satu-satunya alasan Allah menyelamatkan manusia. Paulus menyatakan kepada warga jemaat di Efesus  bahwa hanya “oleh kasih karunia kamu diselamatkan” (Ef. 2:5). Sola Gratia! Hanya anugerah!

Gratia seakar kata dengan gratis. Artinya, sesuatu yang diberikan cuma-cuma, tetapi bukan murahan. Diberikan gratis karena kita tak mungkin membayarnya. Terlalu mahal.

Lalu, mengapa Allah memakai cara kayak begini? Salah satu jawabnya ialah karena Dia Allah. Allah mengambil jalan salib karena pada salib tampaklah keadilan dan kasih Allah. Salib menyatakan keadilan Allah, yakni upah dosa adalah maut. Setiap manusia berdosa dan upahnya adalah maut. Artinya: manusia berdosa harus mati. Tetapi, Allah mengasihi manusia. Allah tidak ingin manusia binasa. Oleh karena itu, harus ada pribadi yang tidak berdosa yang menggantikan manusia berdosa. Yesuslah yang menggantikan manusia berdosa. Itulah kasih Allah sekaligus keadilan Allah. Salib menyatakan keadilan dan kasih Allah. Dan jalan itulah yang harus ditempuh Yesus: Allah yang menjadi manusia.

Demikianlah sola gratia itu. Dan setiap manusia diundang untuk percaya. Sola fide! Hanya iman terhadap sola gratia tadi! Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus sengaja mengutip peristiwa Ular Tembaga ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Dalam bayangan kematian akibat gigitan ular itu, Allah memberikan jalan keluar. Umat Israel akan tetap hidup jika mereka mau memandang Ular Tembaga itu.

Kisah Ular Tembaga ini masih hidup hingga hari ini. Tidak saja di kalangan Kristen. Dunia farmasi mengambil lambang ular tadi sebagai lambang apotek. Analog memang. Jika seorang penderita sakit ingin sembuh, maka tak ada jalan bagi kecuali meminum obat sesuai dengan anjuran dokter.

Kok gampang amat! Memang begitu jalannya. Tetapi, sebetulnya ini merupakan jalan yang teramat sulit bagi seorang pasien yang tidak lagi percaya kepada dokter. Dan sebagaimana para dokter, Allah memberikan sarana keselamatan bagi manusia. Soal percaya atau tidak itu merupakan tanggung jawab manusia. Itulah bagian manusia.

Dan tidak hanya percaya, melainkan—inilah hal ketiga—hidup di dalam kepercayaan itu. Paulus dengan tegas menyatakan bahwa umat yang diselamatkan Allah itu ”diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik” dan Allah mau kita kita hidup di dalamnya. Artinya: melakukan hal-hal yang baik.

Dalam semboyan reformasi inilah yang dimaksud dengan sola scriptura. Iman seharusnya berbuah dalam tindakan. Tentunya tindakan-tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah. Allah telah menjabarkan kehendak-Nya panjang lebar dalam Alkitab, sehingga sola scriptura merupakan keniscayaan bagi orang-orang yang telah menyatakan dengan tegas imannya.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home