Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:59 WIB | Jumat, 31 Mei 2019

Ikhtiar Membangun Ruang Dialog Seni-Budaya dalam “Ramadhan Rukun 2019”

Ikhtiar Membangun Ruang Dialog Seni-Budaya dalam “Ramadhan Rukun 2019”
Penampilan kelompok musik Sirkus Barock pada Ramadhan Rukun 2019 di Rumah Budaya Siliran, Rabu (22/5). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Ikhtiar Membangun Ruang Dialog Seni-Budaya dalam “Ramadhan Rukun 2019”
Penampilan grup keroncong Sorlem-Kotagede, Selasa (28/5).
Ikhtiar Membangun Ruang Dialog Seni-Budaya dalam “Ramadhan Rukun 2019”
Penampilan Ayu Permata dance company pada RR 2019, Rabu (22/5). (Foto: Rumah Budaya Siliran).
Ikhtiar Membangun Ruang Dialog Seni-Budaya dalam “Ramadhan Rukun 2019”
Performance ansemble biola Sulam (Sekolah Musik Alam), Senin (27/5). (Foto: Rumah Budaya Siliran).
Ikhtiar Membangun Ruang Dialog Seni-Budaya dalam “Ramadhan Rukun 2019”
Workshop Nderes sketsa bersama Bambang Widarsono (kanan-atas), Kamis (30/5).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Selama 19 hari mulai dari 13 Mei hingga 31 Mei, Rumah Budaya Siliran bersama Art Music Today, Lembaga Seniman Budayawan Muslim (Lesbumi) Kota Yogyakarta, dan Rekambergerak menggelar acara bersama Ramadhan Rukun 2019. Ramadhan Rukun 2019 dihelat di Rumah Budaya Siliran, Jalan Siliran Lor No 26, Kelurahan Panembahan Kecamatan Kraton, Panembahan, Yogyakarta.

Ramadhan Rukun (RR) adalah kegiatan seni dan silaturahmi budaya yang mulai diselenggarakan sejak 2017 dalam bentuk perhelatan dua tahunan. Ramadhan Rukun meniktikberatkan pada kegiatan sosial untuk menjalin komunikasi yang lebih intim antarsesama pelaku seni ataupun masyarakat yang terlibat.

“Pada tahun ini kami mengusung tema “Salaman”. "SALAM-MAN". Salaman. Salam, salim, silam, salom, selami, sulaman dan salaman. Barangkali aktivitas ritus persaudaraan ini agak redup dimakan "pencitraan" di serambi mata, sekalipun berkali-kali kebiasaan ini dilakoni untuk membunuh waktu di sepanjang pertemuan kita. Untuk menyapa yang lama tak bersua, salaman. Untuk pertemuan yang berselisih pandang, salaman. Untuk yang membedakan kepala, salaman. Untuk yang sering bertemu mata namun tanpa hati, salaman. Untuk yang ingin menebalkan hati, salaman. Untuk yang ragu menyatakan cinta, salaman,” jelas Feri L Prawiro dari Rumah Budaya Siliran kepada satuharapan.com, Kamis (16/5) sore.

Feri menjelaskan bahwa Ramadhan Rukun menjadi ikhtiar untuk membuka ruang-ruang kecil bagi aktivitas seniman/pelaku/pekerja seni mempresentasikan proses berkaryanya dalam jarak yang lebih dekat dengan audiens. Dalam suasana yang tidak berjarak tersebut diharapkan tercipta keintiman dalam mengapresiasi karya-karya yang tersaji melalui dialog berbagai arah. Dengan demikian sharing bisa menjadi lebih berdaya dan bisa menjadi pemicu bagi tumbuhnya ide-ide baru didalam proses berkarya berikutnya.

Ramadhan Rukun dikemas dalam suasana dialog yang santai menjelang berbuka puasa dengan beberapa kegiatan workshop, diskusi, serta performance seni dalam panggung dan tata suara yang sederhana. Setiap harinya terdapat dua sesi acara diselingi dengan kajian kuliah tujuh menit (kultum) menjelang berbuka puasa.

Selama Ramadhan Rukun 2019 menampilkan dua puluhan pertunjukan/performance di antaranya Joel Tampeng, Hip Hop: Ninja Dindong, Doa Ibu, Semendelic, Post Poetry: Nunung Deni Puspita, Nada Bicara, Ayu Permata Dance Company, Harizza Nasyid, NOS Indonesia, Mime On Stage: Krismantono, Salaman Bocah: Leading Tone (ansamble biola), Bandanas Band, Nocturnal Guitar Quartet, Klithih bunyi, Bulan Jingga, Lowllaby, Uchie Feat Erie Setiawan, Post Poetry: Puisi Selfie oleh Nano Suharno, Sirkus Barock, Kerontjong Erie and friends, Joyosentiko: Teguh Solo Project, Keroncong Sorlem, perform Guntur Nur Puspito, Hadrah Sanggar Sunan, Wayang-an Suket oleh dalang Ki Wahono.

Ikhtiar Membangun Kesadaran dalam Ruang-ruang Kecil

Melihat begitu banyaknya seniman-pelaku seni yang terlibat, rentangan tangan dari banyak pihak menjadi tawaran menarik bagi Ramadhan Rukun membangun dialektika ruang kesadaran bersama. Sirkus Barock contohnya yang tampil secara kolektif, maupun personelnya tampil sebagai musisi bersama kelompoknya masing-masing seperti Joel Tampeng, Semendelic, NOS, Bulan Jingga, adalah gambaran bagaimana rentangan tersebut bersambut dalam irama dan semangat yang sama.

Di luar pertunjukan, Ramadhan Rukun 2019 juga menampilkan diskusi-workshop dengan menghadirkan Pengajian Seneng Takon oleh Lesbumi Kota Yogyakarta, Workshop Cap Batik, Nderes sketsa oleh Bambang Widarsono, serta Dongeng Kak Iwan. Keseluruhan acara melibatkan masyarakat luas baik sebagai pementas maupun peserta/audiens.

Realitas ruang-ruang kecil di wilayah Yogyakarta sebagai ruang untuk berproses seni-budaya cukup banyak tersebar. Dari ruang-ruang kecil inilah sesungguhnya kehidupan seni-budaya di Yogyakarta terbangun secara organis melalui persinggungan dengan berbagai entitas yang mampu memunculkan kreativitas yang lebih beragam dan berwarna.

Komunitas Jazz Yogyakarta dengan perhelatan dalam ruang kecil Jazz Mben Senen yang terus digelar tanpa putus setiap Senin malam di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta dalam rentang sepuluh tahun terakhir mampu melahirkan perhelatan besar Ngayogjazz maupun event jazz lainnya, adalah gambaran bagaimana konsistensi bisa saling menghidupi. Ada semangat menarik dalam dialektika yang dikembangkan bahwa berproses dalam seni-budaya bukanlah untuk menjadi artis-musisi semata, namun lebih untuk menghidupi ruang kecil-besar seni-budaya yang ada di sekitarnya.

Diakui atau tidak, ruang-panggung besar di Yogyakarta dihidupi oleh aktivitas ruang-ruang kecil. Dialog yang intim menjadi kekuatan ruang-ruang kecil untuk terus bergerak, meskipun kadang tidak terbaca hingga ke permukaan masyarakat luas. Dan ketika ruang-panggung besar sebagai representasi salah satu ruang publik sulit untuk diakses oleh seniman/pelaku/pekerja seni, ruang-ruang kecil menjadi begitu berdaya karena presentasi-apresiasi karya seni-budaya tidak mengenal seberapa besar ruang tersebut tersedia dan bisa diakses, namun seberapa besar ruang tersebut mampu menampung ide-pemikiran yang terus berkembang hingga lahir aktiivitas-kreativitas yang hidup dalam berbagai arah-aras. Dari dialektika yang berkembang di ruang-ruang kecil itulah sesungguhnya seni-budaya bisa hidup dan menghidupi.

Editor : Sotyati

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home