Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:31 WIB | Rabu, 12 September 2018

Iklim Ekstrem Pemicu Peningkatan Kelaparan Global

Ilustrasi. Konflik dan kekeringan berdampak buruk terhadap akses makanan bagi perempuan dan anak-anak di Sudan Selatan (Foto: AFP/Albert Gonzalez Farran)

PARIS, SATUHARAPAN.COM – Iklim ekstrem adalah pemicu utama kelaparan di seluruh dunia pada tahun lalu, terutama sangat berdampak pada wanita, bayi, dan orang tua, menurut sebuah laporan dari PBB pada Selasa (11/9).

Semakin sering bencana alam terjadi, seperti curah hujan ekstrem atau suhu, serta kekeringan, badai, dan banjir, mendorong jumlah orang yang kurang gizi menjadi 821 juta pada tahun 2017, kata laporan itu.

Angka itu, setara dengan sekitar satu dari sembilan orang di dunia yang mengalami kelaparan, naik dari 804 juta pada tahun 2016, demikian menurut laporan tahunan The State of Food Security and Nutrition in the World (Status Keamanan Pangan dan Nutrisi Dunia).

“Jumlah orang yang menderita kelaparan meninkat selama tiga tahun terakhir, kembali ke tingkat yang berlaku hampir satu dekade lalu. Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena  22,2 persen anak di bawah lima tahun terdampak pelambatan pertumbuhan atau stunting pada 2017,” demikian menurut dokumen PBB.

Negara-negara yang terdampak paling parah adalah yang berpenghasilan rendah dan menengah, khususnya, sangat terpengaruh oleh iklim ekstrem yang semakin sering terjadi.

"Afrika adalah wilayah yang mengalami guncangan dan tekanan iklim, yang membawa dampak terbesar, bagi kerawanan pangan akut dan malnutrisi. Hal itu berdampak pada 59 juta orang di 24 negara, yang membutuhkan aksi kemanusiaan yang mendesak," kata laporan tersebut .

"Jika kita ingin mencapai dunia tanpa kelaparan dan kekurangan gizi dalam segala bentuknya pada tahun 2030, adalah penting bahwa kita mempercepat dan meningkatkan tindakan agar memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptif sistem pangan, dan mata pencaharian masyarakat dalam menanggapi variabilitas iklim dan ekstrem,“ katanya.

Selain banjir, kekeringan, dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya selalu terjadi, para ilmuwan mengatakan pemanasan global akan meningkatkan frekuensi dan keparahan peristiwa semacam itu.

Di negara-negara di mana guncangan konflik dan iklim terjadi, dampaknya terhadap kerawanan pangan bahkan lebih parah dan tanpa henti, kata laporan itu. Hampir 66 juta orang di seluruh dunia membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak tahun lalu.

Suriah, di mana pertanian adalah salah satu dari beberapa sektor yang selamat dari perang tujuh tahun, menyaksikan panennya terpukul oleh meningkatnya suhu dan kekeringan.

Hasil pertaniannya sudah turun 40 persen dari tingkat prakonflik, dari 4 juta ton menjadi sekitar 2,5 juta ton, produksi sereal Suriah "akan mengalami pengurangan baru" tahun ini, kata direktur darurat Organisasi Pangan dan Pertanian PBB Dominique Burgeon.

"Suriah telah melihat masalah musiman, kuantitas dan distribusi curah hujan, dan faktor-faktor ini dikombinasikan telah menyebabkan melemahnya sektor pertanian secara keseluruhan," katanya.

Yaman mengalami nasib yang lebih buruk, dengan 35 persen penduduknya kurang gizi, kata Burgeon, membuat negara yang dilanda perang itu menjadi rumah bagi "krisis pangan paling akut saat ini" di dunia.

PBB mencatat, perempuan di seluruh dunia sangat rentan terhadap dampak iklim ekstrem, terutama di negara-negara di mana bahkan kemiripan kesetaraan gender tetap menjadi mimpi . Hal ini disebabkan, mereka sering kekurangan akses ke kekayaan, tanah, pendidikan dan perawatan kesehatan.

Sebagai contoh, 90 persen Danau Chad telah mengering karena meningkatnya suhu, memaksa perempuan berjalan lebih jauh untuk mengumpulkan air bagi keluarga mereka.

Di India, sumber daya yang terbatas ditambah dengan ketidaksetaraan jender yang sudah menjadi tradisi. Bahkan dalam keluarga miskin, mereka memberi makan anak laki-laki mereka lebih baik daripada anak perempuan.  

"Di Vietnam, orang tua, janda, orang cacat, orang tua tunggal, dan rumah tangga yang dikepalai oleh wanita dengan anak-anak kecil, paling tidak tahan terhadap banjir dan badai dan kejadian yang lambat seperti kekeringan yang berulang," kata laporan itu. (AFP)

Editor : Sotyati

Back to Home