Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 12:20 WIB | Jumat, 17 Februari 2017

Iklim Politik Terbukti Picu Stres

Iluistrasi : Warga AS melakukan protes atas kebijakan "larangan perjalanan" (travel ban) Presiden Donald Trump dalam aksi di Brooklyn, New York Senin (2/2) lalu. (Foto: voaindonesia.com )

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM – Tim peneliti American Psychological Association (APA) mendapati bahwa 57 persen warga Amerika mengatakan, Iklim politik saat ini sangat atau cukup menjadi sumber stres yang signifikan, demikian menurut penelitian yang dilakukan bulan Januari lalu.

Hampir separuh warga Amerika atau sekitar 49 persen mengatakan hasil pemilu presiden Amerika bulan November lalu juga merupakan sumber stres, tetapi perbedaan tingkat stres itu tergantung pada partai responden yang diteliti.

Bagi mereka yang mendukung Partai Demokrat, 72 persen mengatakan hasil pemilu itu menimbulkan stres. Jawaban serupa disampaikan 26 persen pendukung Partai Republik.

Ketika ditanya tentang masa depan Amerika, 59 persen pendukung Partai Republik mengatakan mereka stres. Jawaban yang sama disampaikan 76 persen  pendukung Partai Demokrat.

“Stres akibat isu-isu politik ini sangat memprihatinkan, karena warga Amerika sulit melupakannya”, kata Katherine Nordal, Direktur Eksekutif Praktek Profesional American Psychological Association APA.

“Kita dikelilingi oleh pembicaraan, berita dan media sosial yang secara terus menerus mengingatkan kita tentang isu-isu yang paling membuat kita stres”, katanya, yang dilansir situs voaindonesia.com.

Penelitian baru itu dilakukan setelah APA tahun lalu mendapati bahwa pemilu menyebabkan 52 persen warga Amerika mengalami stres.

Penelitian bulan Januari lalu, mendapati bahwa prosentase jumlah warga Amerika yang melaporkan bahwa aksi teroris merupakan sumber stres mereka, naik dari 51 persen pada beberapa bulan sebelumnya menjadi 59 persen. Penelitian itu juga mendapati peningkatan prosentase jumlah warga Amerika yang stress akibat kekerasan oleh polisi dan keamanan pribadi.

APA mengatakan, pendidikan juga memainkan peran dalam stres yang dihadapi warga Amerika. Misalnya 53 persen orang yang mengenyam pendidikan di atas SMA melaporkan stres akibat hasil pemilu. Dibanding 38 persen yang berasal dari pendidikan setara SMA atau di bawahnya.

Faktor geografi juga memainkan peran. Enam puluh dua persen warga yang tinggal di perkotaan melaporkan stres, dibanding 45 persen warga yang tinggal di pinggir kota dan 33 persen warga yang tinggal di pedalaman.

Peningkatan stres itu mungkin menimbulkan masalah kesehatan kata APA, yang mengutip warga yang melaporkan peningkatan masalah kesehatan terkait stres dari 71 persen  menjadi 80 persen. Masalah kesehatan itu mencakup sakit kepala, kecemasan dan depresi.

“Meskipun ini merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi dan tampaknya kecil, hal ini bisa memicu dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari dan kesehatan fisik secara keseluruhan ketika masalah ini berlanjut dalam jangka waktu lama," kata Nordal.

APA menyarankan agar orang yang mengalami stress karena pemilu dan iklim politik untuk tidak menyimak berita dan melakukan hal lain. “Cukup membaca saja supaya tetap mendapat informasi, lepaskan diri dari isu-isu itu dan stres yang diakibatkannya."

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

Back to Home