Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:58 WIB | Kamis, 27 Desember 2018

Ilmuwan Sudah Prediksi Tsunami Anak Krakatau Enam Tahun Silam

Ilustrasi. Letusan Gunung Anak Krakatau yang memicu longsor bawah laut diyakini sebagai penyebab gelombang maut tersebut. (Foto: dw.com/Reuters/Antara Foto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pada 2012, sekelompok ilmuwan merilis studi ilmiah yang mewanti-wanti bahaya longsor akibat erupsi Anak Krakatau, yang bisa memicu tsunami. Hasil analisa mereka nyaris serupa dengan bencana pada 22 Desember lalu

Meski dinilai kejadian langka, gelombang tsunami yang dipicu oleh longsor dari Gunung Anak Krakatau, bukan tidak pernah diprediksi sebelumnya. Dr Thomas Giachetti, Asisten Professor di University of Oregon, sudah membuat simulasi runtuhnya dinding kawah Anak Krakatau yang berpotensi menciptakan gelombang tsunami, pada tahun 2012 silam,.

"Longsor pada lereng barat daya tidak boleh diabaikan. Karena longsor semacam itu berpotensi jatuh ke arah barat daya menuju kaldera 1883, dan mampu memicu gelombang yang menyebar di Selat Sunda, kemungkinan berdampak pada kawasan pesisir Indonesia," begitu tulis ilmuwan dalam studi yang dirilis oleh jurnal ilmiah milik Geological Society of London, 2012.

Rapuhnya lereng barat Anak Krakatau, disebabkan oleh posisinya yang berdiri di tepi kaldera peninggalan erupsi dahsyat 1883. Selain itu arus laut yang tergolong kuat turut mempercepat pembentukan lereng barat, sehingga jauh lebih curam ketimbang bagian timur gunung. Selama proses observasi, Giachetti dan timnya mencatat Anak Krakatau tumbuh semakin cepat ke arah barat daya.

Analisa Potensi Bukan Prediksi

Prediksi Giachetti tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Sabtu, 22 Desember silam. Lereng gunung seluas hampir 64 hektare, longsor ke dalam laut dan memicu gelombang maut tsunami di Selat Sunda.

Hal itu diakui oleh ahli tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjokongko. Meski demikian ia menilai studi ilmiah Giachetti hanya menganalisa "potensi," bukan "memprediksi" terjadinya tsunami.

"Saat ini kami sedang menghitung di lapangan apakah volumenya mendekati yang dimaksud, dalam studi tersebut," katanya yang dilansir dw.com pada Kamis (27/12).

Widjokongko memastikan, saat ini BPPT sedang mempertimbangkan jenis teknologi pendeteksi dini yang paling cocok digunakan di Indonesia. Tiga jenis alat saat ini sedang dikaji oleh BPPT, yakni buoy tsunami, cable based tsunameter (CBT) atau radar laut berfrekuensi tinggi.

Cable based tsunameter seperti yang digunakan Amerika Serikat dan Jepang tergolong teknologi yang paling mahal. Meski demikian kabel pendeteksi perubahan tekanan di dasar laut itu lebih akurat, dan lebih cepat mengirimkan peringatan dini ketimbang teknologi yang lain.

Adapun radar berfrekuensi tinggi dipasang di daratan, dan berfungsi melacak anomali gelombang laut hingga jarak 300 km.

Kelebihan teknologi ini adalah tingkat akurasinya yang tidak bergantung faktor eksternal seperti misalnya cuaca buruk.

"Ada pro kontranya, misalnya masalah investasi, perawatan atau kerentanan terhadap vandalisme," kata Widjokongko yang berharap instruksi Presiden Joko Widodo untuk membeli alat pendeteksi baru tidak tertunda lantaran pemilu 2019.

Potensi Tsunami Susulan

Sementara itu, Badan Meteorologi, Geofisika dan Klimatologi (BMKG) kembali mengimbau penduduk untuk menjauh setidaknya 500 m hingga 1km dari bibir pantai, menyusul kekhawatiran terhadap tsunami susulan. Cuaca ekstrem di Selat Sunda dan aktivitas vulkanik Anak Krakatau diyakini memperbesar ancaman tersebut.

"Semua kondisi saat ini berpotensi memicu longsor dinding kawah ke dalam laut. Dan saya khawatir ini akan memicu tsunami," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Meski demikian ia meminta masyarakat tetap bersikap tenang dan tidak panik.

Gelombang tsunami, yang disebabkan longsor material Gunung Anak Krakatau menyapu pesisir barat Banten dan timur Lampung pada Sabtu (22/12), dan menewaskan lebih dari 400 orang. Lantaran tidak ada gempa bumi yang menyulut alarm bahaya, kebanyakan mengira hanya air pasang. Sebab itu Presiden Joko Widodo memerintahkan BMKG untuk membeli perlengkapan deteksi dini tsunami pada 2019 nanti.

Untuk sementara, BMKG menggandeng Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologis (PVMBG) untuk bertukar data pengamatan.

Jika BMKG memiliki data gempa bumi, PVMBG menggawangi pengamatan erupsi gunung berapi. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, berharap dengan menyatukan data dari kedua instansi, Indonesia di masa depan bisa lebih siaga menghadapi bencana tsunami.

“Kami sudah memasang enam sensor siesmometer yang telah dimodifikasi untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata Karnawati, seperti dilansir Tempo.

Sensor tersebut diperlukan menyusul ancaman lanjutan dari Anak Krakatau. Sesuai studi ilmiah Giachetti, lereng barat daya yang curam dan berlokasi di tepi kaldera membuatnya rentan terkena longsor. Hal ini diwanti-wanti oleh Widjokongko, "kita ketar-ketir," kata dia.

"Longsor kemarin menciptakan kemiringan yang lebih curam," katanya, "Dan itu bisa menimbulkan longsor yang lebih besar karena erupsinya bersifat eskalatif."

 

Back to Home