Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Tya Bilanhar 10:23 WIB | Sabtu, 07 Oktober 2017

Imam Besar Istiqlal: Trinitas Bisa Dijelaskan dengan Teosofi Islam

Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar (Foto: Ist)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Komentar Eggi Sudjana tentang doktrin Trinitas yang tidak sesuai dengan Pancasila telah menjadi viral dan menuai kontroversi luas. Ia pun digugat dan dilaporkan kepada polisi.

Dalam video yang diunggah oleh akun Youtube Suara Kebangkitan Islam pada Senin 2 Oktober 2017, terlihat Eggi Sudjana berkata. “Tidak ada ajaran selain Islam ya, ingat ya, garis bawahi, selain Islam, yang seusai dengan Pancasila, selain Islam bertentangan,” kata Eggi.

“Kristen trinitas, Hindu trimurti, Budha sepengetahuan saya tidak punya konsep Tuhan, kecuali dengan proses amitabha dan apa yang diajarkan Siddharta Gautama,” tuturnya.

Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia Sures Kumar telah melaporkan Sudjana ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri berdasarkan video ini. Sudjana dilaporkan karena melanggar pasal 45 ayat 2 dan atau pasal 28 ayat 2 Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Menyusul kontroversi tersebut, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH. Nasaruddin Umar, menurunkan tulisan di Rakyat Merdeka Online yang membantah komentar Eggi. Walaupun tulisan tersebut tidak ditujukan kepada Eggi, penjelasan Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar menunjukkan bahwa cara pandang Eggi keliru.

Menurut KH Nasaruddin Umar, Trinitas bukan saja tidak bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, tetapi ia mengatakan bahwa Trinitas dapat dijelaskan dengan logika Teosofi Islam. Berikut ini tulisan lengkap KH Nasrudin Umar.

DOKTRIN Trinitas atau Tritunggal dalam agama Kristen sama sekali tidak ber­benturan dengan Ketuhanan YME. Doktrin Trinitas menggambarkan Satu Tuhan da­lam tiga pribadi (one God in three Divine Personsthree), yaitu Bapa, Anak (Yesus Kris­tus), dan Roh Kudus. Tiga konsubstansi tersebut dapat dibedakan, namun tetap merupakan satu substansi. 


Doktrin Trini­tas tidak secara eksplisit dalam Kitab Suci tetapi Kitab Suci memberikan kesaksian tentang kegia­tan suatu pribadi yang hanya dapat dipahami dari segi Trinitaris. Tidak heran jika doktrin ini memi­liki bentuk pembenarannya lebih luas pada akhir abad ke-4. Dalam Konsili Lateran IV dijelaskan: “Allah yang memperanakkan, Anak yang diper­anakkan, dan Roh Kudus yang dihembuskan”. Meskipun memiliki 'tiga pribadi' tetapi tetap satu.

Logika Doktrin Trinitas sesungguhnya bisa di­jelaskan melalui logika Ahadiyah-Wahidiyah da­lam teosofi Islam, Ein Sof-Sefirod dalam Kabba­la Yahudi, Atma-Brahma dalam agama Hindu, Yang-Yin dalam teologi Taoisme. Sesuatu yang berganda atau berbilang tidak mesti harus dipertentangkan dengan konsep keesaan. Kon­sep Asma’ al-Husna berjumlah 99 tidak mesti bertentangan dengan keesaan Allah Swt.

Suatu saat seorang muslim mendebat se­orang pendeta dengan mempertanyakan kon­sep keesaan Tuhan dengan kehadiran Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Sang pendeta menga­takan, kami masih mending karena hanya tiga. Bagaimana dengan Islam Tuhannya berjumlah 99. Dengan tegas dijawab bahwa 99 nama itu tetap Tuhan Yang Maha Ahad itu. Lalu dijawab, apa bedanya dengan agama kami. Yang tiga itu tetap yang satu itu.

Dalam diskusi lain, seorang murid mengadu ke mursyid (guru spiritual), bagaimana saudara kita yang beragama Kristen mengaku berketuhanan YME tetapi memiliki doktrin Trinitas, atau sau­dara kita yang beragama Hindu memiliki doktrin Trimurti? Sang mursyid menjawab, di situlah ke­lirunya mereka karena membatasi Tuhan hanya tiga, padahal semua yang ada adalah Dia, tidak ada yang ada (maujud) selain Dia.

Sang mursy­id mengutip sebuah ayat: Wa lillah al-masyriq wa al-magrib fa ainama tuwallu fa tsamma wajh Al­lah (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al- Baqarah/2:115). 

Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan mursyid barulah murid itu lega. Akan tetapi kembali bertanya, kalau saudara kita tadi keliru karena hanya membatasi Tuhan han­ya tiga, bagaimana dengan saya yang hanya membatasi Tuhan hanya satu. Sang mursyid menjawab: Sesungguhnya mungkin tidak ada yang salah, termasuk anda, karena yang ban­yak itu ialah yang satu itu dan yang satu itulah yang memiliki wajah yang banyak (al-wahdah fi al-katsrah wa al-katysrah fi al-wahdah/the one in te many and the many in the one).

Bagi umat Kristiani doktrin Trinitas sama sekali tidak mengganggu konsep kemahae­saan Tuhan dan Ketuhanan YME. Hanya orang-orang luar Kristen sering sulit mema­hami Tuhan mempunyai anak, karena dalam benak masyarakat kata “Anak” masih selalui di­hubungkan dengan anak biologis. Padahal da­lam Bahasa Arab kata “Ibn” atau “Son” dalam Bahasa Inggris tidak selamanya berarti anak bi­ologis. 

Kata “anak” bisa berarti simbol kedeka­tan atau representatif, seperti kata “anak-anak Indonesia di luar negeri” berarti anak-anak yang menampilkan ciri khas dan karakteristik bangsa Indonesia. Seorang anak lebih menciri­kan karakter bapaknya sering diistilahkan “anak bapaknya”. Begitu dekatnya hubungan dan banyaknya persamaan sifat dan karakter sese­orang dengan sesuatu sering diistilahkan anak dari sesuatu itu. 

Persoalan semantik sering kali menjadi faktor penyebab terjadinya perbedaan mendasar, bahkan menjadi sumber konflik.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home