Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Julianus Mojau 09:19 WIB | Senin, 31 Desember 2018

Iman: Berani Menghadapi dan Cerdas Mengelola Krisis

Kompleksitas dan ambiguitas tidak cukup diatasi oleh rasio manusia.
Setia menebar harap (foto: vannour)

SATUHARAPAN.COM – Kita akan segera melewati tahun 2018 dengan sejumlah pengalaman sosial keindonesiaan kita. Ada sejumlah pengalaman yang menggembirakan dan membesarkan hati kita.

Kita mencatat, misalnya, pertumbuhan ekonomi yang telah ikut menurunkan angka kemiskinan dan pembangunan infrastruktur yang mampu menghubungkan antarwilayah Indonesia. Kita patut menyukuri kemajuan-kemajuan yang menggembirakan dan membesarkan hati ini.

Akan tetapi, kita juga tidak dapat menutup mata hati kita terhadap sejumlah peristiwa yang menyayat nurani kita. Misalnya, peristiwa Nduga-Papua dan peristiwa pemotongan salib di Yogyakarta. Keadilan bukan sekadar masalah materi saja, melainkan juga keadilan memperoleh rasa aman antarsesama warga Indonesia.

Di sisi lain tahun 2018 ini juga diwarnai oleh serangkaian bencana alam seperti gempa dan tsunami di Lombok, Palu-Parigi-Sigi-Donggala, dan Selat Sunda yang memakan jumlah korban yang tidak sedikit. Tidak hanya korban material, tetapi juga korban jiwa yang menyayat kemanusiaan kita.

Karena itu, melewati tahun 2018 hati dan pikiran serta jiwa kita pun masih dibebani oleh beban psikologis: kekurangnyamanan!  Menghadapi ketidaknyamanan itu tidak jarang orang dapat dengan gampang memilih jalan pintas mencari aman. Bisa juga dengan mengorbankan orang lain. Inilah krisis paling berbahaya yang sedang menyertai kita melewati tahun 2018.

Apalagi kita akan mengawali tahun 2019 dengan peristiwa politik nasional kita: pemilihan anggota DPR dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Kita sudah mulai merasakan hawa panas krisis perpolitikan tahun 2019 itu. Saling fitnah dan berita-berita bohong pun bertebaran di sejumlah media sosial.

Namun, kita tidak boleh kehilangan iman sehingga jatuh ke dalam pilihan berseru bersama Friedrich Nietzsche, ”Allah telah mati.” Pernyataan Nietzsche muncul karena kekalutannya menghadapi krisis sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi bangsa Jerman pada zamannya. Rasa frustrasi Friedrich Nietzsche muncul karena termakan oleh roh rasionalisme zamannya.

Sebagai anak kandung dari pencerahan Nietzsche gagal mengelola emosi sosialnya yang kompleks itu. Ia mengira rasionalisme dapat membantu bangsanya mengatasi krisis sosial-ekonomi. Ia kurang menyadari tentang ambiguitas manusia dan lingkungan sosialnya. Ia lupa Allah itu tetap ada. Rasionalisme yang diandalkannya membuat dia kehilangan kepekaan akan kehadiran Allah yang menyelamatkan dalam situasi yang kompleks itu.

Kompleksitas dan ambiguitas tidak cukup diatasi oleh rasio manusia. Teolog Karl Barth mengingatkan kita bahwa sejatinya iman itu keberanian menghadapi krisis. Iman seperti ini menyadari kompleksitas dan ambiguitas yang ada dalam hati dan pikiran manusia.

Karena itu, sekalipun ada kompleksitas dan ambiguitas, oleh iman kita tetap melihat masa depan yang selalu baru. Kita tidak dibuat putus asa dan kehilangan pengharapan serta perspektif segar dalam menghadapi kompleksitas dan ambiguitas kehidupan sosial sehari-hari. Termasuk kehidupan sosial keindonesiaan kita.

Penulis Surat Ibrani menyatakan: ”Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah” (Ibr. 6:11-12).

Kesaksian iman penulis Ibrani ini menggarisbawahi, betapa pun kompleksitas dan ambiguitas itu selalu menyertai kita, sejatinya kita tidak akan mengambil jalan pintas—baik itu mempersalahkan orang lain atau alam—tetapi terus memastikan bahwa kompleksitas dan ambiguitas itu tidak meruntuhkan kepastian pengharapan akan hari depan yang lebih baik.

Dengan kepastian pengharapan dalam iman itulah, kita dengan gembira kebesaran hati melewati  tahun 2018 dan memasuki tahun  2019. Iman adalah keberanian menghadapi krisis. Oleh iman krisis itu diatasi tanpa menimbulkan krisis baru.

Pada titik ini iman bukan kepasrahan naif, bukan pula kepastian dogmatis yang suka menyalahkan orang lain, melainkan keberanian menghadapi dan kecerdasan mengelola krisis sehari-hari!

Selamat melewati tahun 2018 dan memasuki tahun 2019!

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home