Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:54 WIB | Rabu, 11 Juli 2018

Industri Farmasi, Kosmetik, dan Jamu Didorong Manfaatkan Bahan Baku Alam

Ilustrasi. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (BPPI) Ngakan Timur Antara (kedua kanan), serta Direktur Industri Kimia Hilir Taufiek Bawazier (kedua kiri), meninjau salah satu stan produk jamu pada Pameran Industri Farmasi, Kosmetik, dan Jamu di Kementerian Perindustrian, Jakarta. (Foto: kemenperin.go.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Kementerian Perindustrian mendorong industri farmasi nasional untuk menciptakan produk biofarmasi dengan memanfaatkan sumber bahan baku alam, mengingat potensi besar yang ada di dalam negeri.

“Ke depan, biofarmasi akan menjadi solusi. Untuk itu, kita harus bisa mengoptimalkan kekayaan hayati yang kita miliki. Selanjutnya, riset dan pengembangan yang lebih intens juga harus terus dilakukan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Pembukaan Pameran Industri Farmasi, Kosmetik, dan Jamu di Plasa Pameran Industri, Jakarta, Selasa (10/7).

“Daya saing industri ini akan dipacu dengan menciptakan subsitusi impor dan membangun pabrik bahan baku obat di Indonesia," katanya.

Kemenperin mencatat, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional tumbuh sebesar 6,85 persen pada tahun 2017.

Sedangkan industri bahan kimia dan barang kimia termasuk di dalamnya industri kosmetik dan bahan kosmetik mengalami pertumbuhan sebesar 3,48 persen.

“Industri tersebut pada tahun lalu diketahui memiliki kontribusi sebesar Rp67 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Tanah Air,” kata Airlangga.

Penyelenggaraan Pameran Industri Farmasi, Kosmetik dan Jamu tahun 2018 diikuti 45 peserta yang terdiri atas 22 perusahaan farmasi, 10 perusahaan jamu, dan 13 perusahaan kosmetik. Selain itu, ikut juga dua balai besar milik Kemenperin.

Tujuan ajang yang berlangsung pada 10-13 Juli 2018 ini adalah mempromosikan produk industri farmasi, kosmetik, dan jamu yang telah berkualitas dan sesuai standar agar dapat memperluas pasarnya baik di domestik maupun eskpor.

Menperin meyakini, Indonesia merupakan pasar yang cukup besar dan menjanjikan bagi produsen farmasi, kosmetik dan jamu seiring meningkatnya jumlah populasi penduduk.

“Dengan perkembangan zaman sekarang, industri kosmetik juga memperluas target konsumennya, tidak hanya menyasar kaum wanita saja,” katanya.

Kemudian, adanya tren masyarakat untuk kembali ke alam (back to nature), membuka peluang bagi produk jamu dan kosmetik berbahan alami seperti produk-produk spa yang berasal dari Bali.

“Produk-produk spa ini cukup banyak diminati wisatawan mancanegara. Dengan penguatan branding yang baik, diharapkan produk kosmetik nasional ke depannya dapat mencapai kesuksesan seperti produk-produk kosmetik dari luar negeri,” katanya.

Oleh karena itu, Kemenperin terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing industri tersebut dengan melaksanakan berbagai program dan kebijakan strategis yang memperkuat struktur sektornya.

Misalnya, dengan memasuki era industri 4.0 saat ini, transformasi ke arah teknologi digital dinilai akan menciptakan nilai tambah tinggi di dalam negeri.

“Pemanfaatan teknologi dan kecerdasan digital mulai dari proses produksi dan distribusi ke tingkat konsumen, tentu akan memberikan peluang baru guna dapat meningkatkan daya saing industri dengan adanya perubahan selera konsumen dan perubahan gaya hidup,” katanya. (kemenperin.go.id)

 

Editor : Sotyati

Back to Home