Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 14:27 WIB | Sabtu, 12 Januari 2019

Industri Kereta di Banyuwangi Groundbreaking 24 Januari, Pasok Pasar LN

Ilustrasi. Pekerja mengerjakan pembuatan Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) pesanan PT Kereta Api Indonesia (KAI), di PT Industri Kereta Api (Inka), Madiun, Jawa Timur, Rabu (6/12/2017). (Foto: Antara/Siswowidodo)

BANYUWANGI, SATUHARAPAN.COM  – Industri kereta api (KA) terintegrasi dan terbesar di Indonesia milik PT Inka (Industri Kereta Api) di Banyuwangi bakal menjalankan proses groundbreaking (peletakan batu pertama) pada 24 Januari 2019. Semua persiapan teknis telah rampung dilakukan oleh BUMN perkeretaapian tersebut.

“Alhamdulillah, pihak Inka dan mitranya dari Swiss, Stadler Rail Group, sudah beberapa hari ini di Banyuwangi. Dulu rencana groundbreaking akhir Desember 2018, tapi ternyata masih perlu penyesuaian jadwal karena akan dihadiri beberapa menteri. Semoga ini segera jalan agar menjadi stimulan baru bagi ekonomi Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Jumat (11/1/2019), seperti dilansir situs resmi banyuwangikab.go.id.

Direktur Teknologi dan Komersial PT Inka Agung Sedaju mengatakan, groundbreaking direncanakan pada 24 Januari 2019. “Semua persiapan teknis sudah selesai, kami tinggal menyusun jadwal saja terkait kehadiran Ibu Menteri BUMN untuk memimpin peletakan batu pertama,” kata Agung.

Industri kereta api yang difokuskan menggarap pasar ekspor tersebut dibangun di lahan seluas 84 hektare di Kecamatan Ketapang, Banyuwangi. Pembangunan tahap pertama ditargetkan rampung akhir 2019.

“Awal 2020 isi mesin dan teknologi, pertengahan 2020 mulai produksi. Kami menargetkan bisa memproduksi 4 kereta made in Banyuwangi per hari untuk memenuhi pesanan ekspor,” ujarnya.

Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Daerah

Agung menjelaskan, dalam pengembangan industri kereta api di Banyuwangi ini, pihaknya menggandeng Stadler Rail Group dari Swiss.

“Inka telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan dunia. Namun, hanya sebatas hubungan sebagai supplier dan vendor. Tidak ada yang mau transfer of knowledge. Hal ini berbeda dengan Stadler Rail yang mau membawa teknologi dan pasarnya ke Banyuwangi,” ungkap Agung.

“Jadi nanti semua pesanan kereta, baik pesanan Inka maupun Stadler, diproduksi di Banyuwangi. Inka fokus di pasar Asia seperti Bangladesh, India, Filipina. Sementara pasar Stadler di kawasan Amerika dan Eropa. Termasuk nanti kita incar Afrika. Semuanya diproduksi di Banyuwangi,” Agung menambahkan. 

Dia memproyeksikan industri kereta di Banyuwangi memproduksi berbagai jenis kereta. Seperti kereta Metro, LRV (Light Rail Vehicles), dan beberapa jenis lain. “Kita mampu menyerap tenaga kerja 500 hingga 2.000 orang,” paparnya.

Bupati Anas menambahkan, Banyuwangi berharap kehadiran industri perkeretaapian tak hanya berimbas positif ke ekonomi lokal, tapi juga meningkatkan kualitas sumberdaya manusia daerah.

“Maka kami sangat senang, karena Inka berjanji melibatkan politeknik dan SMK di Banyuwangi agar bisa menghasilkan SDM perkeretaapian yang unggul, yang bisa membanggakan sektor manufaktur Indonesia,” kata Anas.

“Inka juga menyatakan sudah bertemu dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk mendidik SDM di Politeknik Negeri Banyuwangi yang nantinya bisa memenuhi kebutuhan sektor perkeretaapian nasional,” ia menambahkan.

Editor : Sotyati

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home