Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 20:42 WIB | Kamis, 18 Juli 2019

“Infinity”, Pembebasan Pupuk DP Menembus Batas Tak Berbatas

“Infinity”, Pembebasan Pupuk DP Menembus Batas Tak Berbatas
Lukisan berjudul "Dog and Balloons" (kiri) dan “The Cross” (kanan) karya Pupuk DP dalam pameran tunggal "Infinity" di R.S.V.P House, Dusun Janturan Desa Tirtoadi, Mlati-Sleman. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
“Infinity”, Pembebasan Pupuk DP Menembus Batas Tak Berbatas
Tiga karya lukisan Pupuk DP (dari kiri-kanan) Justice, Black Skull, dan Abstrak dalam pameran “Infinity”.
“Infinity”, Pembebasan Pupuk DP Menembus Batas Tak Berbatas
Pintu Nomor 95 – cat minyak di atas linen – 32 cm x 38 cm – Pupuk DP – 2018.
“Infinity”, Pembebasan Pupuk DP Menembus Batas Tak Berbatas
Perupa Bambang Pramudiyanto (kiri) bersama perupa Hari Budiono memperbincangkan karya lukisan Pupuk DP berjudul Almost.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Mengawali aktivasi rumah seni miliknya, RSVP House, Minggu (14/7) siang, Pupuk DP menggelar pameran di tempat dan waktu yang sama. Dua puluh enam lukisan dalam sapuan warna abstrak-ekspresionis dipresentasikan dalam sebuah pameran tunggal bertajuk “Infinity” yang dibuka oleh kolektor karya seni Oei Hong Djien (OHD).

Dalam sambutan pembukaan OHD menjelaskan bagaimana kedekatannya dengan Pupuk DP lebih pada relasi mitra dalam memberikan penilaian, memperbincangkan, atau pembandingan sebuah karya-karya dari seniman.

“Pupuk DP ini pencinta karya. Tidak mudah melepas karyanya. Sejak dulu jika dia punya karya bagus dan ingin saya beli, pasti tidak boleh. Ada satu karya terbaik yaitu Stasiun (Tugu), untuk mendapatkannya saya harus menggunakan strategi yang njlimet. Karena tidak mau dijual. Tapi akhirnya malah diberikan. Saat itu saya ke Amerika-Eropa bersama Nasirun, (Pupuk) bilang Oom Djien saya ikut ya. Saya iyakan. Pas pulang dia tanya, saya harus mengganti (biaya) berapa? Saya yang ndak mau. Akhirnya lukisan itu diberikan kepada saya. Datang sendiri. Kalau nggak, mungkin masih menggantung di rumahnya,” jelas OHD dalam sambutan pembukaan pameran “Infinity”.

Penjelasan OHD tersebut dibenarkan sendiri oleh Pupuk dalam perbincangannya dengan satuharapan.com beberapa waktu lalu di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Dalam sebuah perjalanan, ia sempat tinggal selama dua-tiga bulan di sebuah negara di Asia Tenggara dan berkarya di sana. Seluruh karya yang dibuatnya berjumlah sekitar dua puluhan dipamerkan oleh seorang kolektor dari Singapura. Seluruh karya sold out, namun ada satu karya yang sengaja tidak dijualnya dan dikoleksi sendiri.

“Yang terbaik mau di-keep sendiri (oleh Pupuk). Ini bedanya dengan Widayat. Kalau saya bilang (kepada Widayat), 'Pak, ini bagus', dan saya minta, selalu dikabulkan (oleh Widayat),” kata OHD tentang sikap Pupuk yang selalu berusaha mengoleksi dan menyimpan karya terbaiknya.

Lebih lajut OHD menjelaskan yang menarik dari Pupuk adalah kegemarannya dalam bereksperimen. Saat Pupuk membuat karya hyper-realis abstrak, dia membuat spontan karya-karya abstrak kecil yang kemudian dia foto, dimanipulasi fotonya, dan dipindahkan kembali ke dalam kanvas secara fotografis-realis. Bagi OHD hal tersebut menarik karena itu suatu hal yang baru, yang pertama kali dipamerkan ke dirinya.

“Tapi kalau diamati lebih jauh, justru karya aslinya yang spontan dan kecil itu lebih wantek dibanding karya (eksplorasi lanjutan) yang (berukuran) besar,” tutur OHD mengomentari karya-karya Pupuk yang baru pertama kali dipamerkan dalam “Infinity”.

Kurator pameran Hendra Himawan menjelaskan karya lukisan yang dipajang dalam pameran tersebut merupakan karya-koleksi Pupuk DP yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

“Karya lukisan yang dipamerkan menjadi semacam karya master Pupuk DP bagi karya-karya berikutnya dan belum pernah dipamerkan. Semacam skets awal namun dalam bentuk karya lukisan yang sudah selesai. Masih banyak karya yang belum dipublikasikan untuk umum. Semua tersimpan rapi. Karya-karya tersebut menjadi sumber ide-inspirasi bagi karya-karya berikutnya,” jelas kurator pameran Hendra Himawan kepada satuharapan.com, Minggu (14/7).

Jika dalam berbagai pameran tunggal maupun pameran bersama Pupuk kerap mempresentasikan karya-karya landscape, surealisme-ekspresif, dalam pameran “Infinity” lebih banyak mempresentasikan karya-karya abstrak bahkan hyper abstrak.

Sebuah lukisan berukuran 167 cm x 230 cm berjudul Dog and Balloons dalam medium cat minyak di atas linen yang dipajang di ruang depan bersebelahan dengan karya berjudul The Cross, adalah eksplorasi dari karya master berjudul Head berukuran 40 cm x 50 cm.

Begitupun dengan karya berjudul The Cross dalam beberapa layer warna berukuran 167 cm x 230 cm pengembangan dari karya dengan judul yang sama dalam ukuran 94 cm x 138 cm dalam sapuan warna monochrome. Karya The Cross sendiri menjadi inspirasi lahir karya dengan judul yang sama dalam dimensi dan citraan visual yang hampir sama atau berbeda sama sekali.

Dari karya kecil Pupuk berjudul Sosok Hitam dalam medium cat minyak di atas linen berukuran 40 cm x 60 cm lahir sebuah karya lukisan eksplorasi-interpretasi ulang dari Sosok Hitam berukuran 167 cm x 212 cm dalam cat minyak di atas linen berjudul Last Man Standing.

Karya berjudul Abstrak (landscape) dalam medium cat minyak di atas linen berukuran 40 cm x 50 cm mengalami sentuhan ulang menjadi karya senada berukuran 2 x 1,7 meteran yang dipajang di ruang tamu RSVP House berseberangan dengan karya The Cross  dan Dog and Balloons. Sementara sentuhan ulang karya Abstrak (landscape) dalam ukuran yang hampir sama (40 cm x 50 cm) dalam citraan visual gradasi warna hitam-biru berjudul Pantai tidak turut dipajang dalam pameran “Infinity”.

Infinity, Sebuah Jalan Pembebasan

Meminjam istilah OHD dipindahkan kembali ke dalam kanvas secara fotografis-realis, ada benang merah menarik dalam tajuk pameran ”Infinity” dengan trauma-tragedi yang pernah dialami Pupuk DP dengan matanya serta perjalanan berkaryanya.

Mata bagi seniman seni rupa adalah pintu masuk bagi imajinasi, ide, inspirasi, untuk diekspresikan ke dalam proses karyanya. Pupuk DP mengalami gangguan keterbatasan penglihatan sejak kecil. Saat penglihatan terancam, justru menjadi pemacu bagi Pupuk hingga mampu menghasilkan imajinasi yang sedemikian liar dan kaya di balik keterbatasan tersebut.

Dalam dunia fotografi sendiri dikenal istilah fokus tanpa batas atau tak terhingga (infinity focus), sebuah kondisi pada lensa yang diperuntukkan memfokuskan objek jarak jauh dalam skala besar. Teknik ini sering digunakan seperti saat memotret pemandangan (landscape), pemandangan sebuah kota di malam hari, perayaan dengan kembang api di udara, ataupun memotret benda-benda luar angkasa seperti penampakan Galaksi Bima Sakti agar terlihat jelas semua.

Agar dihasilkan foto dengan fokus objek terlihat jelas semua biasanya dibarengi dengan bukaan lensa yang sempit agar dihasilkan kedalaman gambar (depth of field) yang lebar, serta memerlukan kestabilan kamera dari guncangan. Dalam kondisi yang steady itulah sebuah foto dengan objek yang keseluruhannya terlihat jelas dan detail bisa dihasilkan.

Dalam ketidak-steady-an saat membuat karya master, Pupuk tentu dituntut dalam sebuah kondisi yang sesungguhnya relatif stabil. Pilihannya adalah membebaskan seluruh yang ada dalam pikiran-benaknya. Dalam istilah Hendra Himawan adalah kebanyakan berpikir (kakehan mikir) atau tidak berpikir sama sekali (ra mikir blas), yang justru memungkinkan Pupuk untuk melewati sebuah proses pengendapan tanpa harus mengikat kebebasan pikiran pada satu titik. Bisa ditebak, hasilnya adalah sebuah proses yang kaya warna dalam pola yang sangat acak dan menyimpan/menyentuh sisi-sisi transendental, untuk tidak menyebutnya dengan istilah misterius.

Dalam proses tersebut, karya-karya yang dihasilkan dengan detail-detail visual artistik-estetik bisa terwujud bahkan dalam dimensi yang kecil, meminjam istilah OHD karya aslinya yang spontan dan kecil itu lebih wantek dibanding karya yang besar.

Dalam catatan kuratorialnya Hendra Himawan menuliskan bahwa  bagi Pupuk DP, lukisan abstraknya bukan bentuk penolakan terhadap dunia material, seperti yang sering dipikirkan, tetapi pemenuhan spiritualnya, yang sakral. Media untuk mengekspresikan kedalaman material, yang beresonansi langsung dengan jiwanya.

“Ekspresi resonansi sakral inilah (apa yang disebut Pupuk DP sebagai insight) dengan cat dalam warna, sejalan di dalam bentuk,” tulis Hendra.

Menurut Hendra pernyataan-pernyataan ini sangat mendukung pembacaan atas karya abstrak Pupuk DP, sekaligus urgensi gagasan transendensi dalam seni. Teori abstrak awal yang diajukan yang dipraktikkan olehnya relevan dalam wacana seni abstrak kontemporer. Dengan berfokus pada sarana internal dan eksternal untuk menciptakan seni, ia secara aktif menciptakan bentuk seni abstrak yang dapat mengakses perasaan dan emosi di dalam dunia eksternal

“Karya abstrak (yang dibuat Pupuk sebagai karya master) memperbincangkan hal-hal paling jujur,” jelas Hendra kepada satuharapan.com mengakhiri perbincangan singkatnya di RSVP house, Minggu (14/7) siang.

Menarik, menunggu eksplorasi Pupuk berikutnya: tetap membebaskan tidak terikat pada satu titik ataukah justru mengendapkannya lagi.

Jika Anda ingin melihat karya yang sedang dipresentasikan dalam pameran tunggal Pupuk DP bertajuk “Infinity” yang sedang dihelat di RSVP house, Anda bisa membuat janji di nomor 0823-3538-8603, atau melalui surel jasminepenta@yahoo.com.

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home