Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 16:15 WIB | Rabu, 28 November 2018

Inggris-Belanda Denda Uber Rp17,4 M Terkait Peretasan Data

Situs Uber pada sebuah smartphone di London, 22 September 2017. (Foto: VOA).

LONDON, SATUHARAPAN.COM - Badan-badan pengawas informasi Inggris dan Belanda telah menjatuhkan denda sebesar 1,2 juta dolar AS (setara Rp 17,4 miliar) terhadap perusahaan layanan antar jemput Uber karena dianggap tidak mengambil tindakan pengamanan yang memadai untuk melindungi data pribadi para pelanggannya dari serangan siber.

Denda itu terkait dengan peretasan data Uber pada 2016 yang memungkinkan para penyerang mengunduh informasi akun 32 juta pelanggan Uber di berbagai penjuru dunia, termasuk 2,7 juta pelanggannya di Inggris.

Informasi yang berhasil diretas termasuk nama lengkap, nomor ponsel, alamat email, dan sejumlah password pelanggannya. Informasi mengenai 3,7 juta pengemudi Uber, 82.000 di antarnya di Inggris, juga diretas para penyerang.

Badan Pengawas Informasi Inggris (ICO) mengatakan, peretasan itu merupakan akibat dari serangkaian cacat pengamanan yang sebetulnya bisa dihindari.

"Ini tidak hanya kegagalan serius pengamanan data di pihak Uber, namun juga wujud ketidakperdulian Uber terhadap pelanggan dan pengemudi yang informasi pribadinya dicuri,” kata Direktur Investigasi ICO, Steve Eckersl.

"Mereka tidak memberi tahu siapapun yang informasi pribadinya dicuri. Mereka juga tidak memberikan bantuan dan dukungan. Uber membiarkan para pelanggan dan pengemudinya terekpos begitu saja.”

Uber melalui sebuah pernyataan mengatakan, senang bisa mengakhiri insiden peretasan data 2016. Perusahaan itu mengatakan, sebagaimana diungkapkan kepada pihak berwenang Eropa, Uber telah melakukan sejumlah perbaikan teknis terhadap sistem keamanannya.

Investasi Toyota

Sebelumnya Toyota berencana menanamkan investasi $500 juta di perusahaan layanan taksi online, Uber, sebagai bagian dari kesepakatan kedua perusahaan untuk bekerja sama mengembangkan kendaraan swa kemudi.

Toyota, salah satu pembuat mobil terbesar di dunia, dianggap tertinggal dari perusahaan lain, termasuk General Motors dan Google Waymo, dalam persaingan kendaraan swa kemudi.

Uber sebelumnya sudah menguji coba kendaraan swa kemudi. Tetapi pada Maret lalu terpaksa menarik kendaraan buatannya dari pasaran, setelah salah satu kendaraan uji cobanya menghantam dan menewaskan pejalan kaki di Tempe, Arizona.

Kesepakatan antara Uber dan Toyota merupakan indikasi Uber tidak ingin menciptakan sistem penggerak swa kemudi yang rumit, sendirian.

Mobil swa kemudi tetap penting bagi Uber, yang menganggapnya sebagai cara penghematan biaya saat melayani penumpang. Mantan CEO Uber Travis Kalanick bersikeras mengembangkan sistem swa kemudi sendiri, namun CEO Uber saat ini, Dara Khosrowshahi, sudah mengupayakan kemitraan yang lebih banyak untuk perusahaan itu.

Uber sudah melakukan evaluasi keselamatan sejak kecelakaan Maret yang menewaskan seorang perempuan berusia 49 tahun, ketika ia mendorong sepedanya menyeberang jalan. Juli, Uber meluncurkan kembali uji coba kendaraannya di Pittsburgh dan menjalankan mobil-mobil swa kemudinya secara manual.

Toyota berhati-hati dalam pendekatannya pada kendaraan swa kemudi dan memusatkan perhatian pada sistem swa kemudi sebagian. Namun, perusahaan itu berencana untuk mulai menguji coba mobil listrik swa kemudi sekitar 2020.

Kedua perusahaan bekerja sama untuk mengatasi tantangan besar bagaimana merancang dan memproduksi mobil swa kemudi secara massal, yang menggunakan komputer, kamera, dan sensor untuk mengarahkan kendaraan. (VOA)

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home