Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 16:45 WIB | Selasa, 22 Juli 2014

Ir Robert Robianto: BPK Penabur Menjawab Tantangan

Ir Robert Robianto, Ketua BPK Penabur Jakarta. (Foto: Sotyati)

SATUHARAPAN.COM – Badan Pendidikan Kristen (BPK) Penabur genap berusia 64 tahun pada 19 Juli. Dalam rentang usia perjalanan yang sudah matang, sejumlah prestasi berhasil ditorehkan badan pelayanan pendidikan milik Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah Jawa Barat.

Pada Ujian Nasional 2014, Felix Utama, salah satu siswanya, masuk urutan keenam lulusan terbaik tingkat nasional jurusan IPA. Untuk rata-rata sekolah, SMAK 1 (Tanjung Duren), SMAK 3 (Gunung Sahari), dan SMAK 4 Cipinang Indah, meraih peringkat 1, 2, dan 3 jurusan IPA tingkat DKI Jakarta.

Pada sisi lain, tantangan ke depan tidaklah semakin ringan, seperti diakui Ketua BPK Penabur Jakarta Ir Robert Robianto. Dari sekolah Penabur yang tersebar di 15 kota di negeri ini, hanya dua yang berkategori surplus, yang harus mensubsidi sekolah yang lain di kota-kota kecil, dengan jumlah murid yang tidak sedikit.

Tantangan berat lain menghadang di depan, dalam wujud persaingan dengan sekolah-sekolah baru yang didanai pemodal besar. Kompetisi tak kalah berat adalah harus bersiap menghadapi sekolah luar negeri yang diizinkan menyelenggarakan sekolah di Indonesia tahun mendatang.

Berkaitan dengan ulang tahun tersebut, satuharapan.com berbincang-bincang dengan Robert Robianto belum lama ini, tentang tanggung jawab dan tantangan BPK untuk terus berkembang mengemban visi dan misinya.

Berikut petikan wawancaranya.

Satuharapan.com: Apa bedanya mengelola sekolah Kristen dan sekolah umum atau sekolah negeri?

Robert Robianto: Dari segi pengelolaan sebetulnya tidak boleh ada bedanya. Namun, begitu disebut sekolah Kristen, di samping akademik dan cara mengajar, tentu ada ciri khas Kristennya. Itu menyangkut juga tanggung jawab kami untuk bisa memberi pendidikan kepada semua orang, termasuk kaum marjinal. Seperti itu cita-citanya.

Beban sekolah Kristen adalah tanggung jawab sekaligus panggilan, yang kadang-kadang malah menjadi bumerang. Salah sedikit saja langsung datang tudingan, kok sekolah Kristen begitu? Padahal, secara umum, bagaimanapun, mengelola sekolah itu selalu ada masalah. Bergantung pada bagaimana kita menyiapkan diri tatkala musibah atau gangguan itu datang.

Saya selalu melihat kembali ke kasus yang menimpa Jakarta International School, JIS (dilanda kasus pelecehan seksual, Red). Kita lihat semua kesalahan langsung ditimpakan ke JIS, padahal saya yakin JIS juga tidak mau seperti itu.

Melihat kejadian seperti itu, kami mempersiapkan diri agar hal seperti itu tidak terjadi. Kalaupun terjadi suatu masalah, kita punya prosedur apa untuk mengatasinya? Jadi, asal semua sudah diantisipasi, dan jajaran di operasional sudah dilatih, seharusnya mengelola sekolah mana pun tidak berbeda jauh. Itu aspek pertama.

Aspek kedua, orangtua murid atau siswa yang dilayani. Mengapa siswa pergi ke sekolah kami, dan bukan ke sekolah negeri atau sekolah umum? Keputusan itu ada di siswa ataupun orangtua. 

Berdasarkan survei dari lembaga survei bereputasi internasional, orangtua murid mengirim anak mereka ke sekolah kami karena sarana dan prasarana, baru kemudian prestasi akademik, reputasi, dan lain-lain. 

Lalu, bicara Penabur sendiri, kami ingin memberikan pendidikan Kristen kepada banyak orang. Supaya makin banyak orang bisa menikmati pendidikan kami, kami membuka sekolah di banyak tempat, agar orang tidak harus ke BPK Penabur Tanjung Duren di Jakarta Barat, atau ke BPK Penabur Gunung Sahari di Jakarta Pusat.

Kami menjemput bola. Kebetulan ada beberapa pengembang melihat kehadiran kami adalah salah satu daya tarik bagi calon pembeli rumahnya, sehingga kami sering sekali mendapatkan penawaran dengan harga khusus, harga sosial. Kami bersinergi dengan pengembang.

Satuharapan.com: Soal branding, sekolah-sekolah Penabur identik dengan sekolah mahal. Lalu bagaimana dengan cita-cita memberi pendidikan kalangan marjinal?     

Robert Robianto: Mengapa orang berpersepsi sekolah kami sekolah mahal itu karena belum mengerti pendidikan itu memang memerlukan biaya. Mahal atau murah, relatif. Orang mengatakan sekolah kami sekolah mahal, namun buat market kami, mereka bisa mengusahakan.

Kalau mengikuti standar UNESCO, Badan Pendidikan Dunia, tentang biaya yang dikeluarkan keluarga untuk pendidikan, Indonesia masih sangat rendah. Namun, banyak keluarga di sini yang sudah mampu mengikuti standar UNESCO.

Penabur dikatakan mahal, itu adalah keniscayaan. Supaya orang makin percaya sesuai penawarannya. Pertanyaannya, bagaimana dengan si papa? Di sekolah kami, di tengah kota, juga ada anak yatim piatu, anak-anak dari panti asuhan.

Dari sekolah Penabur yang tersebar di 15 kota, hanya dua yang surplus. Kami harus mensubsidi sekolah yang lain, di kota-kota kecil, yang muridnya banyak sekali.

Penabur juga membantu mereka yang terkena musibah, misalnya tsunami seperti terjadi di Aceh, Desember 2004. Di Aceh, sekolah-sekolah Metodis sampai sekarang masih kami bantu. Di Nias, kami mendirikan sekolah. Demikian juga kami membantu sekolah-sekolah di Jawa. Semua uang yang kami dapat, berupa uang sekolah atau uang pangkal, tidak ke kantong kami, pengurus, juga tidak ke kantong gereja kami, itu semua kami pakai untuk operasional. Lebih dari 60 persen itu untuk bayar gaji guru dan kebutuhan guru-guru lain.

Uang pangkal, terpaksa sebagian untuk operasional tambahan, untuk memelihara gedung, untuk persiapan-persiapan. Untuk masuk menjadi guru di Penabur, contohnya, harus terlebih dulu masuk Penabur Learning Center, pendidikan khusus untuk guru. Mereka disiapkan dengan benar-benar selama enam bulan. Itu memerlukan dana.

Sekali lagi, keinginan kami adalah bagaimana dapat mempertahankan sekolah ini supaya tetap baik, supaya menjadi tempat menyediakan pendidik yang baik. Bagaimanapun tetap saja ada pendidik yang tidak baik, juga ada orangtua yang tidak baik. Tapi, itu semua bagian dari sesuatu yang harus kita alami.

Satuharapan.com: Bagaimana strategi menangkal kecemburuan-kecemburuan?   

Robert Robianto: Persepsi eksklusif itu yang harus dielaborasi. Saya tidak tahu apakah sekolah Penabur ini dinilai sebagai sekolah eksklusif? Karena pada kenyataannya, yang lebih mahal daripada Penabur juga banyak.

Kami juga selalu menyesuaikan diri dengan sekitar, tentang daya beli dan juga reputasi. Kepada yang tidak mampu, di mana pun selama akademiknya baik, kami memberikan keringanan.

Di sekolah-sekolah kami ada CSR, corporate social responsibility. Anak-anak itu pada periode-periode tertentu dilatih soal leadership, soal caring (berbagi) kepada community. Ada pelajarannya, dan itu menurut saya inti iman Kristen.

Misalkan, ketika tsunami terjadi baik di Aceh dan terakhir di Mentawai, begitu kami umumkan, anak-anak kami pun langsung menyisihkan uang saku. Ratusan juta rupiah terkumpul. Itu cerminan pendidikan kami berhasil. Sebagai anak-anak yang diberkati, kami mengajak untuk tidak melupakan saudara-saudara yang susah, apalagi yang sedang terkena musibah.

Kegiatan mencintai lingkungan juga tidak pernah mereka lupakan, contohnya dalam bentuk bikin bazar murah untuk lingkungannya.

Di tingkat yayasan, kami juga punya program seperti itu. Kami istilahkan berbagi ruang. Artinya, ruang yang kami miliki itu kalau kami bagikan, tidak akan habis juga, malah berkatnya bertambah besar, dengan kami  punya teman baru, dan lain sebagainya. Itu juga sudah dicanangkan oleh gereja, Gereja Kristen Indonesia, sebagai pemilik BPK Penabur. 

Satuharapan.com: Apa strategi bertahan di tengah berbagai gempuran dengan branding sebagai sekolah Kristen dari segi sumber daya manusia?

Robert Robianto: Karena kami membuka sekolah cukup banyak, ada lebih kurang 150 guru dan karyawan baru setiap tahun, itu cuma untuk BPK Penabur Jakarta. Untuk itu guru-guru kami siapkan secara khusus.

Ada strategi-strategi lain. Pembukaan sekolah-sekolah baru di kompleks-kompleks perumahan itu strategi kami. Itu menjemput bola, kami pergi ke tempat di mana kebetulan banyak guru kami bertempat tinggal di sana, sehingga mereka lebih dekat ke sekolah. Artinya, banyak guru bagus kalau kami membuka satu sekolah. Paling banter guru barunya 20 persen.

Standarnya harus standar Penabur. Bahkan salah satu kepala sekolah terbaik di tempatkan di sekolah baru itu, karena setting up pertama sebuah sekolah itu sangat krusial. Sekali sekolah itu kehilangan nama, akan ditinggalkan stakeholder-nya.

Kita ingat di Yogyakarta dulu ada sekolah BOPKRI. Dari ratusan sekolah, sekarang tinggal belasan. Tutup. Tidak bisa hidup. Kembali lagi, harus punya sarana yang baik. Punya sumber daya manusia yang baik saja, belum cukup.

Jadi, kami mempersiapkan itu semua dengan baik. Itu sebabnya di Penabur ini sebuah sinergi dari tim operasional, yang melaksanakan guru dan kepala sekolah, itu ujung tombak kami. Di belakang itu ada tim pendukung yang kami bilang sekretariat, yang di Jakarta saja jumlahnya lebih dari 250 orang. Mereka yang menyiapkan kebersihan gedung, keamanan, pemeliharaan, yang tidak mungkin kami serahkan ke kepala sekolah, karena akan mengganggu konsentrasinya untuk melayani.

Itu back office-nya. Belum termasuk bagian komputer dan bagian keuangan. Bahkan untuk penerimaan murid pun kami siapkan program-programnya. Kami khusus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru. Tapi, untuk hal-hal lain kami ingin guru dibebaskan dari tanggung jawab. Untuk itu kami memerlukan biaya untuk operasional.

Lalu, ada orang seperti saya, yang namanya pengurus, berganti setiap empat tahun sekali. Orang-orang seperti kami ini adalah orang-orang yang bisa memberi masukan-masukan, mengingat kami datang dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, manajemen, yang bisa memberi masukan.

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
7 Dasawarsa BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home