Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 05:31 WIB | Rabu, 23 Mei 2018

Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Sebuah Peradaban

Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Sebuah Peradaban
Pameran tunggal "Iron Cocoon" karya Amin Taasha berlangsung hingga 7 Juni 2018 di Galeri Fadjar Sidik FSR-ISI Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Sebuah Peradaban
Pengajar Seni Rupa ISI Yogyakarta Mikke Susanto (kiri) dan perupa Nasirun saat mengamati karya-karya Amin Taasha sambil mendengarkan ilustrasi musik yang mengiringi.
Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Sebuah Peradaban
Waiting for the Full Moon - cat air, akrilik, tinta, cat emas-perak di atas kertas - 120 x 45 cm - Amin Taasha - 2018.
Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Sebuah Peradaban
When the Sun goes down - cat air, akrilik, tinta, cat emas-perak di atas kertas - 120 x 45 cm - Amin Taasha - 2018.
Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Sebuah Peradaban
Karya videografi-instalasi Amin Taasha di tengah ruang pamer Galeri Fadjar Sidik.
Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Sebuah Peradaban
Amin Taasha (tengah) memberikan penjelasan karya kepada seorang pengunjung.
Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Sebuah Peradaban
Untitled #3 - mix media, cat emas-perak di atas kertas buku/kitab bekas - 13 cm x 19 cm - Amin Taasha - 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Buddha Bamyan, dua patung Buddha raksasa yang diukir pada sebuah tebing di lembah Bamyan, Afghanistan Tengah berjarak sekitar 130 km arah barat laut ibukota Afghanistan, Kabul. Satu patung bertinggi 115 kaki dan satunya lagi dengan tinggi 174 kaki. Kedua patung tersebut diukir pada tebing batu pasir sekitar abad ke-5 silam merupakan pahatan Buddha terbesar di dunia.

Dengan lapisan yang terbuat dari lumpur, jerami, dan plesteran, meskipun diukir langsung pada tebing lembah namun tetap memiliki detail. Kedua patung memiliki serangkaian lubang yang digunakan untuk menstabilkan plesteran dengan bantuan pasak kayu.

Di masa lampau, Lembah Bamyan termasuk kedalam Jalur Sutra (silk road) yang menghubungkan perdagangan antara Asia Selatan, Asia Tengah, Tiongkok hingga ke Kekaisaran Romawi.

Lembah Bamyan menjadi persinggahan dan peristirahatan para pelancong, pedagang dari Tiongkok, penganut Buddhisme yang kemudian mendirikan biara-biara, tempat pertapaan, termasuk ritus peribadatan yang unik-rumit dengan corak Buddha. Hingga abad ke-13 wilayah lembah Bamyan menjadi saksi bagaimana lanskap budaya dan peninggalan arkeologis Buddhisme di Afganistan.

Dalam catatan ensiklopedia Britannica, Bamyan pertama kali disebutkan dalam sumber-sumber manuskrip Cina abad ke 5, dan diketahui dikunjungi oleh para biksu Buddha Tiongkok dan pelancong asal Faxian dan Xuanzang. Saat itu, tempat ini juga menjadi pusat perdagangan di Jalur Sutra dan basis Buddhisme.

Saat Aurangzeb dari Kekaisaran Islam Mughal datang pada abad ke-17 di kawasan Bamyan, mereka sempat mengarahkan persenjataan beratnya ke patung-patung besar Buddha sebagai upaya merusak dan menghancurkannya. Ini menjadi catatan pertama dalam sejarah tentang upaya pengrusakan patung oleh suatu kelompok.

Memasuki abad ke-19, Raja Nader Afhsar dari Persia mendatangi kawasan lembah Bamyan dan mengarahkan meriam-meriamnya untuk menembaki patung besar yang menempel di tebing Bamyan. Selaku raja Afghanistan, Abdur Rahman Khan dalam sebuah operasi militer di akhir tahun 1880-an saat memerangi penganut Syiah di Hazara, melakukan penghancuran dengan menyasar wajah patung Buddha di lembah Bamyan.

Ketika Republik Islam Afganistan berdiri dan kelompok militan Taliban berkuasa di negara tersebut, patung-patung peninggalan peradaban Buddha di Bamyan kembali menjadi incaran kuat untuk dihancurkan.

Dalam esainya yang berjudul “Why the Buddhas of Bamian were Destroyed” , Michael Semple menyebutkan bahwa Abdul Wahed, seorang komandan Taliban yang beroperasi di daerah Bamyan, telah mengumumkan niatnya untuk meledakkan patung Buddha pada tahun 1997.

Bulan Maret 2001, patung-patung Buddha warisan peradaban Buddha Afganistan untuk dunia ini benar-benar dihancurkan dengan restu dari Mullah Omar. Berbeda dari upaya penghancuran yang pernah dilakukan dan masih menyisakan sebagian besar tubuh patung, Taliban pada 2001 lalu benar-benar menghancurkan secara keseluruhan dari patung hingga ke mata kaki.

Di tebing Bamyan kini, praktis hanya ada ceruk kosong yang sebelumnya diisi sosok patung Buddha raksasa tertinggi di dunia.

Iron Cocoon, Rekaman Terkoyaknya Peradaban Sebuah Bangsa

"Afghanistan adalah sebuah tempat yang penuh dengan cerita dan konflik sejak dulu kala. Entah sudah berapa banyak jasad raja-raja dan kerajaan yang terkubur di bawah tanah Afghanistan. Afghanistan yang dulu, kini telah berganti wajah, dan tidak banyak yang peduli dengan sejarahnya. Orang-orang membangun rumah, menggali tanah untuk pondasi, menemukan keramik-keramik atau situs bersejarah lalu menghancurkannya atau menjualnya. Sebagian merusak atau menjual artefak karena tidak mengetahui nilainya, sebagian lagi justru sangat paham akan nilainya." Kalimat dengan nada getir dituliskan oleh Amin Taasha, perupa muda dari etnik Hazara kelahiran Bamyan-Afghanistan yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Amin Taasha memamerkan karyanya dengan gaya “abstrak-miniatur” yang unik, yang dipresentasikan bersama komposisi audio, tulisan, video dan karya instalasi. Karya abstrak-miniatur dengan figur-figur manusia menjadi salah satu ciri seni rupa timur tengah. Dan keseluruhan karya Amin bercerita tentang drama kegetiran bangsanya. Pameran tunggal bertajuk "Iron Cocoon" yang berlangsung di Galeri Fadjar Sidik FSR-ISI Yogyakarta dibuka pada Selasa (22/5) sore

Sepuluh lukisan dengan tinta cina, cat akrilik, cat air, cat perak-emas, di atas kertas dipamerkan bersamaan dengan ilustrasi musik garapan Vanja Dabic. Drama kehidupan di tanah kelahirannya direkam dalam medium kertas dan dengan iringan ilustrasi musik yang menyertainya, kegetiran tersebut semakin menyengat kepala pengunjung manakala karya lukisan Amin yang didominasi dengan warna hitam-emas/perak di atas kertas coklat yang membawa nuansa kemuraman dengan sesekali disertakan ornamen warna merah disuguhkan dalam sebagian besar figur-figur manusia tanpa kepala.

Pada banyak karya lukisan patung Buddha-nya, Amin kerap membuat lukisan patung dengan kepala yang terpisah entah terjatuh di tanah, dibawa sayap-sayap malaikat, ataupun dicengkeram burung gagak kematian.

Dalam lukisan berjudul "Forbidden", Amin melengkapi dengan tulisan kaligrafi berbahasa Persia, rombongan kuda yang berkejaran, kepala patung Buddha yang melayang dalam ancaman meriam dan mortir, seorang pendoa di ujung tebing dalam pantauan sekelompok elang di atasnya, dan intaian kematian burung gagak. Kesemuanya dibangun di atas bangunan emas peradaban yang sewaktu-waktu sirna karena pertarungan kekuasaan. Terlarang bagi sebagian kelompok manusia karena tafsir kebenaran yang berbeda akankah membenamkan peradaban manusia dan nilai kemanusiaan itu sendiri? Realitasnya, atas nama tafsir kebenaran yang diterjemahkan dalam berbagai bentuk pelarangan, hari-hari ini kita banyak disuguhi drama kehancuran dan kematian di berbagai belahan dunia.

Kegetiran juga terekam dalam lukisan "When the Sun Goes Down". Empat figur manusia dengan kepala yang terlepas melayang di angkasa yang dibawa burung-burung elang-gagak. Di bagian ujung sesosok figur bersayap dengan angkuhnya bersedekap mengawasi. Sebuah potret senja kematian?

Apakah karya Amin melulu didasarkan pada perekaman tragedi patung Buddha Bamyan? Pada sepuluh karya lukisannya berjudul "Untitled #1-#10", Amin membuat karya di atas kertas bekas buku pelajaran bertuliskan huruf arab berbahasa Parsi dalam ukuran 13 cm x 19 cm. Bisa jadi pembacaan Amin bahwa kertas-kertas buku/kitab pun telah berubah hanya sebatas artefak yang indah untuk dijadikan medium karya. Jika hal tersebut yang terjadi, kritik Amin menukik pada realitas kesadaran bersejarah serta budaya literasi bangsanya yang terus memudar terlepas saat ini telah terjadi cara baca yang berubah akibat perkembangan teknologi. Memudarnya kesadaran sejarah maupun budaya literasi menjadi pintu masuk bagi tersisih bahkan hilangnya peradaban sebuah bangsa.

Sebuah karya videografi-instalasi terpajang di tengah ruang pamer dengan (lagi-lagi) patung Buddha dengan kepala melayang diterbangkan seekor burung di langit-langit ruang pamer. Di lantai ruang pamer persis di depan patung Buddha, video dokumenter tentang proses kehancuran patung Buddha Bamyan memberikan ilustrasi-narasi bagaimana sebuah kehancuran artefak peradaban di lembah Bamyan berlangsung. Karya instalasi dengan tema yang hampir sama terpajang di beberapa pojok ruang pamer Galeri Fadjar Sidik ISI Yogyakarta. Suasama kegetiran, kemarahan, duka, nestapa, semakin terasa manakala Amin mengubah warna dinding ruang pamer menjadi merah.

Nuansa hitam-emas, karakter-karakter miniatur, imaji asap, dan lumpur sengaja dipilih Amin; tidak melulu didasarkan pada pertimbangan artistik, melainkan difungsikan sebagai idiom storytelling tentang sejarah kelam suku-bangsanya.

Sebagai catatan, Afghanistan adalah salah satu negara di kawasan Parsi, Timur Tengah, yang terkoyak-robek oleh peperangan antar ethnis dan negara sejak akhir abad ke-20, 1930-an, mulai lagi tahun 1980-an, dan 1990-an; meninggalkan banyak konflik dan mata-rantai balas-dendam yang berkepanjangan sampai sekarang.

Karena kekerasan yang begitu seringnya terjadi, banyak orang di Afghanistan yang mengatakan ‘salam perpisahan’ secara khusus, seakan mengatakan ‘good bye’ sebagai ucapan pamitan yang terakhir. Sebab, dalam situasi dewasa ini, teror dan aksi brutal dapat terjadi kapan saja. Karena itulah Amin sering membayangkan bahwa hidupnya kini sangat itu mirip dengan daun di mana saja, yang mengering dan gugur ditempat dimana pohon itu berada. Ia selalu ingat akan kisah tragis orang-orang Hazara yang terusir dari kampung-halamannya sendiri, tinggal di negeri orang, sebagai pengungsi, lalu mati, dan terlupakan. Dalam banyak kasus, banyak orang Hazara yang terlupakan, seakan tidak pernah ada. Pengalaman itulah yang terekam dalam karya-karya Amin Taasha.

Pameran tunggal "Iron Cocoon" akan berlangsung hingga 7 Juni 2018 di Galeri Fadjar Sidik FSR-ISI Yogyakarta.

 
Back to Home