Loading...
DUNIA
Penulis: Melki Pangaribuan 12:28 WIB | Jumat, 22 Mei 2015

ISIS Kuasai Penuh Seluruh Palmyra

File foto ini dirilis pada Minggu, 17 Mei, 2015, oleh kantor berita resmi Suriah SANA, menunjukkan pandangan umum dari kota kuno Romawi Palmyra, timur laut Damaskus, Suriah. (Foto: AP)

PALMYRA, SATUHARAPAN.COM - Militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah menguasai penuh kota kuno bersejarah Palmyra, Suriah pada hari Kamis (21/5). Sebelumnya, lima hari lalu kota Ramadi Ibu Kota Provinsi Anbar, Irak juga telah direbut ISIS.

Dua keberhasilan ISIS menguasai kota-kota penting ini tidak hanya menekan pemerintah Damaskus dan Baghdad tetapi juga memunculkan keraguan atas strategi Amerika Serikat yang mengandalkan hampir secara eksklusif serangan udara melawan ISIS.

“AS dan pasukan koalisi telah melakukan 18 serangan udara terhadap sasaran ISIS di Suriah dan Irak sejak Rabu (20/5),” kata militer AS, seperti dilansir reuters.com, Jumat (22/5).

Observatorium HAM Suriah yang berbasis di Inggris mengatakan cabang Al Qaeda itu kini sudah menguasai lebih dari setengah wilayah negara Suriah, setelah lebih dari empat tahun konflik yang berkembang, berawal dari demonstrasi penolakan Presiden Bashar al-Assad.

Rami Abdel Rahman direktur Observatorium HAM Suriah mengatakan bahwa ISIS telah merebut perbatasan terakhir antara Suriah dan Irak yang dikendalikan oleh pemerintah Damaskus. Perbatasan ini terletak di provinsi Homs Suriah, di mana Kota Palmyra berada.

Para militan Muslim Sunni juga telah mengkonsolidasikan cengkeraman mereka di kota Sirte Libya, kota kelahiran mantan pemimpin Muammar Gaddafi.

Gedung Putih mengatakan dikuasainya Palmyra merupakan sebuah kemunduran dari koalisi pimpinan AS dalam menumpas ISIS. Tapi juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan Presiden Barack Obama tidak setuju dengan usulan Partai Republik yang mendesak dia supaya mengirim pasukan darat untuk melawan militan Islam itu.

Pemerintahan Obama juga telah menyatakan di depan publik bahwa keyakinannya pada Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi dalam mengatasi situasi di Irak, namun beberapa pejabat AS meragukan kemampuannya dalam menjembatani kesenjangan sektarian (Syiah-Sunni).

ISIS dalam pernyataan yang diunggahnya di Twitter menerangkan bahwa mereka sudah menguasai seluruh wilayah Palmyra, termasuk pangkalan militernya, yang sebelumnya dikontrol militer Suriah dan pasukan sekutu.

Kantor HAM PBB di Jenewa mengatakan 200.000 atau sepertiga penduduk Palmyra mungkin telah melarikan diri, menghindari pertempuran dalam beberapa hari terakhir.

Ketakutan Warga

Juru bicara lembaga hak asasi manusia PBB, Ravina Shamdasani mengatakan ada laporan bahwa pasukan pemerintah mencegah warga sipil meninggalkan kawasan tersebut, tetapi media pemerintah mengatakan Angkatan Pertahanan Nasional yang pro-pemerintah sudah mengevakuasi warga sipil sebelum pasukan ditarik keluar dari Palmyra.

Sementara itu Rami Abdel Rahman juga melaporkan bahwa ISIS pada Kamis (21/5) telah mengeksekusi sedikitnya 17 orang, termasuk warga sipil.

“IS (ISIS) telah mengeksekusi 17 orang, termasuk warga sipil dan pejuang loyalis. Setidaknya empat dari mereka dipenggal,” ujar Rami Abdel Rahman kepada AFP.

Dia mengatakan warga sipil tersebut adalah pegawai dewan pemerintahan setempat, sedangkan pejuangnya adalah seorang tentara rezim pemerintah, seorang anggota Pasukan Pertahanan Nasional, dan milisi propemerintah.

“Mereka dituduh bekerja sama dengan rezim,” kata Abdel Rahman.

Seorang aktivis Suriah mengatakan kepada AFP melalui Facebook bahwa ISIS memerintahkan warga untuk tinggal di dalam rumah. 

“ISIS mencegah warga meninggalkan rumah mereka dan menyisir rumah-rumah warga sipil” untuk menemukan rezim loyalis, kata aktivis yang menyebut dirinya Mohammad Hassan al-Homsi.

Ia mengatakan telah berbicara melalui telepon kepada orang-orang di Palmyra yang mengatakan kepadanya mereka ingin melarikan diri dari kota tapi takut melakukannya setelah mendengar kabar eksekusi, terutama pemenggalan.

Menurut Observatorium, setidaknya 460 orang terbunuh dalam pertempuran untuk memperebutkan Palmyra yang dimulai pada 13 Mei, termasuk 49 yang dieksekusi oleh kelompok militan tersebut dengan sembilan di antaranya adalah anak-anak. (reuters.com/Ant)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home