Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:17 WIB | Jumat, 31 Agustus 2018

ITB Tawarkan Konsep Desa Binaan Sehat dan Tahan Gempa untuk Lombok

Ilustrasi. Rumah terbuat dari kayu pohon kelapa dan bambu di Dusun Labuan Pandan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, bisa dijadikan konsep rumah sementara korban gempa bumi. Rumah ini bertahan meski digoyang gempa 6,9 Skala Richter pada Minggu (19/8). (Foto: Antaranews.com)

BANDUNG, SATUHARAPAN.COM – Institut Teknologi Bandung (ITB), menawarkan gagasan pendirian desa binaan di beberapa daerah yang mengalami kerusakan di Lombok. Untuk mewujudkan hal tersebut Tim Satgas ITB untuk Lombok berkunjung ke berbagai instansi, desa dan dusun, untuk berdiskusi dengan berbagai pihak dan masyarakat terkait gagasan tersebut.

Seperti yang telah diketahui, tiga gempa besar melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 29 Juli, 5 Agustus, dan 19 Agustus lalu. Guncangan tiga gempa besar dengan kekuatan di atas 6.0 Skala Richter (SR) itu mengakibatkan kerusakan berat. Kebanyakan kerusakan yang terjadi pada bangunan karena pondasinya yang tidak kuat dan bahannya yang bersifat kaku seperti batako.

Tim dipimpin Ir Mipi Ananta Kusuma dari Kelompok Keahlian Geodesi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian. Pertama-tama mereka melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat, untuk menawarkan gagasan ITB terkait desa binaan yang cocok diaplikasikan pada daerah rawan bencana gempa seperti Lombok.

Berbekal data hasil pemetaan wilayah kerusakan di Lombok dengan menggunakan pesawat tanpa awak, beberapa daerah dirasa cocok untuk menjadi contoh desa binaan yang digagas ITB. Daerah-daerah tersebut adalah Desa Selat di Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Desa Sembalun Bumbung di Lombok Timur, dan Dusun Jambi Anom, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Masing-masing daerah tersebut mewakili tipikal daerah di Lombok. Mewakili daerah yang terletak di pegunungan adalah Sembalun Bumbung, karena letaknya yang dekat dengan pegunungan Rinjani. Desa Selat mewakili daerah yang terletak dekat dengan daerah urban atau kota, sedangkan Jambi Anom mewakili daerah pedesaan yang dekat dengan laut.

Konsep desa binaan yang ditawarkan adalah daerah dengan akses publik yang baik serta perumahan yang sehat. Di dalamnya terdapat konsep hunian permanen yang cocok untuk daerah rawan bencana gempa seperti Lombok. Penataan ruang publik juga dipikirkan secara apik dalam konsep tersebut.

Rumah huni yang digagas, akan menggunakan material yang tahan goncangan gempa seperti kayu atau bambu. Meski dibuat dari bahan tersebut, hunian ini bersifat permanen dengan fasilitas kamar mandi dan fasilitas lain sesuai standar rumah sehat. Material bangunan juga bisa didapatkan dari Lombok, sehingga akan akan menguntungkan orang-orang di Lombok juga. Maintenance rumah pun bisa dilakukan orang Lombok sendiri yang sudah sangat familiar dengan kayu dan bambu.

"Sebagai tahap awal, rencananya akan dibangun satu contoh di tiap daerah yang diharapkan jadi desa binaan. Membuat posko di Desa Jati Anom. Dome, nanti ada rumah contoh, ada water treatment, ada MCK, satu set lengkap. Kami ingin tunjukkan ke masyarakat, ini produknya bisa dipakai bisa ditiru. Siap pendampingan untuk menghidupkan itu. Nanti akan ada dosen atau mahasiswa yang mendampingi selama proses mencontoh itu,” kata Ir Mipi Ananta Kusuma saat pertemuan dengan Sekretaris Dinas PU Provinsi NTB, Ir Akhmad Makchul MSi, di Lombok.

Dalam penataan ruang ini, luas lahan hunian yang dimiliki warga memang akan berkurang untuk memberi ruang pada fasilitas publik. Penataan ini juga akan melibatkan pembuatan sertifikat tanah dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang baru. “Harapannya kami approach, kalo mereka sadar akan manfaatnya, luas berkurang tapi harganya naik. Sehingga secara keseluruhan sebenarnya mereka untung,” kata Ir Mipi.

Dinas PU pun, merasa penggunaan material tersebut akan lebih tahan lama. “Hasil assessment untuk gedung-gedung pemerintah itu juga ternyata dengan menggunakan baja ringan atau genteng keramik itu banyak yang roboh karena licin. Yang pakai konvensional malah tahan lama. Ini pelajaran yang kita petik,” kata Ir Akhmad Makchul.

Rencananya dalam waktu dekat akan diberangkatkan satgas ITB pada gelombang berikutnya, dan tim dari arsitektur ITB akan datang untuk membuat contoh rumah sebagai tempat keperluan publik. (itb.ac.id)

Editor : Sotyati

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home