Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 16:03 WIB | Minggu, 26 Agustus 2018

Jagongan Wagen: Motor Matic di Atas Panggung Arena

Pementasan "Bintang Kecil di Langit yang Biru" karya Agnes Christina pada Jagongan Wagen di di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Dusun Kembaran RT 04 Tamantirto, Kasihan-Bantul, Sabtu (25/8) malam. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Jagongan Wagen, sebuah program reguler yang dihelat oleh Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), pada Sabtu (25/8) malam menampilkan presentasi karya seniman pasca trampil (SPT) Agnes Christina dalam sebuah drama situasi berjudul "Bintang Kecil di Langit yang Biru".

Agnes Christina adalah sutradara muda yang kerap mementaskan monolog yang diperankan sendiri baik karya sendiri maupun menyadur naskah karya masterpiece. Berlatar pendidikan pada jurusan teknik lingkungan sebuah perguruan tinggi di Singapura, ketertarikan Agnes justru pada dunia peran dan teater yang digelutinya sejak masih kuliah di Singapura.

Semenjak kembali menetap di Indonesia tahun 2014, beberapa karya telah ditampilkan diantaranya dengan melakuan pertunjukan pembacaan Serat Centhini dari beberapa judul yang telah dikomodifikasi diantaranya Serat Centhini episode "Suluk Tembangraras", Serat Centhini "Bukan Cinta Semalam episode Basah Basah Basah, Bukan Cinta Satu Malam episode Gelisah Galau Merana (GeGaNa), serta Bukan Cinta Satu Malam episode Icik Icik Ahum. Keempat epidose pernah dipentaskan di Jogja Contemporary bulan Februari dua tahun lalu.

Dalam presentasi karya "Bintang Kecil di Langit yang Biru" Agnes memperbincangkan tentang fenomena ranking sosial (social ranking) yang ada di masyarakat dengan asumsi pada pembacaan bahwa semakin seseorang terlihat putus asa di hadapan masyarakat, dia akan semakin dijauhi seperti penderita lepra. Sebaliknya, semakin sempurna seseorang terlihat di depan masyarakat, semakin punya banyak teman, keluarga dan kolega. Fenomena media sosial hari ini menjadi gambaran tersebut.

Mengawali pertunjukan, penonton sempat dikejutkan dengan dua orang yang mengendarai sepeda motor lengkap dengan helm menaiki panggung. Panggung PSBK ditata menjadi stage arena dimana penonton berada pada dua sisi yang berseberangan sementara performer berada di tengah-tengahnya. Tidak berjarak dengan penonton, dalam tata pencahayaan yang sederhana tanpa sound system pun pertunjukan tetap menarik dari sudut manapun audiens menyaksikan.

Dengan penataan demikian, naskah yang mengambil setting perbincangan antara tukang ojek dengan penumpangnya sepanjang perjalanan dalam perbincangan ringan tentang hal-hal remeh hingga yang mengajak pengunjung untuk berpikir lebih dalam semisal lebih susah mana hari ini memiliki anak laki-laki atau perempuan.

Tempat duduk pengunjung menjadi ruang panggung yang tidak berbatas ketika pada satu adegan dialog dua performer mengambil ruang di antara penonton. Meski begitu, obrolan tersebut tidak memancing performer-audiens untuk saling berinteraksi.

"Konsep pementasan sederhana, tidak berjarak dengan audiens, ada keintiman dalam dialog namun tidak mengajak penonton untuk berinteraksi. Mirip-mirip dengan obrolan yang terjadi di warung-warung kopi, dimana seseorang bisa menguping pembicaraan pihak lain tanpa harus terganggu ataupun mengganggu," jelas Agnes Christina saat ditemu satuharapan.com setelah acara pementasan.

Realitas hari ini mereka yang memiliki rangking sosial yang sudah tinggi cenderung memiliki imunitas dan previlege di masyarakat. Tidak akan ada yang berani mengkritik mereka karena jika  merasa tersinggung, mereka bisa dengan mudahnya mematikan pihak lain yang mempunyai social ranking lebih rendah. Jika tetap nekad mengkritik, social ranking mereka pun tidak akan turun, karena mereka sudah memiliki terlalu banyak “teman dan keluarga” yang akan membela mereka.

Dan celakanya masyarakat seolah mengamini fenomena tersebut.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home