Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 22:56 WIB | Rabu, 10 Mei 2017

Jambu Bol, Alternatif bagi Penderita Hiperglikemia

Jambu bol (Syzygium malaccense). (Foto: vegetafruit.com)

SATUHARAPAN.COM – Jambu bol, atau disebut jambu kepal atau juga jambu merah, termasuk pohon buah kerabat jambu-jambuan. Buah jambu ini memiliki tekstur daging yang lebih lembut dan lebih padat dibandingkan dengan jambu air.

Buah jambu bol memiliki rasa beragam. Ada yang manis, asam, hingga sedikit sepat. Buah ini cocok dikonsumsi selagi segar, bisa dimakan secara langsung ataupun diolah menjadi penganan lain seperti campuran rujak atau menjadi jus buah. Kombinasi rasa yang unik dari buah jambu bol ini akan memberikan sensasi yang segar di lidah.

Jambu bol, bersama dengan jambu air dan jambu semarang atau jambu cincalo, memiliki manfaat kurang lebih serupa, dan dapat saling menggantikan.

Jambu bol kaya akan antioksidan, seperti vitamin C dan vitamin A. Dalam 100 gram terdapat vitamin C hampir setara dengan jeruk mandarin, yaitu sekitar 22 mg per 100 gram buah. Kandungan vitamin A-nya juga cukup tinggi, meskipun tidak setinggi jeruk mandarin tetapi jauh lebih tinggi daripada apel.

Kandungan mineral dan vitamin yang banyak terdapat dalam jambu bol membuat tanaman ini sangat baik untuk menjaga kesehatan tubuh bila dikonsumsi dagingnya atau bagian lain dari tanaman tersebut.

Jambu bol, dikutip dari usu.ac.id, banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, dan sejak dulu dipercaya masyarakat dapat mengatasi sembelit, diabetes, sakit kepala, batuk, dan radang selaput lendir pada saluran napas. Sedangkan biji, kulit kayu, dan daunnya, memiliki sifat antibiotik dan memiliki efek terhadap tekanan darah dan pernapasan. Akar tanaman jambu bol memiliki manfaat untuk mengobati gatal-gatal .

Penelitian dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Malaya Kuala Lumpur mengenai efek myricetin derivative dari daun jambu bol terkait komplikasi hiperglikemi. Kajian itu dilakukan untuk melihat potensi penggunaan jambu bol sebagai agen anti-hiperglisemik dan upayanya dalam melemahkan tekanan oksidatif komplikasi penyakit kencing manis.

Hasil-hasil kajian tim peneliti itu jelas menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu bol dapat melemahkan tekanan oksidatif dan mempunyai potensi untuk digunakan sebagai agen alternatif dalam perawatan hiperglikemia dan komplikasinya.

Pemerian Botani Jambu Bol

Jambu bol menurut Wikipedia adalah tanaman pohon yang dapat mencapai tinggi antara  5-20 m. Batangnya lurus, dengan diameter batang 20-45 cm, bercabang rendah dan bertajuk rimbun padat sampai membulat, memberikan naungan yang berat. Daun tunggal terletak berhadapan, dengan tangkai pendek 1-1,5 cm, yang tebal dan kemerahan ketika muda. Helaian daun lonjong, besar, tebal agak kaku seperti jangat.

Perbungaan pada bagian ranting yang tidak berdaun, pendek, dan menggerombol. Daun mahkota 4 helai, berbentuk lonjong sampai bundar telur, panjang 2 cm berwarna merah gelap.

Buah merupakan buah buni, berbentuk menjorong, berdiameter 5-8 cm, berwarna  merah tua, kuning keunguan, atau keputihan, daging buah berwarna putih dengan banyak sari buah dan wangi yang khas, asam manis sampai manis. Bijinya sebutir, bulat kecokelatan, tiap buah hanya mempunyai satu biji. 

Jambu bol, dikutip dari usu.ac.id, sudah dikenal luas di dunia dengan nama malay rose atau malay apple. Jambu bol diperkirakan berasal dari Malaysia, umumnya dibudidayakan mulai dari Jawa, Filipina, Vietnam dan juga Bangladesh dan India Selatan (Morton, 1987). 

Jambu bol dapat ditemui di mana-mana dan penyebarannya hingga ketinggian 1.200 meter di atas permukaan air laut. Kadang-kadang dijumpai di hutan-hutan sekunder tua dan biasanya berasosiasi dengan jambu kopo (Syzygium zollingrianum).

Tanaman tahunan ini dapat hidup sampai puluhan tahun. Dua jenis jambu bol lokal yang biasa ditanam adalah jambu bol merah Cianjur dan jambu bol putih Congkili. Varietas baru adalah Si Mojang yang dapat dipanen 3 kali dalam setahun.

Sentra penanaman jambu bol di Jawa Barat (Lebak, Bogor, Cianjur, Garut, Ciamis, Sumedang, Subang), Jawa Tengah (Purworejo, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Jepara), Jawa Timur (Malang, Banyuwangi, Pamekasan) dan DI Yogyakarta (Kulon Progo). Pada tahun 1991, produksi di Pulau Jawa mencapai 51.763 kuintal/tahun. Luas produksi sukar dipastikan karena belum ada perkebunan jambu bol. Umumnya jambu bol ditanam sebagai tanaman pekarangan saja. Produksi jambu bol dari tahun ke tahun dapat dikatakan konstan.

Jambu bol menurut Wikipedia memiliki nama ilmiah Syzygium malaccense (yang berarti berasal dari Malaka). Jambu bol juga dikenal dengan nama daerah, di antaranya jambu bo, jambu jambak (Minangkabau), jambu bool (Sunda), nyambu bol (Bali), jambu bolo (Makasar), jambu bolu (Bugis). Di beberapa tempat di Jawa dan Madura, juga dikenal dengan nama jambu darsana, dersana, tersana. Di Sulut, jambu bol dikenal dengan nama kupa maaimu.

Dalam bahasa Inggris, jambu bol dikenal dengan nama malay apple, malaysian apple, pomerac. Di Malaysia, selain jambu bol juga dikenal dengan nama jambu merah.

Khasiat Herbal Jambu Bol

Jambu bol, dikutip dari hort.purdue.edu, sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Maluku. Rebusan kulit kayunya digunakan untuk mengobati sariawan. Orang Melayu menaruh bubuk daun kering  jambu bol di atas lidah yang retak. Akar pohon jambu bol digunakan untuk obat untuk gatal.

Di Kamboja, air seduhan daun, buah, dan bijinya, dipakai untuk mengatasi demam. Jus daun yang dihancurkan dioleskan sebagai lotion kulit dan ditambahkan ke bak mandi.

Di Brasil, berbagai bagian tanaman digunakan sebagai obat untuk sembelit, diabetes, batuk, paru-paru, sakit kepala, dan penyakit lainnya. Benih buah, biji, kulit kayu dan dedaunan telah menunjukkan aktivitas antibiotik dan memiliki efek pada tekanan darah dan pernapasan.

Jus daun jambu di Samoa digunakan untuk mengobati infeksi mulut. Ekstrak kulit kayunya digunakan untuk infeksi tenggorokan, sakit perut, dan gangguan lain pada pencernaan.

Tim peneliti Sekolah Teknik Pangan, Universitas Campinas (Unicamp), Brasil, meneliti komposisi proksimat, senyawa fenolik, karotenoid, dan antioksidan bagian buah dan daun jambu bol. Sampel diekstraksi dengan pelarut yang berbeda untuk menganalisis kandungan senyawa fenolik, flavonoid, anthocyanin, total karotenoid (metode kolorimetrik), dan kapasitas antioksidan. Hasilnya terbukti  kulit, biji, dan daun jambu bol, menunjukkan kandungan senyawa fenolik, flavonoid dan karotenoid, dan memiliki kapasitas antioksidan.

Tim peneliti dari Divisi Teknologi Pangan, Sekolah Teknologi Industri, dan Institut Penelitian di Kedokteran Molekuler, Universiti Sains Malaysia, Penang, meneliti efek antikanker dari buah jambu bol. Hasil penelitian mereka menunjukkan antiproliferasi dan memiliki aktivitas antikanker.

Ekstrak etanol daun jambu bol dikutip dari repository.usu.ac.id, mengandung senyawa metabolit sekunder golongan flavonoid, tanin, saponin, yang berdasarkan penelitian dan pengujian dapat menurunkan atau mengurangi kadar kolesterol dalam darah, dapat menurunkan kadar kolesterol total darah tikus selama 21 hari. Efek penurunan kadar kolesterolnya yang hampir sama dengan simvastatin, sehingga disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun jambu bol dapat menurunkan kadar kolesterol total.

Walaupun demikian, tim peneliti Sekolah Ilmu Kesehatan dan Fakultas Biologi, Universitas Kedokteran Internasional, Bukit Jalil, Kuala Lumpur, yang melakukan investigasi anti-inflamasi pada ekstrak metanol buah jambu bol, menyebutkan ekstrak methanol buah jambu bol ternyata tidak memiliki sifat anti-inflamasi.

Editor : Sotyati

Back to Home