Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Ignatius Dwiana 09:10 WIB | Selasa, 11 September 2018

Jamu: Usia Panjang dan Harapan bagi yang Malang

Ilustrasi. Formula jamu. (Foto: autoimuncare.com)

SATUHARAPAN.COM – Jamu tidak saja berfungsi sebagai obat. Jamu juga menjadikan harapan hidup seseorang lebih tinggi. Seseorang tetap sehat dengan hidup lebih berkualitas. Lebih panjang umur.

Khasiat jamu itu diakui Riris Widhawati. Dokter yang juga berpraktik pengobatan tradisional itu menuturkan memiliki nenek berusia 105 tahun.

“Pada usia 104 tahun, ingatan dan penglihatannya masih baik. Saat menginjak 105 tahun ini baru menurun. Kadang-kadang ingat. Kadang-kadang tidak. Tetapi masih mengenal.”

"Nenek itu pakai sirih, nginang. Masih sering menginang. Kami masih sering belikan. Masih minum kunyit asem sama sirih. Kondisinya sehat benar. Tensi bagus. Tidak ada diabetes. Tidak ada masalah jantung. Sekarang ini kondisi lemah memang karena sudah sangat tua, 105 tahun," katanya.

Riris Widhawati ingat betul jamu sudah diperkenalkan di tengah keluarganya sejak lama. Jamu menjadi budaya di keluarganya.

Pebisnis perempuan Martha Tilaar yang banyak menulis literatur tentang jamu punya kisah sendiri. Dia menceritakan eyangnya yang hidup hingga usia 107 tahun. Eyangnya itu merupakan salah satu sosok yang mengajarinya jamu.

“Saya belajar jamu itu 50 tahun lalu. Mulai tahun 1969/1970. Saya belajar jamu dari eyang saya yang ahli jamu. Beliau hidup sampai 107 tahun. Dia sehat dan tidak menderita kepikunan.”

Martha Tilaar mengaku sepanjang hidup terus mempelajari jamu dan mengkonsumsinya karena memberinya kekuatan. Bahkan menginjak usia 81 tahun, dia nampak tetap segar dan sehat. Tutur katanya pun terdengar jelas. Usia 81 tahun baginya adalah gracious age, usia yang membahagiakan.

Martha Tilaar melanjutkan cerita dirinya terkait jamu. Dia pernah divonis infertility, tidak bisa punya anak, oleh empat profesor dan dokter, karena sudah 16 tahun berkeluarga belum juga dikaruniai anak. Akhirnya dia diobati eyangnya dengan pengobatan tradisional. Mencakup juga jamu.

“Tiap dua kali seminggu meminum jamu penyubur peranakan. Itu terus seperti itu. Memang jamu itu tidak bisa instan seperti obat kimia.”

Akhirnya pada usia 41, Martha Tilaar mengandung untuk pertama kalinya. Putri pertamanya itu pun lahir dengan selamat. Berikutnya pada usia 45 tahun, mengandung anaknya yang kedua dan lahir dengan selamat. Walau dokter dan profesor pada waktu itu beropini usianya itu tidak baik untuk mengandung.

“Lama banget. Dari peristiwa itu saya belajar banyak tentang kehidupan. Bahwa kesuksesan tidak bisa didapat secara instan. Tetapi dengan berproses.”

Riset Tumbuhan Obat dan Jamu

Martha Tilaar berpendapat Indonesia memiliki kekayaan alam hayati yang luar biasa. Hal ini dapat ditemukan dalam catatan Belanda ketika 3,5 abad melakukan kolonisasi. Ada 30.000 jenis tumbuhan Indonesia tercatat dan ini tersimpan dengan baik di Leiden Belanda.

Dari 30.000 jenis tumbuhan, ada di antaranya yang berkhasiat obat. Hal ini diungkapkan Profesor Ernie H Purwaningsih dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tetapi yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat itu di antaranya kunyit, jahe, sirih, alang-alang, jambu, pepaya, dan pinang.

Tahun 2007, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI memprakarsai isian kuesioner Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tentang pemanfaatan jamu oleh masyarakat Indonesia. Hasilnya menunjukkan 35,7 persen masyarakat menggunakan jamu dan lebih dari 85 persen di antaranya mengakui jamu bermanfaat bagi kesehatan. Pada 2010, hasil Riskesdas ternyata menunjukkan peningkatan hasil yaitu 59,12 persen masyarakat menggunakan jamu dan 95,6 persen di antaranya mengakui jamu bermanfaat bagi kesehatan.

Kemudian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan pada 2012 melakukan riset khusus eksplorasi pengetahuan lokal etnomedisin dan tumbuhan obat di Indonesia berbasis komunitas. Riset ini selanjutnya disebut Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja). Riset ini memetakan pengetahuan tradisional dalam pemanfaatan tumbuhan obat dan ramuan tradisional yang digunakan setiap etnis di Indonesia.

Ristoja bertujuan mendapatkan database pengetahuan etnofarmakologi, ramuan obat tradisional dan tumbuhan obat. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pengobat tradisional (battra) sebagai narasumber, gejala dan jenis penyakit, jenis-jenis tumbuhan, kegunaan tumbuhan dalam pengobatan, bagian tumbuhan yang digunakan, ramuan, cara penyiapan dan cara pakai untuk pengobatan, kearifan lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan tumbuhan obat dan data lingkungan.

Ristoja I dimulai tahun 2012 pada 26 provinsi seluruh Indonesia kecuali pulau Jawa dan Bali. Sekitar 210 etnis diteliti dengan jumlah pengamatan 254 titik. Khusus wilayah Jawa dan Bali dilakukan kajian pustaka pada 2013. Kajian ini dilakukan karena telah banyak penelitian dan publikasi yang berkaitan dengan tumbuhan obat dan pemanfaatannya dalam menunjang kesehatan. 

Ristoja II berjalan pada 2015 pada 24 provinsi di 125 kabupaten. Etnis yang diteliti meliputi 96 etnis. Battra yang menjadi informan berjumlah 525 battra dan mereka merupakan etnis asli di masing-masing tempat pengumpulan data. Jumlah battra sebagai informan untuk masing-masing etnis sebanyak lima orang.

Dari Ristoja ini diperoleh banyak informasi tumbuhan obat yang tersebar di banyak wilayah di Indonesia. Di antaranya diolah dan diramu sebagai jamu untuk melawan pelbagai jenis penyakit. Termasuk yang masuk dalam daftar penyakit mematikan Badan Kesehatan Dunia WHO. Terutama AIDS/HIV dan kanker tumor.

Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan Ina Rosalina sepertinya tidak terlalu kaget dengan hasil temuan Ristoja. ”Tumbuhan obat itu sudah diketahui, sudah diteliti, dan boleh digunakan. Tumbuhan obat itu ‘kan ada banyak. Silakan saja dikonsumsi. Tetapi, bukan berarti orang HIV diberi jamu tetapi tidak konsumsi ARV. Itu tidak boleh. Karena di sisi lain obat tradisional itu meningkatkan daya tahan tubuh. Tetapi virusnya tidak dimatikan. Virusnya hanya dimatikan dengan obat modern. Demikian juga dengan kanker, tetap saja kemoterapinya harus jalan.”

Proteksi Pengetahuan

Jamu merupakan hasil olahan dari kekayaan alam hayati dan budaya Indonesia yang ternyata menarik minat belajar orang asing. Mereka mempelajari soal ini di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Ada kebanggaan. Tetapi pada sisi lain memunculkan kekhawatiran bahwa pengetahuan akan jamu ini justru akan dibawa lari keluar sebelum sempat diproteksi atau dikembangkan.

Profesor Ernie H Purwaningsih menyebutkan dalam “Jamu, Obat Tradisional Asli Indonesia Pasang Surut Pemanfaatannya di Indonesia” bahwa banyak tumbuhan asli Indonesia sudah dipatenkan di luar negeri. Misalnya xanthorrizol dari Curcuma xanthorriza, buah merah (Pandanus conoideus), andrografolid dari sambiloto (Andrographis panniculata), dan sebagainya.

Terkait hal itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan Ina Rosalina mengatakan Kementerian Kesehatan sedang melakukan pembahasan ini. “Sekarang memang banyak. Jadi kami dari Kementerian Kesehatan sedang membahas hal itu. Mengapa tidak dari dulu? Karena dulu tidak ada yang peduli. Di Kementerian Kesehatan kita membuat peraturan-peratuan. Kita juga membuat kerja sama lintas kementerian terkait ini. Jangan sampai warisan yang kita punya diambil orang. Tetapi jangan kita ribut sendiri akhirnya warisan diambil orang juga.”

Kabar buruk tentang tumbuhan asli Indonesia yang sudah dipatenkan di luar negeri ini ditanggapi Ernie Purwaningsih sebagai akibat kurangnya perhatian pemerintah dalam perlindungan hak kekayaan intelektual dan atau hak paten para peneliti Indonesia. Selain itu proses paten di Indonesia dinilai juga lambat. 

Editor : Sotyati

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home