Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Darwin Darmawan 15:20 WIB | Kamis, 06 Desember 2018

Jangan Menghakimi!

Terlalu banyak orang yang menuntut orang lain berubah, padahal sesungguhnya mereka yang lebih perlu berubah.
Penghakiman (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat. 7:1). Apa arti ayat ini? Apakah kita sama sekali tidak boleh menilai benar-salah, baik -jahat seseorang?  Apakah Kristus mengajarkan hidup tanpa prinsip?

Ayat selanjutnya menolong kita menjawab pertanyaan tadi. Kristus menyampaikan alasan mengapa orang tidak boleh menghakimi. Pertama, ukuran yang seseorang pakai untuk menghakimi, perlu diterapkan juga kepadanya (ay. 2). Jangan sampai terjadi, orang bisa melihat selumbar di  mata saudaranya tetapi tidak dapat melihat balok di matanya sendiri (ay. 3). Maksudnya jelas. Kita perlu adil dalam menilai diri sendiri dan orang lain. Jika kita sendiri melakukan kesalahan yang sama, kita tidak boleh cepat-cepat merendahkan dan menghukum sesama!

Karena itu—ini  yang kedua—seseorang yang punya balok di matanya (baca: kesalahan besar), perlu mengeluarkan balok itu baru bisa mengajak orang lain mengeluarkan selumbar dari matanya(ay. 4 dan 5). Ayat tersebut bisa dimaknai seperti ini: orang perlu berubah dulu, baru  mengajak orang lain berubah juga.  Ya, orang tidak boleh munafik dan hanya menuntut orang lain berubah padahal dirinya yang lebih perlu untuk banyak berubah.

Tentang hal di atas, seorang bijak berkata, ”Jika kita menunjuk satu jari ke orang lain, ingatlah, empat jari lainnya sedang menunjuk kita.” Maksudnya sederhana: ”Jangan mengurung orang dalam kerangkeng penghakiman tertentu. Bisa jadi, diri kita sama atau bahkan lebih buruk darinya.  Jangan cepat-cepat menuntut orang berubah, sebab bisa jadi kita yang lebih perlu berubah.”

Persoalan di keluarga, kehidupan beragama dan bangsa kita terletak di sini. Indonesia surplus orang munafik yang sangat cepat menghakimi orang sebagai kafir, sesat, tidak jantan, sementara itu mereka tidak pernah merenungkan keberadaan dirinya. Bangsa ini menjadi sulit maju karena terlalu banyak orang yang menuntut orang lain berubah padahal sesungguhnya mereka yang lebih perlu berubah. 

Pada tahun politik seperti sekarang, orang-orang seperti itu akan semakin banyak bermunculan. Mereka sangat dibutuhkan untuk memfitnah, mengagitasi, mengumbar marah dan benci, dengan mengungkapkan selumbar di mata orang lain, tetapi gagal melihat ada balok di matanya sendiri. Kemunafikan dan kepongahan seperti itu menghambat kemajuan bangsa. Karena itu, kita perlu meninggalkannya.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home