Google+
Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 13:23 WIB | Kamis, 05 Juli 2018

Jangan Percaya Belgia

Jelang Pertandingan 8-Besar: Brasil vs Belgia
Dua pemain Belgia menghadang penyerang Brasil Rivaldo (10) pada laga babak 16-besar Piala Dunia 2002, di Wing Stadion-Kobe, 17 Juni 2012. (Foto: alamy.com)

SATUHARAPAN.COM - Tertinggal dua gol dari Jepang tidak membuat kesebelasan Belgia panik. Pelatih Martinez mengganti beberapa pemain tanpa menurunkan daya serang. Hasilnya Hazard dan kawan-kawan dengan tenang mampu mengejar ketinggalan bahkan berbalik unggul dan menyingkirkan Jepang di babak 16-besar memanfaatkan dua puluh menit tersisa. Semangat memenangi pertandingan dengan tenang pada laga krusial meskipun sudah tertinggal sudah jarang ditemui pada pertandingan sepakbola. 

Gaya bermain ini pernah menjadi trademark kesebelasana Jerman di era tahun 1990-2000-an, hingga kerap terucap kalimat jangan pernah percaya dengan kesebelasan Jerman hingga wasit benar-benar telah meniup peluit akhir pertandingan. Jerman sempat memperlihatkan saat mereka tampil pada fase grup F menghadapi Swedia dimana Kroos membuat gol sepuluh detik sebelum pertandingan berakhir. Hasilnya mereka bisa memenangi pertandingan.

Semangat memenangi pertandingan yang ditunjukkan saat menghadapi Jepang menjadi bukti kesiapan Belgia menjadi salah satu kandidat kuat juara PD 2018. Beberapa timnas unggulan yang pulang lebih awal bukan tanpa materi pemain yang menjanjikan. 

Hingga pertandingan keempat Brasil mulai memantapkan permainannya. Meski mampu memenangi tiga pertandingan terakhir, Neymar Jr dan kawan-kawan belum benar-benar teruji dalam berbagai gaya permainan lawan serta tempo permainan tinggi. Kosta Rika dan Meksiko yang sering mereka hadapi sebagai kesebelasan dalam kawasan Amerika, meskipun mampu mereka kalahkan namun Brasil cukup direpotkan di sepanjang pertandingan. Menghadapi tim yang lebih kuat Swiss, Neymar Jr dan kawan-kawan hanya mampu bermain imbang.

Menghadapi Belgia dengan kekuatan yang merata di semua lini, kreativitas barisan gelandang Brasil akan kembali diuji. Di ajang Piala Dunia kedua kesebelasan pernah bertemu pada babak 16-besar PD 2002. Brasil yang bertaburkan pemain bintang di semua lini menghentikan langkah Belgia dengan dua gol yang dicetak Ronaldho dan Rivaldo.

Pada PD 2018 mereka kembali bertemu di babak 8-besar. Belgia menatap pertandingan menghadapi Brasil dengan skuad yang lebih lengkap dibanding enam belas tahun lalu. Setidaknya materi kedua kesebelasan saat ini relatif berimbang. Belgia dengan generasi emasnya sementara permainan Neymar Jr-Coutinho-Firminho semakin matang.

Produktivitas, Ketenangan, dan Kematangan.

Hingga babak 16-besar Belgia tercatat sebagai kesebelasan yang paling produktif dengan memasukkan 12 gol dan kemasukan 4 gol. Menarik ketika mereka laga dengan tenang, dingin, dan tidak meledak-ledak meskipun dengan kemenangan besar. Seluruh serangan dibangun secara rapi dan terorganisir. Sejauh ini baru Uruguay yang memiliki kemiripan dengan Belgia dalam permainan: dingin, tenang, dan tidak terburu.

Dengan ketenangan itu Belgia tetap bisa tampil tanpa panik sekalipun tertinggal dua gol dari Jepang. Faktor pemain kunci De Bruyne, Eden Hazard, Mertens sejauh ini cukup tenang-efektif dalam menyusun serangan maupun bertahan.

Meskipun Brasil memiliki barisan gelandang elegan, namun mereka masih kerap tampil meledak-ledak. Sejauh ini hanya Coutinho yang tampil reltif tenang. Barisan gelandang Brasil sedikit dirugikan dengan tidak tampilnya gelandang energik Casemiro yang mendapat akumulasi dua kartu kuning.

Meskipun Hazard menjadi motor utama serangan Belgia, dibanding Brasil kesebelasan Belgia masih lebih unggul dengan tidak tergantungnya pada satu pemain. Realitasnya Brasil masih sangat tergantung pada peran dan keberadaan Neymar Jr. Tidak bisa dipungkiri bagaimana peran Neymar yang bisa mengubah jalannya pertandingan serta kemenangan Brasil, namun hanya menggantungkan pada satu-dua pemain justru menjadi titik lemah sebuah kesebelasan.

Belgia sendiri justu memiliki barisan pemain lapis kedua yang sejauh ini mampu melapis bahkan mencetak gol kemenangan ketika diturunkan sebagai pengganti. Diturunkan sebagao pemain pengganti Fellaini dan Chadli mampu menerjemahkan pergantian strategi Martinez bahkan mencetak gol bagi kemenangan Belgia.

Pertemuan Brasil melawan kesebelasan Belgia akan menjadi pertarungan adu strategi Martinez dengan tiki-taka melawan Tite yang sejauh ini kerap menampilkan jogo bonito. Menyaksikan pertandingan terakhir Belgia melawan Jepang, strategi Martinez dalam membangun pertahanan dan serangan lebih rapi dibanding Tite. Jika Alderweireld, Vermaelen, Vertonghen, bermain disiplin rasanya Neymar Jr akan kesulitan menembus pertahanan Belgia terlebih bagi Vermaelen yang pernah satu klub dengan Neymar.

Dalam level dan tensi pertandingan yang semakin meningkat perpaduan produktivitas, ketenangan, kematangan permainan akan lebih banyak menentukan hasil akhir pertandingan. Setidaknya Hazard dan kawan-kawan sudah memberikan contoh bagaimana cara keluar dari tekanan pertandingan saat menghadapi Jepang.

Pertandingan babak 8-besar antara Belgia melawan kesebelasan Brasil akan berlangsung pada Jumat (6/7) di Kazan Arena, Kazan.

Perkiraan susunan pemain:

Brasil (4-3-3) : Alisson (gk), Fagner, Silva, Luis, Miranda, Willian, Fernandinho, Coutinho, Firminho, Jesus/Costa, Neymar. | pelatih: Tite

Belgia (3-4-3) : Courtois (gk), Alderweireld, Vermaelen, Vertonghen, Meunier, Witsel, De Bruyne, Carrasco, Hazard, Lukaku, Mertens/Batshuayi. | pelatih: Roberto Martínez

 

Back to Home