Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 21:12 WIB | Jumat, 02 Februari 2018

Jati Belanda, Potensial dalam Industri Fitofarmaka

Jati belanda (Guazuma ulmifolia, Lamk.). (Foto: wikimedia.org)

SATUHARAPAN.COM – Orang menyebutnya kayu jati belanda atau jati londo. Keberadaannya sebagai bahan limbah peti kemas/palet barang impor yang sebagian besar diangkut kapal laut kebanyakan dari Eropa, diidentikkan dengan Belanda, dikaitkan dengan namanya. Kini kita mengenal kayu jati belanda digunakan untuk furnitur maupun panel dinding.

Selain dikenal sebagai kayu peti kemas yang digunakan untuk furnitur, jati belanda, menurut Wikipedia, dikenal sebagai salah satu tanaman obat. Daun jati belanda sudah umum terdapat dalam jamu pelangsing tubuh dan biasanya dibuat dalam bentuk teh.

Sejak zaman dulu masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di Pulau Jawa, mengenal dan memakai air rebusan daun jati belanda sebagai bahan baku jamu pelangsing tubuh, biasa disebut galian singset (bahasa Jawa). Secara tradisonal, daun jati belanda berkhasiat sebagai obat pelangsing tubuh dan menurunkan kadar lemak tubuh.

Daun jati belanda berwarna hijau, dan berbentuk oval dengan pinggiran yang bergerigi dan ujung daun yang runcing. Permukaan daunnya kasar dengan panjang daun sekitar 10-16 cm dan lebar sekitar 3-6 cm.

Diana Krisanti Jasaputra dari FakultasKedokteran Universitas Maranatha, dalam penelitiannya yang dimuat di Jurnal Medika Planta Vol 1 No 3 April 2011, menyebutkan daun jati belanda memiliki rasa agak kelat, karena mengandung tanin dan musilago. Kandungan utama itulah yang menjadi alasan daun jati belanda dimanfaatkan sebagai obat susut perut atau pelangsing.

Senyawa tanin bersifat sebagai astringent, dan musilago bersifat sebagai pelicin atau pelumas . Tanin yang ada dalam daun mampu mengurangi penyerapan makanan dengan cara mengendapkan mukosa protein yang ada dalam permukaan usus, sementara musilago yang berbentuk lendir bersifat pelicin. Dengan adanya musilago, penyerapan usus terhadap makanan dapat dikurangi, sehingga memperlancar buang air besar.

Daun jati belanda juga banyak dimanfaatkan untuk mengatasi kolesterol.

Tanaman jati belanda, menurut Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), dikutip dari litbang.pertanian.go.id, sangat berpeluang dimanfaatkan dalam industri fitofarmaka. Jati belanda merupakan salah satu tanaman yang banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional, karena kandungan proantocyanidins (senyawa yang memberikan warna merah dan biru pada buah) dan terbukti bermanfaat untuk memperkuat kapiler, memperbaiki penglihatan dalam gelap, mendukung integritas dinding pembuluh darah dan mencegah pembekuan darah, mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker, dan melindungi terhadap infeksi saluran kemih.

Selain itu berdasarkan analisa fitokimia, senyawa lain yang terkandung dalam tanaman ini yakni triterpene, sterol, alkaloid, karotenoid, flavonoid, tanin, karbohidrat, dan saponin, sangat potensial dan bermanfaat sebagai obat. Dengan demikian, baik daun dan kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat obat disentri, wasir, pnemonia, batuk dan bronkhitis.

Pemerian Botani Tanaman Jati Belanda

Jati belanda dikutip dari usu.ac.id, merupakan tanaman semak atau pohon dengan tinggi 10 – 20 m, berbatang keras, bulat, permukaan kasar, beralur banyak, berkayu, bercabang, berwarna hijau keputih-putihan. Tumbuhan ini berakar tunggang dengan warna putih kecokelatan.

Jati belanda berbunga tunggal, muncul dari ketiak daun, berjumlah banyak, bentuk agak ramping, memiliki tangkai bunga sekitar 5 mm, kelopak berwarna kuning dan berbau wangi.

Tumbuhan ini berdaun tunggal dengan warna hijau, berbentuk bulat telur dengan permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, mempunyai daun penumpu berbentuk lanset atau berbentuk paku. Buahnya berbentuk kotak, bulat, keras, permukaan berduri, warna hijau dan menjadi hitam jika tua.

Tanaman jati belanda berasal dari Amerika yang beriklim tropis, kemudian dibawa oleh Portugis ke Indonesia, terutama ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jati belanda tumbuh secara liar terutama di Pulau Jawa dan penyebarannya pada daerah dataran rendah hingga 800 m di atas permukaan laut.  

Tanaman jati belanda dikutip dari unib.ac.id, memiliki nama ilmiah yaitu, Guazuma ulmifolia, Lamk., dari suku Sterculiaceae. Sedangkan nama daerahnya adalah jati londo (Jawa Tengah), jati belanda (Melayu), jati landi dan jatos landi (Jawa), bastard cedar (Inggris), guacimo (Spanyol), bois d’orme (Prancis), hapayillo (Peru), tapaculo (Tamil), ibixuma (Brasil), guasima (Meksiko), guacimobaba (Kuba).

Tanaman ini dapat tumbuh dengan cepat dan biasa digunakan sebagai tanaman pekarangan atau peneduh di tepi jalan.

Di beberapa negara, bagian dalam kulitnya dipakai sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit cacing dan kaki. astringent dan diaforetik. Air masakan kulit dapat digunakan sebagai obat untuk menciutkan urat darah.

Rebusan biji-bijinya yang sudah dibakar seperti kopi dapat diminum sebagai obat sembelit dan apabila setelah dibakar lalu dilumatkan dengan air dan dibubuhkan setetes minyak adas maka dapat bermanfaat untuk perut kembung dan sesak. Selain itu, daun atau buahnya dapat digunakan sebagai obat untuk batuk rejan. Di Indonesia, air masakan daunnya banyak dipakai untuk melangsingkan tubuh.

Manfaat Herbal Tanaman Jati Belanda

Menurut Wikipedia secara tradisional, daun jati belanda berkhasiat sebagai obat pelangsing tubuh dan menurunkan kadar lemak tubuh. Bijinya dapat digunakan sebagai obat sakit perut, jamu pelangsing yang aman dan obat kembung. Buahnya dapat digunakan sebagai obat batuk.

Selain itu, dekok kulit batang dapat digunakan sebagai obat malaria, diare dan sifilis. Jati belanda juga dapat digunakan untuk mengobati influenza (flu), pilek, disentri, luka dan patah tulang. Ekstrak dari daunnya dapat menekan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Shigella dysenteria, dan Bacillus subtilis secara in vitro.

Jaka Sulaksana J dan I Dadang J dalam bukunya yang berjudul Kemuning dan Jati Belanda: Budidaya dan Pemanfaatan untuk Obat (Penerbit Penebar Swadaya Jakarta tahun 2005 hal 83), menyebutkan  bahwa seluruh bagian tanaman jati belanda mengandung senyawa aktif seperti tanin.

Yosie Andriani HS di Laboratorium Biokimia Institut Pertanian Bogor, yang dikutip dari Kompas.com pada (21/1/2011), melakukan penelitian guna mengetahui pengaruh ekstrak daun jati belanda terhadap kadar lipid darah (TPC, trigliserida, LDL, dan HDL/high density lipoprotein). Penelitian menggunakan kelinci sebagai hewan percobaan pada empat kelompok perlakuan.

Ternyata pemberian ekstrak daun jati berpengaruh terhadap kadar lipid darah. Kadar TPC, LDL, dan trigliserida pada perlakuan kontrol (tanpa pemberian daun jati) terlihat sangat tinggi, dibandingkan dengan kadar TPC, LDL, dan trigliserida yang diberi perlakuan daun jati. Fakta ini menunjukkan adanya penurunan kadar TPC, LDL, dan trigliserida, akibat pemberian daun jati belanda.

Disimpulkan bahwa daun jati belanda terbukti mampu menurunkan kadar lipid darah. Ini berarti daun jati belanda bisa dijadikan obat alternatif antihiperlipidemia.

Tanaman jati belanda menurut H Arief, dalam bukunya yang berjudul Tumbuhan Obat dan Khasiatnya (Jakarta, Penebar Swadaya, 2005), mempunyai efek antidiare, astringen, dan menguruskan badan. Bagian dalam kulit batang tanaman jati belanda dipakai untuk mengobati penyakit cacing dan kaki gajah.

Saat ini, dikutip dari ums.a.c.id, sediaan daun jati belanda  tersedia di pasaran berupa simplisia kering (untuk diseduh), kapsul dan tablet. Sediaan kapsul dapat menutupi rasa pahit dari daun jati belanda.

Salah satu sediaan yang dapat dibuat untuk menutupi rasa pahit dari daun jati belanda adalah dengan dibuat tablet isap. Pembuatan formulasi ini diharapkan dapat diterima masyarakat karena kemudahan dalam penyimpanan dan kepraktisan dalam penggunaan.

Tim peneliti Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, dan Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha, meneliti pengaruh ekstrak daun jati belanda terhadap penurunan kadar kolesterol LDL manusia. Data yang diukur adalah kadar LDL sebelum dan sesudah mengonsumsi kapsul ekstrak daun jati belanda 550 mg, 2x2 kapsul sehari setelah makan selama satu bulan.

Hasil penelitian menunjukkan sesudah mengonsumsi ekstrak daun jati belanda terjadi penurunan kadar LDL dalam darah dengan perbedaan yang sangat signifikan. Kesimpulannya dari penelitian ini adalah ekstrak daun jati belanda menurunkan kadar LDL manusia.

Rizky Novi Anggraini dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, meneliti pengaruh pemberian kapsul ekstrak daun jati belanda terhadap berat badan dan ukuran lingkar perut pada mahasiswi dengan berat badan berlebih. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang terdiri atas satu kelompok (one group pra-test post-test design).

Kelompok yang diteliti terdiri atas 10 orang pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan mendapat perlakuan pemberian herbal kapsul ekstrak daun jati belanda dengan dosis 2 kali 550 mg/kapsul dalam sehari. Di samping mengkonsumsi herbal, masing-masing pasien juga harus menjalani prosedur diet yang ditentukan serta berolahraga atau melakukan exercise rutin dengan jalan kaki dan sit up sebanyak 20 kali dalam sehari.

Setelah diberi perlakuan, dilakukan pengamatan terhadap hasil perbedaan berat badan dan ukuran lingkar perut pasien penelitian pada tahap sebelum dan sesudah terapi. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kapsul ekstrak daun jati belanda mampu secara efektif menurunkan berat badan dan lingkar perut pasien dengan berat badan berlebih.

Editor : Sotyati

Back to Home