Loading...
INSPIRASI
Penulis: Obrin Sualang 01:00 WIB | Minggu, 17 Juni 2018

Jehova Jireh

Kemiskinan bagi kalangan tertentu dianggap memalukan, dicap tidak diberkati alias kutukan.
Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM – Baru-baru ini ada berita yang cukup menggelikan bagi saya. Apakah Anda sempat membacanya?  Konon berita itu memicu kontroversi.  

Bagi sebagian pembaca, mungkin berita itu terdengar keren dan membanggakan.  Bagaimana tidak?  Bayangkan saja, kalau Anda punya pemimpin gereja  dengan bangga meminta jemaatnya membelikan pesawat pribadi seharga  US$ 54 juta atau setara 750 milyar rupiah.  Alasannya terlihat sangat alkitabiah: untuk kebutuhan penginjilan.  Saya pikir Sang Pendeta  pasti punya alasan kuat atas permintaannya itu.  

Sebenarnya saya ingin bertemu sang pengkhotbah. Tentu bukan untuk minta selfie bareng. Saya hanya ingin menanyakan  mengapa dia begitu berani dan bahkan sangat yakin jemaatnya mampu memenuhi permintaan prestisius itu.

Karena sampai sekarang tidak bisa bertemu, maka saya hanya bisa menduga-duga alasannya.  Pertama, mungkin dia sangat familiar dengan istilah  Jehova Jireh ’Tuhan yang Menyediakan’.  Bisa jadi dia sangat berpegang pada perkataan Yesus Kristus dalam Lukas 11:9: ”…mintalah, maka akan diberikan kepadamu.”

Oh, kalau soal itu saya sangat sependapat. Saya bahkan punya pegangan ayat yang lebih sip: ”... mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7).   Bagaimana tidak sip, wong  minta apa saja bisa  kok,  apalagi kalau hanya minta pesawat.  

Masalahnya saya masih  tidak terlalu berani. Mengapa?   Yohanes 15:7 seutuhnya berbunyi: ”Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”.

Nah! Prasyarat itu yang membuat saya ragu meminta apa saja, sak’penak’e dewe.  Masih merasa belum sepenuhnya hidup dalam Firman-Nya.  Apalagi kalau teringat teguran keras penulis Surat Yakobus ”Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak. 4:3).

Kedua, bisa jadi Sang Pendeta sangat yakin akan kemampuan finansial jemaatnya.  Mungkin saja mengumpulkan uang ratusan milyar tidak seberapa sulit bagi anggota jemaatnya yang mungkin kaya raya.  Kemiskinan bagi kalangan tertentu memang dianggap  memalukan, dicap tidak diberkati alias kutukan.  Karena itu, jangan heran kalau warga jemaatnya berlaku seperti orang kaya.  

Saya jadi ingat cerita Pdt. Bigman Sirait  yang sempat mengamati  beberapa hamba Tuhan yang bersusah payah kredit di bank agar bisa membeli mobil baru.  Karena dengan mobil baru akan terlihat lebih diberkati. Terngiang juga di benak saya saat mendengar  keluhan sekelompok ibu-ibu petani miskin kampung.  Mereka terpaksa harus mengisi begitu banyaknya amplop yang diedarkan. Alasannya mereka malu dengan  para penatua dan syamas kalau amplop dikembalikan kosong.  

Kalau untuk alasan di atas, saya hanya bisa prihatin dan berdoa.  Semoga kita semua menjadi lebih bijaksana untuk hidup di dunia yang sementara ini.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home