Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 15:39 WIB | Rabu, 19 Februari 2020

Jogja Gallery Gelar Pameran Bersama “Raiku”

Jogja Gallery Gelar Pameran Bersama “Raiku”
Doa Simbok – cat minyak di atas kanvas – 111 cm x 92 cm – Tino Setyono – 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Jogja Gallery Gelar Pameran Bersama “Raiku”
Dari kiri ke kanan: The Sculptor (batu andesit-Nugroho), mBako Srinthil (cat akrilik di atas kanvas-MN Wibowo)
Jogja Gallery Gelar Pameran Bersama “Raiku”
Kasih Ibu – akar kayu jati - 100 cm x 120 cm x 25 cm - Tino Setyono – 2019.
Jogja Gallery Gelar Pameran Bersama “Raiku”
Dari kiri ke kanan: Ketika Kata tak lagi punya arti (Totok Buchori), Look Deeper (S Priadi), Semakin Tinggi (Januri).
Jogja Gallery Gelar Pameran Bersama “Raiku”
GBPH Yudhaningrat menyaksikan salah satu karya berjudul “Tidak Ada Lagi Kawan Bermain” (Prinhadi Moeljono) saat pembukaan pameran “Raiku” di Jogja Gallery, Jumat (14/2) malam.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Lima seniman-perupa menginisiasi pameran bersama di Jogja Gallery dengan melibatkan lebih 70-an seniman-perupa dari Yogyakarta dan luar kota. Pameran bertajuk “Raiku” dibuka oleh GBPH Yudhaningrat, Jumat (14/2) malam.

Pameran “Raiku” menjadi ajang berkumpul seniman-perupa mempresentasikan karya dua-tiga matra sehingga diharapkan terjadi transit-transisi proses maupun nilai kekaryaan di antara peserta maupun peserta dengan pengunjung.

Wajah menjadi ekspresi manusia yang relatif jujur. Dalam tema Raiku, yang dalam bahasa Indonesia bermakna wajahku, sebagian besar seniman-perupa mengekesplorasi wajah dalam karyanya, bisa potret diri ataupun wajah sehari-hari yang dijumpai di masyarakat.

“Perupa dituntut untuk memberikan gambaran ketelitian, roh, dan juga proses yang harus dipenuhi agar karyanya menjadi lebih menarik, memiliki ciri khas, dan semoga di masa-masa mendatang pencapaian kelompok ini bisa menjadi lebih baik dan bisa melibatkan lebih banyak perupa, terutama memberikan ruang bagi seniman-perupa milenial yang belum banyak diketahui oleh publik seni rupa.” kata GBPH Yudhaningrat dalam sabmutannya saat membuka pameran, Jumat (14/2).

Wajah-wajah yang berbicara, nuansa-suasana, secara umum itulah yang terlihat dari karya-karya yang dipresentasikan, meskipun beberapa seniman melakukan hingga pada pembacaan realitas.

Pada karya tiga matra berjudul “Semakin Tinggi”, bangunan hunian-hotel dengan obyek figur manusia yang kelelahan memanjat bangunan tersebut menjadi kritik Januri atas realitas hari ini. Wajah-wajah kota semakin hari semakin meninggi oleh bangunan yang sebagian besar alasannya atas nama akomodasi bagi pengunjung-wisatawan untuk meningkatkan industri pariwisata. Dalam citraan sederhana, bahkan untuk sekedar melihat matahari pagi atau tenggelamnya matahri masyarakat harus bersusah payah memanjat hingga puncak bangunan.

Pada titik lain, realitas hari ini harga jual hunian yang semakin tinggi seturut dengan peningkataan permintaan bahkan menjadi “ancaman” bagi generasi milenial hari ini untuk memilikinya. Dengan proyeksi harga hunian yang terus naik dan pendapatan yang tidak mencukupi untuk membayar uang muka dan cicilan, memiliki hunian sendiri seolah menjadi mimpi bagi generasi milenial hari ini.

“Tidak Ada Lagi Kawan Bermain”, lukisan dalam medium cat minyak di atas kanvas berukuran 105 cm x 125 cm karya Prinhadi Moeljono dengan obyek anak kecil dalam ekspresi sibuk memainkan game dari gawai pintar yang dipegangnya. Dunia anak adalah dunia bermain dalam tumbuh-kembang bersama teman-temannya. Dan ketika semua ‘permainan’ telah tersedia dalam sebuah gawai pintar, masyarakat sering kehilangan ruang interaksi-sosialiasi. Tidak terkecuali anak-anak.

Dalam karya panel berjudul “Anxiety”, perempuan perupa Ike Wulansari melukiskan kegelisahan dalam citraan wajah monochrome dengan latar belakang warna yang berbeda-beda. Sementara perupa senior Kartika Affandi yang identik dengan obyek bunga, dalam goresan tangan cat akrilik di atas kanvas melukis dirinya dalam karya berjudul “Padma”.

Selain ekspresi, wajah menjadi gambaran relasi yang terbangun dengan lingkungan sekitarnya. Dalam material akar kayu jati berukuran 100 cm x 120 cm x 25 cm Tino Setyono membuat karya patung-relief berjudul “Kasih Ibu” dalam ukiran yang detail. Sebuah lukisan dengan obyek perempuan tua dalam medium cat minyak di atas kanvas berukuran 111 cm x 92 cm, dalam sapuan realis karya Tino berjudul “Doa Simbok” tersebut bukanlah sekedar pengharapan. Namun sebuah relasi yang terbangun sangat mendalam.

Pameran seni rupa bertajuk “Raiku” berlangsung di Jogja Gallery Jalan Pekapalan No 7 Yogyakarta, 14-23 Februari 2020.

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home