Loading...
DUNIA
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 14:13 WIB | Senin, 22 September 2014

John Howard Malu Terkait Perang Irak

Mantan perdana menteri Australia John Howard. (Foto: theaustralian.com.au)

AUSTRALIA, SATUHARAPAN.COM – Mantan perdana menteri Australia John Howard merasa malu telah percaya data intelijen yang salah hingga Terkait Perang Irakmengirim pasukan Australia dan terlibat perang di Irak pada 2003.

Dalam sebuah wawancara tv yang dikutip Radio Australia Senin (22/9), dia menyatakan bahwa data intelijen yang digunakannya untuk melibatkan angkatan bersenjata Australia ke Irak kala itu tidaklah akurat,

Tetapi menurutnya keputusan mengirim pasukan ke Irak saat itu bukanlah tindakan bohong yang disengaja.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh Seven Network, John Howard yang menjabat dari tahun 1996 sampai 2007, menyatakan bahwa ia dan Komite Keamanan Nasional Kabinet mengirim pasukan Australia ke Irak karena Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal dan merupakan ancaman terhadap negara-negara barat.

"Saya terkejut melihat betapa kuatnya pernyataan-pernyataan yang ada di dalam tinjauan Intelijen Nasional Amerika bulan November 2002," kata dia,

"(laporan tersebut) menyatukan seluruh intelijen Amerika, dan mereka terus menerus menyatakan bahwa mereka menganggap Irak memiliki senjata pemusnah massal."

Namun, selanjutnya Howard mengatakan muncul bukti-bukti bahwa anggapan tersebut tidak benar, dan ia pun kesulitan menjelaskan mengapa pemerintah memutuskan mengirim pasukan ke Irak.

"Saya malu. Betul-betul malu. Saya waktu itu benar-benar percaya," Ia bercerita pada pewawancaranya, Janet Albrechtsen.

"Jadi saya malu dan saya berusaha menjelaskan...bahwa (tindakan itu) bukanlah penipuan. Mungkin (tindakan itu), yang berdasarkan informasi yang ada adalah tindakan yang salah, tapi tidaklah dibuat-buat," tambahnya.

ISIS

Howard lalu menyatakan tidak setuju bila dikatakan bahwa konflik di Irak, yang dipimpin Amerika Serikat dan Inggris, adalah salah satu pemicu terbentuknya kelompok Islamic State Iraq dan Syria (ISIS). 

"Kalau anda ingin membebani tanggung jawab (tentang ISIS) hanya ke tindakan invasi tahun 2003, saya beritahu bahwa Suriah tidaklah terlibat dalam operasi militer di luar, tetapi sudah ada lebih dari 200 ribu korban perang sipil Suriah," kata dia.

"Begitu banyak tindakan ISIS terjadi karena apa yang terjadi di Suriah, dan adalah pembacaan sejarah yang salah bila dikatakan bahwa itu adalah akibat kejadian di Irak tahun 2003 lalu."

Bulan Agustus, presiden AS, Barack Obama, menyerang ISIS di Irak. Australia selama ini mendukung tindakan AS dengan cara mengirim bantuan kemanusiaan dan militer ke warga Irak yang diserang militan ISIS.

Selain itu, Australia mengirim pesawat tempur dan pasukan ke Timur Tengah.

Di Australia sendiri, telah diumumkan oleh pihak berwenang baru-baru ini bahwa ada rencana oleh pihak-pihak yang terkait ISIS untuk menculik orang di Sydney.

Menurut Howard, memang ada ancaman terorisme di Australia, tetapi ancaman itu tidak boleh dijadikan pembenaran untuk menghambat migrasi pemeluk Islam ke Australia.

Untuk mencegah radikalisasi, kaum Muslim muda harus diajak membaur ke masyarakat, karena ada orang-orang yang terlalu banyak bergaul di komunitas-komunitas tertutup, di mana radikalisasi bisa terjadi. (radioaustralia.net.au)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home