Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Melki Pangaribuan 18:00 WIB | Sabtu, 03 September 2016

Jokowi Minta WNI di Tiongkok Kampanyekan Pariwisata RI

Bagi warga Indonesia yang tinggal di Tiongkok, Presiden berharap agar mereka mempelajari bagaimana negara Tirai Bambu ini dapat berkembang dengan sangat cepat.
Jokowi Minta WNI di Tiongkok Kampanyekan Pariwisata RI
Presiden Joko Widodo ketika bertemu masyarakat Indonesia di Golden Hall Shanghai Mart, pada hari Sabtu (3/9). (Foto-foto: Dok. BPMI)
Jokowi Minta WNI di Tiongkok Kampanyekan Pariwisata RI
Dalam pertemuan yang dihadiri sekira 800 masyarakat Indonesia dari berbagai kota di Tiongkok, Presiden menyampaikan beberapa kebijakan yang sudah diambil, yakni fokus pada keterbukaan dan kompetisi.

SHANGHAI, SATUHARAPAN.COM – Presiden Joko Widodo meminta warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Tiongkok untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

Hal itu disampaikan Jokowi ketika bertemu masyarakat Indonesia di Golden Hall Shanghai Mart, pada hari Sabtu (3/9).

"Seluruh warga Indonesia di Tiongkok mengampanyekan Indonesia patut dikunjungi," kata Jokowi.

Menurut Jokowi Indonesia adalah negara yang memiliki berbagai pesona alam sehingga layak dijadikan destinasi wisata bagi para wisatawan.

Sebagai perbandingan, Presiden memberikan gambaran di mana Malaysia dikunjungi oleh 24 juta wisatawan mancanegara (wisman) dalam satu tahun, Thailand didatangi oleh 28 juta wisman.

"Indonesia 9,8 juta (wisman). Padahal tempat yang indah-indah di kita itu banyak sekali. Apa yang keliru, apa yang salah? Tahun 2019 harus sudah di atas 20 juta (wisman)," katanya.

Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Iriana menjelaskan bahwa ia telah menandatangani kerja sama di bidang pariwisata dengan Presiden Xi Jinping tahun lalu. Saat itu kedua negara berupaya untuk mendatangkan sepuluh juta wisatawan asal Tiongkok ke Indonesia dan upaya tersebut kini telah mulai mendatangkan hasil.

"Manado mulai bulan lalu terjadi peningkakan turisnya hingga 1.000 persen karena ada direct flight dari empat provinsi di sini (Tiongkok). Sekarang di Manado banyak bangun restoran, hotel. Banyak sekali," katanya.

Aturan Dokter Lulusan Luar Negeri Akan Diselesaikan

Sementara itu, Ariawan, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi kedokteran mengeluhkan tentang kesulitan yang dihadapinya bila akan mengabdi sebagai dokter di Indonesia. Ia mengaku mengalami kesulitan karena banyaknya aturan yang dihadapi oleh lulusan fakultas kedokteran dari perguruan tinggi di luar negeri.

Terhadap permasalahan tersebut, Presiden menjelaskan bahwa ia telah mengetahui masalah yang dihadapi oleh mahasiswa kedokteran yang menimba ilmu di luar negeri.

"Masalah kedokteran tidak hanya urusan mahasiswa di sini (Tiongkok). Saat berkunjung ke Rusia keluhannya sama, Amerika Serikat sama. Bukan aturan yang ada di pemerintah. Aturan ini yang banyak dari organisasi. Inilah yang baru dalam proses dan akan kita selesaikan," kata Presiden.

Diaspora Indonesia akan Pulang

Indah, warga Aceh yang tengah menempuh studi jurnalistik komunikasi meminta nasihat Presiden jika ia kelak kembali ke Indonesia.

"Mahasiswa kalau pulang, ya pulang saja," jawab Presiden.

Tentunya bagi mereka yang tengah menimba ilmu maupun bekerja di luar negeri, jika ingin kembali dan bekerja di Indonesia harus mempersiapkan keahlian dan keterampilan dalam mengelola berbagai hal.

"Kalau yang di sini, misalnya sudah bekerja di Alibaba. Pulang ke Indonesia buatlah Alibaba Indonesia," kata Presiden.

Presiden menceritakan saat ia berkunjung ke Silicon Valley di mana terdapat 70 warga Indonesia yang bekerja di Google. Ketika itu mereka menanyakan kepada Presiden mengenai hal-hal yang dapat mereka lakukan di Indonesia nanti.

"Kamu pulang buat Google Indonesia sehingga kita punya platform sendiri," kata Presiden.

Bagi warga Indonesia yang tinggal di Tiongkok, Presiden berharap agar mereka mempelajari bagaimana negara Tirai Bambu ini dapat berkembang dengan sangat cepat.

"Di sini harus apa dan ngapain? Kenapa mereka bisa mengerjakan rel kereta api setahun sejauh 2.000 kilometer?" pikir Presiden.

Sebelumnya, Presiden mengatakan bahwa Indonesia baru saja akan membangun kereta cepat Jakarta-Bandung sejauh 140 kilometer. Namun yang terjadi malah kegaduhan yang timbul.

"Dua tahun yang lalu di Tiongkok terdapat 18.000 kilometer rel kereta api. Sekarang sudah 21.000 kilometer. Kita 140 kilometer sudah ramai. Ramai debatnya, bukan ramai kerjanya," jelas Presiden.

Lebih lanjut, Presiden berharap agar keahlian yang dimiliki diaspora Indonesia mampu bermanfaat bagi negara.

"Jangan diisi orang lain. Keahlian yang spesifik dan sulit kita isi sendiri," kata Presiden.

Kompetisi dan Keterbukaan

Dalam pertemuan yang dihadiri sekira 800 masyarakat Indonesia dari berbagai kota di Tiongkok, Presiden menyampaikan beberapa kebijakan yang sudah diambil, yakni fokus pada keterbukaan dan kompetisi.

"Dalam era kompetisi, kita mau buka," kata Presiden.

Namun, Presiden mengingatkan bahwa di dalam negeri kita harus mempersiapkan segala sesuatunya agar mampu bersaing dan berkompetisi.

"Kompetisi tidak bisa kita tolak. Komitmen kita keterbukaan dan kompetisi," katanya.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menkominfo Rudiantara, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito, Kepala BIN Sutiyoso, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan Dubes Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Sugeng Rahardjo. (Setpres)

Editor : Eben E. Siadari

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home