Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:31 WIB | Jumat, 08 November 2019

“Kahanan” Melawan Diskriminasi Tubuh Mini Melalui Seni

“Kahanan” Melawan Diskriminasi Tubuh Mini Melalui Seni
Adegan-dialog Nanik dengan bapaknya dalam pementasan drama “Kahanan” di Gedung Societet Militer-TBY, Rabu (6/11) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
“Kahanan” Melawan Diskriminasi Tubuh Mini Melalui Seni
Beberapa adegan dalam drama “Kahanan”
“Kahanan” Melawan Diskriminasi Tubuh Mini Melalui Seni
Adegan dalam drama “Kahanan”

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Bosan dengan kondisi tubuhnya yang pendek sehingga kerap mendapatkan perlakuan tidak semestinya sebagai manusia dan ingin merasakan sensasi bertubuh tinggi, Tulus (diperankan oleh Dody Micro) naik ke atas scaffolding. Ia meninggalkan segala rutinitas membantu adiknya mengerjakan tugas sekolah, membantu kakaknya dengan banyak aktivitas rumah termasuk menggembalakan bebek.

Meskipun bertubuh kecil/mini, Tulus menjadi salah satu tulang punggung keluarga dengan kepintaran dan sikap riang gembiranya, sehingga disenangi banyak orang. Dialog Tulus yang berada di atas scaffolding dengan saudara-saudara dan bapak-ibunya menjadi salah satu adegan drama berbahasa Jawa berjudul “Kahanan”.

Adegan lain mengisahkan keengganan Vely untuk sekolah. Kerap mendapatkan perlakuan perundungan (bullying) dari teman-temannya karena kondisi fisiknya yang mini tidak senormal teman-temannya, menjadi keresahan ibunya mengingat sekolah dan pendidikan menjadi salah satu jalan memerangi kebodohan, meningkatkan potensi diri, dan pada akhirnya menempatkan kesejajaran hubungan manusia.

Ukuran tubuh yang tidak normal kerap pula membentuk relasi yang tidak seimbang-setara di masyarakat. Dalam satu dialog antara Nanik dan bapaknya (diperankan Didik Saputro), Nanik menolak untuk menikah hanya gara-gara keadaan tubuhnya yang mini.

Nek pancen wong-wong do raisa nampa kahananku sing kaya ngene iki, aku ora rabi ya ora apa-apa, Pak!” (Kalau memang orang-orang tidak bisa menerima keadaan diriku yang seperti ini, aku tidak menikah tidak apa-apa, Pak!). Adegan-dialog dalam drama tersebut masih kerap ditemui dalam realitas sehari-hari di masyarakat.

Drama karya Nanik Indarti dimainkan oleh lima penyandang achondroplasia Doddy Micro, Didik Saputro, Vely Hilda Elmaningtyas, Nanik Indarti, serta Ninit Ungu yang tergabung dalam Project Unique di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta (TBY), pada Rabu (6/11) malam. Kelima penyandang achondroplasia tersebut beradu peran dengan pemain lain yang memiliki ukuran tubuh  normal.

Drama “Kahanan” merupakan cerita yang dikemas dengan mengangkat isu-isu disabilitas bagi penyandang achondroplasia (tubuh mini) seperti isu pendidikan, isu gender bagi laki-laki, isu pernikahan yang dialami oleh orang-orang bertubuh mini penyandang achondroplasia dari berbagai daerah di Indonesia. Pertunjukan ini dimainkan oleh orang-orang bertubuh mini penyandang achondroplasia dari Yogyakarta dan Surabaya.

Achondroplasia adalah gangguan pertumbuhan tulang yang ditandai dengan tubuh kerdil (dwarfisme) dan tidak proporsional. Penderita achondroplasia memiliki ukuran tulang dada normal, namun ukuran lengan dan tungkai pendek. Rata-rata tinggi badan penderita achondroplasia laki-laki dewasa adalah 131 cm, sedangkan untuk wanita dewasa adalah 124 cm. Meskipun kondisi fisiknya tidak normal, penderita achondroplasia memiliki tingkat inteligensia yang normal.

Bertindak sebagai pemimpin produksi Nanik Indarti mengajak Dhasy SWAS untuk menerjemahkan ide-idenya ke dalam bahasa tulisan untuk selanjutnya dituangkan ke dalam teks naskah. “Kahanan” menjadi salah satu upaya Nanik bersama Project Unique melawan diskriminasi dan untuk mendorong penyandang achondroplasia lain untuk lebih berdaya mengoptimalkan diri dengan cara yang positif. Salah satunya melalui seni teater.  Seni menjadi cara yang ‘luwes’ untuk membicarakan persoalan-persoalan  tersebut.

“Kahanan” merupakan pementasan kedua Project Unique mengadopsi gagasan dari buku karangan Nanik berjudul Aku Perempuan Unik, sebuah catatan inspiratif para perempuan bertubuh mini penyandang achondroplasia yang memiliki berbagai profesi seperti dosen, guru, penari, ibu rumah tangga, dan pekerja seni. Mereka telah mampu mengolah diri dengan cara positif.

Dengan buku tersebut Nanik bersama anggota Project Unique lainnya bisa memberikan motivasi bagi para penyandang tubuh mini di seluruh Indonesia yang masih minder, tidak percaya diri, untuk bangkit melawan diskriminasi. Di sisi lain buku  ini diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap penyandang achondroplasia bahwa mereka punya kesempatan hidup yang sama di masyarakat.

Dari buku yang sama tahun lalu Project Unique mementaskan drama berjudul “Sepatu yang Sama, Kisah Jiwa dan Angka” di Pendhapa Art Space.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home