Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 09:25 WIB | Jumat, 17 Agustus 2018

Kanggo Riko, Program Anyar Banyuwangi Angkat Usaha Warga Miskin

Ilustrasi. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat mengumumkan program Rantang Kasih, dengan mengantarkan makanan bergizi ke sejumlah warga lansia, pada 26 Oktober 2017. (Foto: Dok satuharapan.com/banyuwangikab.go.id)

BANYUWANGI, SATUHARAPAN.COM – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meluncurkan program inovatif anyar bernama ”Kanggo Riko”, yang dalam bahasa setempat berarti ”Untuk Anda”.

Program itu fokus memberdayakan ribuan warga miskin di perdesaan agar mandiri secara ekonomi. ”Jadi program ini membantu ribuan masyarakat kurang mampu meningkatkan usaha ekonominya. Tahun depan, kami lipat gandakan jumlah penerimanya,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas saat meluncurkan program itu di Desa Jajag, Rabu (15/8). Ia memberikan sambutan lewat Facetime karena sedang menunaikan ibadah haji.

Dalam program tersebut, Banyuwangi menggelontorkan dana penguatan ekonomi untuk 1.160 rumah tangga miskin (RTM) yang sedang merintis usaha atau berniat meningkatkan usahanya. Per RTM mendapat Rp2,5 juta, disesuaikan dengan kebutuhan usaha mereka.

”Misalnya, ada yang jual pentol (bakso mini), kami tingkatkan dengan memberi gerobak dan kompor baru. Ada yang buka tambal ban tapi masih pakai pompa manual, diberikan compressor. Ada ibu-ibu pintar menjahit tapi tidak punya mesin, kami beri mesinnya. Dan sebagainya,” imbuh Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko, seperti dilansir laman resmi banyuwangikab.go.id.

Tahap awal, program ini dilaksanakan di 29 desa. Anggarannya diambil dari Alokasi Dana Desa (ADD) dari APBD Banyuwangi. ADD adalah penyokong Dana Desa (DD) dari APBN. Pada 2018, anggaran untuk 189 desa di Banyuwangi Rp316,34 miliar, terdiri atas ADD (APBD Banyuwangi) Rp148,63 miliar dan Dana Desa (APBN Indonesia) Rp167,7 miliar.

”Semakin besar Dana Desa, anggaran ADD juga kian besar. Momentum perhatian luar biasa dari Presiden Jokowi untuk masyarakat desa ini perlu benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi warga. Dana Desa sebagian menggarap infrastruktur, nah ADD mendukungnya dengan memperkuat usaha warga termasuk lewat program Kanggo Riko ini,” kata Anas.

Salah seorang penerima program, Karlina (48), adalah penjual pentol (bakso mini) yang mendapat kompor dan gerobak. ”Tadinya saya pakai kompor tungku, sekarang diberi kompor gas,” kata Karlina senang.

Ada pula Sri Kasiyati, penjual es yang mendapatkan bantuan blender dan cup sealer (alat penutup gelas). ”Kemasan gelas saya lebih menarik, anak-anak yang beli jadi senang. Bisa tambah laris,” ujarnya.

Inovasi Berkelanjutan Pengembangan Desa dan Masyarakatnya

Anas mengatakan, program ini adalah bagian dari inovasi berkelanjutan pengembangan desa dan masyarakatnya yang dilakukan Banyuwangi setelah sebelumnya menggarap program ”Smart Kampung”, e-village budgeting, uang saku tiap hari bagi pelajar kurang mampu, dan ”Rantang Kasih” yang membagikan makanan bergizi tiap hari ke warga miskin lanjut usia.

Yang membedakan program ”Kanggo Riko” dengan program inovatif lainnya yang telah digeber adalah pada fokus program. ”Misalnya, Rantang Kasih adalah program karitatif, memberi makanan tiap hari ke masyarakat termiskin yang tidak bisa lagi dibuat produktif karena faktor usia. Nah, Kanggo Riko ini fokusnya adalah memberdayakan. Sasarannya warga miskin, tapi usia produktif, masih berpeluang diangkat ekonominya,” Anas menjelaskan. 

Editor : Sotyati

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home