Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Gurgur Manurung 00:00 WIB | Senin, 21 November 2016

Karya Berbasis Lingkungan

Kesadaran tentang lingkungan harus ditanamkan sejak usia dini. Apalagi di tengah orientasi masa kini yang hanya mementingkan uang. Bibit-bibit itu sudah ada, tinggal bagaimana mengelolanya.

SATUHARAPAN.COM - Koran Nasional baru-baru ini memberitakan bahwa  penelitian berorientasi lingkungan merajai kompetisi ilmiah dihelat  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).  Kegiatan penelitian berlangsung  dalam rangka kompetisi ilmiah. Kompetisi ilmiah  itu terbagi dua, yakni  National  Young  Inventor  Award (NYIA) dan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), (Kompas 28/09/2016).

Jumlah karya yang lolos NYIA sebanyak 29 temuan dan 53 karya  ilmiah masuk dalam LKIR.  Juri internasional  Alan West dan Gerard Hughes terkesan dengan banyaknya penemuan atau pun karya ilmiah yang berorientasi pada lingkungan. West mengatakan bahwa  animo generasi muda terhadap  karya yang berbasis lingkungan sangat penting karena  generasi mudalah yang akan membantu komunitas global mengatasi isu lingkungan. West menambahkan bahwa banyak solusi praktis dari penelitian ini.

Berita Kompas ini sangat membahagiakan saya selaku praktisi lingkungan. Sebab pengalaman saya di lapangan menunjukkan  kendala kita di lapangan dan  perdebatan di media sosial (medsos) adalah pikiran-pikiran masyarakat kita yang  berorientasi uang. Segala sesuatu pekerjaan berorientasi uang.  Kelayakan bisnis dilakukan  dengan feasibility study dengan orientasi uang. Berapa untung (uang) yang dihasilkan dari proyek. Hampir dipastikan bahwa kerugian nilai lingkungan diabaikan.

Konsep berpikir inilah ancaman yang sangat serius bagi  masa depan bangsa kita.  Orientasi pertumbuhan ekonomi  menjadi fokus utama dari Presiden/Wakil Presiden,  menteri, gubernur, bupati, camat, lurah/kepala desa, RW/RT dan umumnya masyarakat.  Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa para akademisi kita juga banyak yang terjebak dengan orientasi proyek. Dengan kata lain idealisme akademisi acapkali tergadai karena tujuan mendapatkan proyek. Tidak peduli dampak terhadap keadilan bagi manusia dan lingkungan. Kita juga memahami bahwa kurikulum di Perguruan Tinggi (PT) mendorong akademisi untuk berorientasi pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan angka-angka.          

Kita patut bangga dengan Presiden  Jokowi yang dikenal kejujuran dan integritasnya  dan  munculnya pemimpin-pemimpin  di berbagai daerah  seperti fenomena Ahok, Ridwan Kamil, Risma, Ganjar Pranowo dan lain sebagainy. Tetapi satu hal yang perlu disadarkan bahwa kebijakan-kebijakanya masih berorientasi pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, ketertarikan anak-anak remaja kita menghasilkan karya berbasis lingkungan  sangat melegakan hati. Sikap generasi  muda bangsa kita berkarya dengan basis lingkungan menjadi titik balik pembangunan.  Inilah momentum bagi kita untuk mengubah paradigma pembagunan dari orientasi pertumbuhan ekonomi ke orientasi lingkungan.

Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas, kapabilitas yang mumpuni,  kesederhanaan, keterbukaan dan berbagai syarat kepemimpinan dalam berbagai  teori kepemimpinan. Tetapi satu hal yang kita lupakan bahwa pembangunan  kita belum berbasis lingkungan. Kita harus menyadari bahwa kita tidak dapat hidup tanpa lingkungan.  Akibat pembangunan  yang berorientasi pertumbuhan ekonomi  maka ekonomi kit  bertumbuh, alam rusak dan kesehatan  masyarakat menurun. Dampak pembangunan terhadap kesehatan masyarakat masih diabaikan. Seolah-olah pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi jawaban untuk kesejahteraan. Kita lupa, tak ada gunannya uang ketika lingkungan kita terancam rusak parah. Pertimbangan lingkungan sejatinya yang utama, faktanya lingkungan menjadi variabel  yang diabaikan.

 

Lingkungan dan konstitusi kita

Pemerintahan Jokowi/Jusuf Kalla  fokus mempermudah izin usaha untuk memperlancar investasi.  Pemerintah bangga dengan pemberian  waktu yang dipangkas untuk memperoleh izin usaha. Ironisnya, percepatan untuk memperoleh  izin tanpa pertimbangan dampak terhadap lingkungan.   Pemerintah lupa bahwa lingkungan memiliki Daya Dukung (DD) dan Daya Tampung (DT) yang sangat amat  terbatas.  Jari-jari bumi atau diameter bumi kita tidak pernah bertambah. Luas bumi kita tidak akan pernah bertambah. Cepatnya memperoleh perizinan dianggap sebagai prestasi.  Memperoleh izin secara cepat itu baik dengan syarat mutlak telah memperhitungkan Daya Dukung (DD) dan Daya Tampung (DT) lingkungan.

Diskusi-diskusi masyarakat di berbagai seminar,  di kampus-kampus, di Medsos  atau diberbagai kesempatan umumnya berorientasi pertumbuhan ekonomi. Kita lupa, pertumbuhan ekonomi  akan berhenti di titik  tertentu ketika DD dan DT Lingkungan tidak memadai. Bahkan, lingkungan akan berbalik marah  dan  menghentikan pertumbuhan ekonomi bahkan menelan jiwa umat manusia  tanpa pilih bulu dan tidak mengenal waktu bersama harta miliknya dalam waktu sekejap.  Banjir bandang, longsor, kekeringan yang berkelanjutan menjadi bukti nyata akibat kegiatan pembangunan yang mengabaikan lingkungan.

UU Nomor 32 tahun  2009  tentang Perlindungan Pengelolaan   Lingkungan (PPLH)  sudah memastikan agar pembangunan berbasis lingkungan.  UU No 32 Tahun 2009 Pasal 15 Ayat 1 menyebutkan: "Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membuat Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.

Sistem perundangan kita yang tertuang  dalam UU Nomor 32  tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH)  memerintahkan kita agar memastikan  pembangunan sesuai prinsip pembangunan berkelanjutan. Realitanya, dalam kasus reklamasi Jakarta, hampir tidak ada yang menyinggung  KLHS dan menyelesaikan masalah dengan berpegang kepada UU Nomor  32 Tahun 2009.  Sikap ini merupakan representasi pemimpin kita dalam rangka kasus-kasus lingkungan di seluruh Nusantara. Faktanya, hampir di semua daerah tidak memiliki KLHS. Padahal, KLHS  mutlak menjadi acuan untuk membangun dan mengontrol pembangunan.

Perlu disadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan lingkungan hanyalah pertumbuhan sesaat. Pertumbuhan ekonomi hanyalah kesiaiaan ketika alam berbalik marah karena melebihi DD dan DT lingkungan. Melihat pembangunan kita yang masih jauh dari orientasi lingkungan, maka kita patut bersyukur dan belajar dari anak-anak remaja kita yang antusias melakukan penelitian yang berbasis lingkungan.  Di era pemanasan global,  anak-anak generasi muda kita harus didorong agar paradigma berpikir mereka berkarya dan bertindak berdasarkan lingkungannya.

Prestasi anak remaja kita ini merupakan momentum bagi kita agar anak-anak sejak dini diperkenalkan hidup yang berorientasi lingkungan.  Prestasi anak-anak remaja kita memberikan kita pelajaran agar segala karya kita berorientasi lingkungan. Kita harus menyadari bahwa kita hidup karena ada lingkungan. Tidak mungkin kita hidup tanpa lingkungan yang sehat.

 

Penulis adalah praktisi lingkungan, alumnus pascasarjana IPB Bogor.  Aktif di Yayasan Percepatan Pembangunan Kawasan Danau Toba (YP2KDT). 

Editor : Trisno S Sutanto

Back to Home