Loading...
INSPIRASI
Penulis: Katherina Tedja 04:36 WIB | Jumat, 18 April 2014

Kasih Agung pada Jumat Agung

Memanggul salib (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Sayalah pendosa itu. Sayalah itu, yang demi keuntungan telah mencemari bait  suci-Mu hingga mirip sarang penyamun…. Dalam kesombongan, saya telah berkata, ”Akan kuberikan nyawaku bagi-Mu.” Dan segera pula, saya telah menyangkal Engkau berkali-kali. Sayalah itu, yang berdiri kelu di antara seruan massa ”Salibkan Dia!” Gemetar dan tak kuasa bicara, bahkan untuk sekadar mengungkap kebenaran.

Sayalah pendosa itu. Namun, Engkaulah yang terbelenggu, dipukul, dan diludahi. Dibawa dari satu pengadilan ke pengadilan lain bagai domba tak berdaya. Cambuk kulit cabang tiga—yang  dilekatkan dengan tulang, bebatuan, logam, dan serpihan kaca—mengoyak kulit-Mu.

Apa yang Kau lakukan sehingga layak menerima semua ini? Bukankah yang buta menjadi celik, yang lumpuh berjalan, yang mati hidup kembali, jiwa yang terkungkung kuasa kegelapan dibebaskan, dan kebenaran diberitakan. Karena itukah mahkota duri dibebankan pada kepala-Mu? Itukah yang membuat orang-orang membenci-Mu? Bahkan orang-orang yang tidak mengenal-Mu. Sungguh kebenaran-Mu bagaikan pedang bermata dua, ketajamannya menusuk kedalaman kelam sanubari…. Itukah sebabnya mereka membalas-Mu?

Dan di sana, di kayu yang ditinggikan itu, Engkau menatap ke bawah. ”Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Pengampunan terus dicurahkan.…”Pada hari ini juga engkau bersama denganKu di Firdaus.” Anugerah terus dibagikan. Hingga kini. Bagi saya, juga bagimu.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home