Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 18:17 WIB | Jumat, 29 Maret 2019

Kasih-Nya Tiada Putus

Ketika Allah mengampuni kita, sejatinya Allah mengulurkan tangan perdamaian kepada kita. Dan kenyataan ini seharusnya membuat kita, apa pun tipe kita—anak Sulung maupun Bungsu—mau berdamai dengan Allah.
Air terjun Bihewa, Nabire, Papua (foto: Ramadhan/Asumsi.co)

SATUHARAPAN.COM – ”Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: ’Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.’ Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka…” (Luk. 15:1-3). Demikianlah catatan Lukas. Inilah juga konteks lahirnya perumpamaan ”Anak yang Hilang”.

Kisah ”Anak yang Hilang ” menarik, dan memang indah. Apalagi, jika kita merasakan bagaimana besarnya pergumulan kita melawan kecenderungan hati untuk melawan Allah. Dan ini yang membuat orang sering terfokus kepada si Bungsu.

Padahal, jika kita perhatikan konteksnya lagi, dan kisah terbuka di akhir cerita, Sang Guru dari Nazaret hendak mengarahkan perhatian pendengar pada si Sulung.

Kelihatannya perumpamaan Sang Guru memang tidak dimaksudkan hanya mengajak para pendengar berpikir apakah dia si Bungsu atau si Sulung. Lebih jauh, perumpamaan ini hendak memperlihatkan bahwa Allah menerima keduanya. Allah Bapa mengasihi kedua tipe manusia ini.

Kelihatannya, kita perlu mengubah judul perumpamaan ini—saya setuju dengan guru penerbitan saya H.A. Oppusunggu—dari ”Anak yang Hilang” menjadi ”Bapa yang Murah Hati”. Sesungguhnya, kedua anak tersebut sama-sama menghilangkan diri mereka.

Keduanya—baik yang berada di luar rumah maupun di dalam rumah—sama-sama anak hilang. Dan kenyataan hidup memperlihatkan bahwa kedua sifat itu ada dalam diri manusia.

Namun, sekali lagi, kasih Allah tidak berkesudahan. Kasih-Nya tiada putus. Itu jugalah yang hendak diperlihatkan dalam Kitab Yosua. Penulis hendak memperlihatkan bahwa Allah tetap memelihara umat-Nya (Yos. 5:9-12).

Apakah yang masuk ke tanah Kanaan itu lebih baik hidupnya ketimbang generasi sebelumnya? Kemungkinan besar tidak. Namun, Allah tetap setia. Dia mengasihi umat-Nya. Kepada generasi sebelumnya Allah memberi manna, lalu Allah memberi makan melalui tanah di mana mereka tinggal kepada generasi berikut.

Itu jugalah kesaksian Daud: ”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” (Mzm. 32: 1-2).

Ketika Allah mengampuni kita, sejatinya Allah mengulurkan tangan perdamaian kepada kita. Dan kenyataan ini seharusnya membuat kita, apa pun tipe kita—anak Sulung maupun Bungsu—mau berdamai dengan Allah.

Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan manusia berdosa, pertanyaannya: maukah kita didamaikan dengan Allah? (2Kor. 5:20).

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home