Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 07:35 WIB | Minggu, 27 Mei 2018

Kasih Seorang Ayah

Saat semua orang menjauh dan tidak mau terlibat dengan dirinya, seorang ayah akan berdiri dengan tegak di sana.
Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM – Beberapa hari ini tayangan video singkat seorang remaja yang menantang Presiden Jokowi menjadi viral.   ”Anak kurang ajar, keterlaluan,….” Berderet kata lain mendeskripsikan apa yang dilakukannya, dan kita semua murka melihatnya.

Berbagai komentar ikut mewarnai media sosial yang menyorotinya, sekolah yang dikatakan media massa sebagai tempatnya mendapatkan pendidikan pun membuat penyataan bahwa anak itu sudah tidak bersekolah lagi di situ sejak dua tahun lalu. Mungkin teman-teman sepermainannya juga tidak berani mendekatinya lagi.  Semua takut terbawa masalah, prihatin melihat dari garis batas.

Apakah remaja ini nakal? Ya.  Apakah remaja ini bersalah? Pasti.  Apakah remaja ini menyebalkan? Tentu saja.  Namun, di tengah-tengah kebencian orang-orang yang melihatnya, tampillah Sang Ayah yang membuat klarifikasi dan mohon pengampunan atas kenakalan dan kesalahan anaknya ke Presiden Jokowi dan seluruh rakyat Indonesia.  Itulah kasih seorang ayah.

Seorang ayah mungkin tidak menyaksikan saat anaknya pertama kali melangkahkan kaki, mungkin pula dia tidak tahu saat gigi-geligi sang anak mulai bertumbuh dan belajar mengucapkan kata. Mungkin pula ayah tidak tahu siapa saja teman sepermainan anaknya, tidak mengerti aplikasi gadget yang sekarang menjadi pembicaraan di kalangan teman-temannya.

Terkadang malah tegur kata dan hardik tajam yang dirasa Sang Anak.  Mungkin pula diam seribu basa yang dirasa seakan ayah tak menghiraukannya. Mungkin pula pukulan keras atau sabetan ikat pinggang yang terkenang saat anak tidak mengikuti aturannya.  Namun, seorang ayah, dialah yang tanpa ragu akan menerima dan mendampingi anaknya melewati masa yang diakibatkan kebodohan tindakannya.  Saat di mana Sang Anak terpuruk akibat kesalahannya.  Saat semua orang menjauh dan tidak mau terlibat dengan dirinya, seorang ayah akan berdiri dengan tegak di sana.

Dan jika seorang ayah di dunia saja demikian, tentunya terlebih lagi Bapa di surga.

 

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com )

 

Back to Home