Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:30 WIB | Jumat, 10 Januari 2020

Kayu Kelicung, Ikon Flora Nusa Tenggara Barat

Ajang kecilung (Diospyros macrophylla, Blume). (Foto: id.wikipedia.org)

SATUHARAPAN.COM – Ajang kelicung menurut Wikipedia ialah tumbuhan khas Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Barat. Ajang kelicung di daerah NTB dikenal dengan sebutan kayu kelicung.  Tanaman ini termasuk dalam divisi Magnoliophyta yaitu tumbuhan berbunga.

Pohon ajang kelicung, mengutip dari biodiversitywarriors.org,  dapat mencapai tinggi 46 meter dengan diameter batang 60 meter. Ajang kelicung atau kayu hitam Nusa Tenggara merupakan flora identitas Provinsi NTB. Pohon ajang kelicung yang diperkirakan berasal dari daerah di Filipina semakin menurun populasinya di alam liar.

Ajang kelicung saat ini sudah hampir punah. Awalnya tanaman ini tumbuh liar di hutan yang terletak di Pulau Lombok dan Sumbawa. Penebangan liar yang terjadi terus-menerus menyebabkan populasinya menyurut. Selain karena penebangan liar, menurunnya populasi juga disebabkan pertumbuhan tanaman ini sangat lambat, sehingga saat dibudidayakan juga lama tumbuhnya. Mahalnya harga kayu ajang kelicung membuat kayu ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga banyak yang ingin menjualnya.

Sebagai flora identitas Indonesia dari NTB, ajang kelicung pernah digunakan sebagai gambar pada perangko tempel yang ada di Indonesia, yang diproduksi tahun 1997.

Tanaman ini sering dimanfaatkan bagian kayunya. Kayu ajang kelicung memiliki kualitas yang bagus yaitu kuat dan pola serat kayunya juga indah.

Menurut  S Sastrapradja dan kawan-kawan (1977) dalam buku berjudul  Jenis-jenis Kayu Indonesia, Proyek Sumber Daya Ekonomi (Penerbit LBN-LIPI, Bogor), kayu ki calung, sebutan lain ajang kelicung, mempunyai berat jenis 0,6 dan digolongkan dalam kelas kekuatan II-III dan kelas keawetan V. Kayu tersebut pada umumnya digunakan untuk bahan jembatan, bangunan, bagian-bagian kapal, patung, dan perkakas rumah tangga. Masyarakat setempat memanfaatkan kayu ini untuk membuat berbagai kerajinan tangan seperti patung dan ukiran.

Menurut K Heyne (1987), dalam bukunya Tumbuhan Berguna Indonesia III (Badan Litbang Departemen Kehutanan, Penerbit Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta), ki calung memiliki kualitas kayu yang kuat, halus, dan tahan terhadap rayap.

Pemerian Botani Pohon Ajang Kelicung

Ajang kelicung mengutip dari menlh.go.id, merupakan tanaman berkayu dengan tinggi antara 10-46 meter. Batangnya berdiameter hingga 60 cm. Batang bagian bawah kayu hitam biasanya tidak bercabang hingga ketinggian antara 9-30 meter. Kulit batang ajang kelicung berwarna cokelat hingga merah tua, bagian tengahnya berwarna putih. Ajang kelicung termasuk tanaman dengan batang bercabang.

Ajang kelicung berdaun tunggal berbentuk menjorong yang berujung lancip. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan berbau harum. Buahnya bulat berwarna merah muda hingga jingga kekuningan. Kulit buahnya berbulu halus kemerah-merahan dengan daging buah berwarna putih kekuning-kuningan. Buanya mempunyai rasa yang manis. Dalam buah terdapat biji berwarna cokelat.

Kayunya tergolong dalam kelas kekuatan II - III. Kegunaan kayu ini selain sebagai bahan pembuat perabot rumah tangga juga untuk jembatan, bahan bangunan rumah, bagian bagian kapal, patung, ukiran, kerajinan tangan, dan finir.

Nama ilmiahnya, menurut Wikipedia adalah Diospyros macrophylla. Pohon ini disebut juga dengan kilang, areng-areng, kacang (NTB), mahirangan (Kalimantan), ki kacalung, ki calung (Sunda), dan siamang (Sumatera). Tanaman ini masih berkerabat dekat dengan eboni (Diospyros celebica) dan kesemek.

Tumbuhan ini, mengutip dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI, tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Irian Jaya, sampai Filipina. Pada umumnya, ajang kelicung  tumbuh pada dataran rendah dengan ketinggian tempat sampai 400 m dpl, namun di Jawa, jenis ini dapat tumbuh pada ketinggian hingga 800 m dpl.

Tumbuhan ini banyak dijumpai di tepi sungai dan tanah datar yang tidak tergenang air, tanah liat, tanah pasir, maupun tanah berbatu dalam hutan yang masih asli, pada ketinggian 5-800 m dpl.

Status Konservasi

Keberadaan ajang kelicung di Nusa Tenggara Barat ketika ini sudah nyaris punah. Awal mulanya tanaman ini tumbuh liar di hutan yang terletak di Pulau Lombok dan Sumbawa. Penebangan secara liar yang terjadi mengakibatkan populasi area kelicung menyurut, selain pertumbuhannya yang sangat lambat.  

Eksploitasi tumbuhan bernilai ekonomis tinggi ini membuat ajan kelicung (Diospyros macrophylla) menjadi tumbuhan yang terancam kelestariannya.

Menurut  Dr Johanis Palar Mogea dan kawan-kawan (2001), dalam buku Tumbuhan Langka Indonesia (Penerbit Puslitbang Biologi-LIPI, Bogor), status konservasi ajang kelicung adalah rawan (vulnerable=VU) dengan kriteria A1c. Kelangkaan tersebut disebabkan pembukaan lahan, perusakan habitat, dan penebangan secara liar, sehingga pohon ajang kelicung akan mengalami risiko kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu dekat,  apabila tidak dilakukan upaya konservasi.

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan kawasan konservasi in situ yang terletak di Provinsi Banten. Menurut B Darmaja (1987), dalam bukunya, Daftar Flora Fauna dan Ekosistem Taman Nasional Ujung Kulon (Penerbit Departemen Kehutanan, Banten), ajang kelicung  terdaftar dalam Daftar Flora Fauna TNUK, sehingga TNUK merupakan habitat alami Diospyros macrophylla.

Dalam upaya pelestarian ajang kelicung  di luar habitatnya harus mengetahui kondisi habitat alaminya. Kondisi habitat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Pada kondisi habitat yang sesuai/mirip, maka bibit kelicung yang ditanam dapat tumbuh dengan baik. Untuk itu pengamatan habitat alami ajang kelicung sangat penting dilakukan.

Dodo, peneliti pada Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor – LIPI, meneliti kayu ki calung (Diospyros macrophylla, Blume) di Taman Nasional Ujung Kulon Banten. Ia menyebutkan ajang kelicung  adalah spesies yang terancam dengan kategori rentan (VU) dan kriteria adalah A1c.

Taman Nasional Ujung Kulon adalah penggunaan habitat alami untuk Diospyros macrophylla. Penelitiannya ditujukan untuk menilai habitat dan habitus untuk ajang kelicung sebagai dasar untuk konservasi spesies ini. Menggunakan metode eksploratif dan metode deskriptif, hasil penelitian menunjukkan sebaran individu Diospyros macrophylla di Ujung Kulon. Daerah Cihujan adalah lokasi terbaik untuk regenerasi ki calung.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home