Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:40 WIB | Jumat, 16 Februari 2018

Kayu Rapet, Penghilang Nyeri

Kayu rapet (Parameria laevigata). (Foto: phytoimages.siu.edu)

SATUHARAPAN.COM – Kayu rapet sangat dikenal di kalangan penggemar jamu tradisional. Tumbuhannya hidup bebas di hutan liar, hidup dengan baik di tanah yang tandus sekalipun, asalkan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Kayu rapet memiliki bunga yang berwarna putih dan tumbuh secara bergerombol.

Tumbuhan kayu rapet merupakan jenis tanaman herbal yang sering dimanfaatkan untuk bahan obat, guna mengobati masalah kewanitaan. Kayu dan akarnya mengandung flavonoid dan polifenol. Sedangkan daunnya mengandung saponin dan tanin.  

Tim peneliti dari Puslitbang Farmasi dan Tanaman Obat, Badan Litbangkes Departemen Kesehatan, meneliti kayu rapet yang biasanya digunakan sebagai pengobatan tradisional berupa jamu, untuk menghilangkan nyeri rahim setelah melahirkan. Mereka melakukan uji efek analgetik dari infuse kulit kayu rapet pada mencit putih. Hasil percobaan menunjukkan bahwa 3 dosis infuse kulit kayu rapet  yang dicoba mempunyai efek analgetik yang sama dengan asetosal.

Selain mempunyai efek analgetik, kayu rapet juga melancarkan peredaran darah dalam tubuh dan dapat juga digunakan sebagai pelangsing.

Pemerian Botani Kayu Rapet

Tumbuhan ini menurut Puslitbangbun Bogor, dikutip dari  cybex.pertanian.go.id, banyak tumbuh liar di hutan dan tempat lain yang bertanah tandus dan cukup mendapatkan sinar matahari, di dataran rendah sampai 1.200 meter di atas permukaan air laut.

Kayu rapet adalah semak menjalar, panjang kurang lebih 4 meter. Batangnya membelit, bulat, berkayu, berambut, cokelat. Daunnya tunggal, lanset, berhadapan, pangkal dan daun meruncing. Daun mudanya berwarna hijau kemerahan setelah tua berwarna hijau, berhadapan, dengan pertulangan menyirip.

Bunganya berbentuk malai, majemuk, mahkota bentuk corong, warna putih. Berbunga pada bulan Juni-Oktober. Buahnya berbentuk polong, ujung lancip, berisi 4-10 biji. Biasanya berbuah bulan Oktober-Desember. Bijinya berbentuk bulat, berwarna cokelat kehitaman.

Kayu rapet memiliki akar tunggang, berwarna cokelat. Sebagai semak menjalar, kayu rapat atau kayu rapet baik dipelihara sebagai tanaman hias.

Tumbuhan kayu rapet dikutip dari stuartxchange.org, memiliki  nama ilmiah Parameria laevigata. Tumbuhan ini juga dikenal melalui nama lokal, seperti gakeman mayit (Lampung), kayu rapet (Sunda), kayu rapet, gembor, ragen (Jawa) pegat sih, medaksi (Madura).

Kayu rapet juga dikenal dengan berbagai nama lokal di banyak negara, seperti kayu rapat (Melayu), dugtong ahas (Filipina),  chang jie zhu atau jie jia teng (Tiongkok), var ang kot (Kamboja), akar serapat puteh, akar garip puteh, akar serau, kayu rapat (Malaysia), khruea khao muak, khruea suut, som lom (Thailand), doox trojng nam (Vietnam).

Tumbuhan kayu rapet di Indonesia, dikutip dari florafaunaweb.nparks.gov.sg, dikenal sebagai ramuan obat rakyat yang disebut jamu rapet kayu, yang biasa digunakan sebagai obat maag, anti-diare, dan untuk mengobati luka. Rebusan kulit kayu diberikan setelah melahirkan untuk menyusutkan rahim. Serat dari kulit kayu digunakan dalam pembuatan tali dan untuk mengikat bundel nasi.

Sedangkan di Filipina, tanaman rapet kayu dimanfaatkan sebagai obat dengan nama Balsamo de Tagulaway atau Balsamo de Cebu. Kulit akar dan cabang rapet kayu diolah dalam minyak kelapa untuk membentuk cairan berminyak putih kekuningan yang digunakan untuk penyakit kulit dan luka.

Manfaat Herbal Kayu Rapet

Menurut Puslitbangbun Bogor, kandungan kimia kulit kayu dan akar kayu rapet mengandung flavonoida dan polifenol, daunnya juga mengandung saponin dan tanin. Saponin adalah senyawa surfaktan, dan dari berbagai hasil penelitian disimpulkan, saponin bersifat hipokolesterolemik, imunostimulator, dan antikarsinogenik.

Mekanisme antikoarsinigenik saponin meliputi efek antioksidan dan sitotoksik langsung pada sel kanker. Tanin adalah astringen jalur usus, dapat mengurangi sekresi cairan dalam usus, sehingga kadar air dalam kotoran manusia berkurang yang dapat mencegah mencret.  

Sedangkan polifenol berperan dalam memberi warna pada tanaman. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki peran sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan, berfungsi sebagai antihistamin (antialergi). Flavonoid , berfungsi melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah.

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha meneliti efek analgesik pada kulit kayu rapat , Parameria laevigata (Juss.) Moldenke, pada mencit jantan yang disuntik rangsang termik. Kayu rapet yang selama ini digunakan secara empiris untuk mengobati berbagai macam penyakit, diduga mempunyai efek analgesik karena senyawa dalam kulit kayunya yaitu flavonoid dan polifenol.

Melalui penelitian itu, tim ingin mengetahui efek analgesik kulit kayu rapat. Metode penelitian berupa eksperimental laboratorik. Pengujian efek analgesik menggunakan metode induksi nyeri cara panas dengan plat panas yang dilengkapi thermostat suhu tertentu. Hasil penelitian menunjukkan kulit kayu rapat memiliki efek analgesik.

Tumbuhan kayu rapet juga berkhasiat membantu wanita memperoleh  tubuh yang langsing , seperti dikutip dari repository.wima.ac.id. Kulit kayu rapat mempunyai kandungan tanin yang diduga dapat berfungsi sebagai pelangsing.

Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai pelangsing adalah kulit batangnya yang mengandung tanin (DepKes RI, 1999). Uji farmakologi menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kental kulit kayu rapat secara per oral terhadap tikus putih jantan yang beratnya (± 200g) dengan volume 1 ml/200g BB yang diberikan sehari satu kali dapat memberikan efek penurunan bobot badan dan nafsu makan sebesar 5-10 persen dari bobot badan awal.

Ketiga dosis dalam penelitian tersebut adalah 1 g/kg BB, 2 g/kg BB dan 3 g/kg BB, menunjukkan penurunan  bobot badan secara bermakna terjadi pada dosis 3g/kg BB.

Editor : Sotyati

Back to Home