Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:33 WIB | Selasa, 05 Desember 2017

Kebo Ketan: Merawat Tradisi, Alam, Menjaga Akal Sehat

Kebo Ketan: Merawat Tradisi, Alam, Menjaga Akal Sehat
Prosesi persiapan penyembelihan kerbau dalam Upacara Kebo Ketan 2017 di lapangan Desa Sekar Putih, Widodaren-Ngawi, Minggu (3/12). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Kebo Ketan: Merawat Tradisi, Alam, Menjaga Akal Sehat
Sendang Margo tempat pengguyangan Kebo Ketan. (Foto: kratonngiyom.org)
Kebo Ketan: Merawat Tradisi, Alam, Menjaga Akal Sehat
Beberapa regu pasukan semut yang dipersiapkan untuk upacara Kebo Ketan.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tanggal 2-3 Desember menjadi puncak Upacara Kebo Ketan 2017. Acara yang dihelat di dua lokasi di Ngawi: Sendang Marga di Alas Begal, kecamatan Kedungalar, dan di Lapangan desa Sekarputih, kecamatan Widodaren dibuat dalam sebuah karya “seni kejadian berdampak”  (happening art with impact) dari sebuah narasi besar yang sedang dibangun dalam empat tahun terakhir.

Diawali dari Mbah Kodok Rabi Peri Steyowati pada 8 Oktober 2014 di Sendang Marga dan dilanjutkan bulan Juni, 2015 narasi berkembang dengan lahirnya Jaga Samudra dan Sri Parwati dari perkawinan Kodok-Setyowati tersebut. Untuk keperluan tumbuh-kembang Jaga Samudra-Sri Parwati, dibangunlah rumah bagi mereka oleh warga.

Prosesi Kebo Ketan 2017 diawali dengan wiwitan Kebo Ketan yang dilaksanakan pada 24 Mei lalu di Rumah Tua Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi dengan bancakan (kenduri) melibatkan masyarakat setempat untuk doa kelancaran acara. Diluar itu, beberapa saat setelah acara Kebo Ketan 2016 yang digelar pada tanggal 17-18 Desember, warga terlibat segera berbenah untuk mempersiapkan upacara Kebo Ketan tahun berikutnya.

Pada tahun 2016 disaksikan masyarakat luas Kraton Ngiyom yang digawangi Bramantyo Prijosusilo bersama pihak Perhutani memastikan batas daerah konservasi Sendang Marga dan Sendang Ngiyom menurut UU, dan mengurus perubahan status wilayah itu dari areal produksi menjadi areal konservasi. Upaya tersebut mendapat sambutan positif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dengan rencana menjadikan dua petak di kawasan Perhutani seluas 60 hektar untuk dikelola oleh masyarakat agar tidak semakin menjadi kawasan hutan yang semakin kritis.

"Kami masih mempelajari dan menyusun program secara bersama agar pengelolaan bersama tersebut (terlebih untuk penyelamatan sumber mata air, tanah) bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas untuk jangka panjang." jelas salah satu koordinator komunitas Kraton Ngiyom Godeliva D. Sari kepada satuharapan.com di sela-sela acara Upacara Kebo Ketan 2017, Minggu (3/12) siang.

Lebih lanjut Sari menjelaskan hingga terselenggaranya Kebo Ketan 2017, tiga sendang (sumber mata air) yang terletak di kedua petak tersebut kembali bisa dihidup-fungsikan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan sepanjang tahun berjalan mulai dari membersihkan lingkungan sendang, bangunan air, menanam bibit pohon, menyelamatkan tegakan tersisa hingga membangun infrastruktur di sekitar ketiga sendang.

Prosesi Upacara Kebo Ketan yang diawali dengan bergerak beberapa saat setelah puncak prosesi menjadi sebuah sajian seni kejadian berdampak. Selama kurang lebih setahun kedepan Kraton Ngiyom bersama masyarakat terlibat "menghias" sendang agar bisa digunakan untuk meng-guyang kebo (memandikan kerbau). Agar sendang tetap bisa mengeluarkan mata airnya, sekitar sendang harus memiliki penyimpan air alami. Pohon berikut sistem perakarannya adalah penyimpan alami air. "Menghias" sendang tidak semata-mata membuat sendang menjadi lebih bersih dan cantik, namun juga memberikan "hiasan" berupa mata air bersih yang mengalir sepanjang tahun.

Dalam sambutan upacara Kebo Ketan 2017, Bram panggilan Bramantyo Prijosusilo menjelaskan bahwa kebo adalah simbol rakyat. Dalam arahan yang diberikan Habib Luthfi Yahya beberapa waktu lalu, Bram menjelaskan bahwa kebo adalah simbol rakyat yang bekerja keras, penurut, dimandikan dua kali sehari, dan saat bekerja dinyanyikan dengan uro-uro. Kebo sejak dahulu dianggap menjadi simbol dari bangsa-bangsa Nusantara.

"Pasukan semut lah yang merupakan pahlawan dari upacara yang diselenggarakan dalam membantu untuk menanamkan nilai bahwa sampah perlu diolah dengan cara yang cerdas. Kita perlu mengembangkan kebudayaan untuk tidak membuang sampah secara sembarangan. Oeh karena itu pasukan semut telah diberi wewenang untuk menegur orang-orang yang membuang sampah sembarangan." jelas Bram yang menghimbau kepada seluruh pengunjung untuk menggunakan tempat sampah yang telah tersedia.

Dari pasukan semut inilah Bramantyo Prijosusilo bersama-sama Kraton Ngiyom dan warga mencoba membangun budaya untuk mengelola sampah secara tepat sekaligus memulai kembali menggunakan sampah sebagai salah satu pupuk alami. 

"Tlethong sapi (kotoran sapi) untuk menggemburkan kembali lahan pertanian, contohnya. (Selama ini) lahan dibantatkan dari lereng sampai dataran. Hutan dijarah dan lahannya dijadikan tanaman semusim. Banjir dan kekeringan jadinya." jelas Bram. Pemakaian pupuk kimia sejauh ini telah berkontribusi pada proses pembantatan lahan pertanian.

Tentang konsep kejadian berdampak Bram menjelaskan bahwa upacara Kebo Ketan bukanlah sekedar event, namun sesuatu yang dikerjakan sepanjang tahun untuk mendapatkan dampak-dampak dimana masyarakat bisa memiliki hutan yang berfungsi secara baik.

"Hutan yang bisa menjadi laboratorium kebudayaan dimana orang bisa belajar dan menemui pepohonan langka yang memiliki relevansi kebudayaan semisal pohon timoho seperti apa. Daerah kita ini adalah daerah walikukun, pohonnya seperti apa (mugkin) kita sudah melupakan. Kita mengumpulkan pohon-pohon langka yang memiliki relevansi kebudayaan selanjutnya ditanam di kawasan Sendang Margo dan Sendang Ngiyom. Dengan cara itulah kita akan membangun kohesi sosial dengan menggunakan seni upacara." jelas Bram.

Hutan yang menyejahterakan masyarakat

Bulan Oktober 1978 diselenggarakan Kongres Kehutanan se-Dunia di Jakarta. Salah satu amanatnya adalah hutan untuk kesejahteraan (forest for welfare people). Amanat tersebut bahkan diabadikan dalam koin mata uang seratus rupiah dengan ilustrasi gunungan wayang bertuliskan "Hutan Untuk Kesejahteraan".

Pada masa berikutnya pembangunan kehutanan menjadi salah satu penyumbang terbesar devisa negara diluar minyak dan gas bumi. Pembangunan kehutanan Indonesia memasuki fase awal industrialisasi dengan ekspor kayu bulat dan kayu olahan. Hingga pertengahan tahun 1980-an ekspor kayu bulat dari Indonesia merajai pasar dunia, tanpa disadari kebijakan tersebut berdampak pada berkurangnya kawasan hutan hujan tropis Indonesia untuk memenuhi kebutuhan kayu bulat dunia sebelum mulai dibatasi pada akhir tahun 1980-an. 

Bagaimana dengan pembangunan kehutanan Indonesia? Perubabahan sistem silvikultur yang diterapkan dari tebang habis ke tebang pilih-tanam, hingga hutan tanaman industri telah mengubah wajah kawasan hutan alam Indonesia. Konversi tegakan tidak terhindarkan ketika permintaan kayu bulat melalui pasar gelap meningkat bersamaan kebijakan pelarangan ekspor kayu bulat telah memperparah kondisi tegakan hutan hujan dataran rendah-tropis tersisa di Indonesia.

Godaan sebagai "penyumbang devisa" terbesar diluar minyak bumi berdampak pada penggenjotan sektor kehutanan sebagai sapi perah. Alih-alih pengelolaan hutan lestari yang terjadi justru kebijakan pembangunan kehutanan yang seolah menjerumuskan terjadinya deforestasi, alih fungsi, bahkan konversi lahan menjadi peruntukan lainnya. Bagaimana kesejahteraan hutan bagi masyarakat? Dampak gelombang reformasi tahun 1998-1999 yang dimaknai secara salah oleh masyarakat menjadi gambaran bahwa kesejahteraan dari sumberdaya alam-hutan tidak dirasakan oleh masyarakat. Illegal logging maupun penjarahan hasil hutan yang dilakukan berbagai elemen masyarakat di berbagai tempat di Indonesia telah membuat dunia kehutanan Indonesia pada posisi titik nadir menjadi gambaran hutan belum mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat sehingga mereka bergerak dan mencari jalan sendiri atas hasil hutan. 

Fenomena yang ibarat pisau bermata ganda: saat masyarakat mendapat hasil secara ekonomi dari kegiatan llegal logging maupun penjarahan hasil hutan pada saat bersamaan mereka kehilangan fungsi hutan sebagai zona penyangga kehidupan dalam menyediakan sumber air bersih (hidro-orologi), benteng pertahanan dari bencana alam, sumber plasma nutfah, sumber udara bersih, maupun hasil ikutan lainnya semisal madu hutan.

Pada titik ini Upacara Kebo Ketan sebagai upaya penyelamatan lingkungan yang dikemas dalam sebuah seni kejadian berdampak menemukan momen penting meskipun pada wilayah yang sempit. Kesejahteraan tidak semata-mata dinilai dari nominal semata, namun ada upaya untuk membangun budaya konstruktif dengan melibatkan masyarakat dalam dialektika yang terus berkembang.

Nilai ekologis hutan secara nominal susah dikuantifikasikan. Hingga saat ini nilai ekologis kawasan hutan masih dianggap suatu hal yang absurd. Fungsi hidro-orologi, udara yang sehat, resapan air, nilai flora-fauna, daerah penyangga terhadap ancaman erosi air-udara, estetis, adalah hal yang susah untuk dinilai secara nominal terkait dengan kesediaan masyarakat untuk membayar atas fungsi-fungsi lingkungan secara nominal. Dengan mengajak masyarakat terlibat langsung, upaya membangun kesadaran bersama dalam Upacara Kebo Ketan menjadi hal penting, mengingat hilangnya penutupan tegakan pada sebuah kawasan hutan bisa mereduksi bahkan menghilangkan fungsi hutan itu sendiri yang pada akhirnya adalah hilangnya kesejahteraan lingkungan dan masyarakat.

Ada pesan menarik dalam Upacara Kebo Ketan ketika melibatkan anak-anak sebagai pasukan semut untuk memperlakukan sampah sebagai mana mestinya. Membuang sampah pada tempatnya adalah langkah awal untuk tidak menambah beban lingkungan dengan sampah sehari-hari yang terus meningkat. Upaya tersebut merupakan sebuah pesan penting yang akan dibawa anak-anak itu untuk disampaikan pada generasi nanti. Terlebih ketika upaya tersebut dibarengi dengan berbagai upaya lain yang bertujuan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan. Pada titik inilah Upacara Kebo Ketan menyampaikan pesan bahwa lingkungan pun perlu mendapat dukungan dari masyarakat yang beraktivitas di atasnya sepanjang waktu, sepanjang tahun. Dan bukan hanya beberapa saat sebelum dan setelah prosesi upacara berlangsung. Ada nilai edukasi serta membangun kesadaran secara perlahan-lahan dan bersama. Kesejahteraan lingkungan tergantung bagaimana masyarakat memperlakukannya. 

Sendang Marga, sendang Ngiyom, maupun sendang Kucur tidak akan memunculkan sumber mata airnya dengan sendirinya. Ketiganya perlu sentuhan tangan masyarakat sekitar untuk "menghiasnya" dengan berbagai daya-upaya. Menghias sumber mata air dengan segala upaya secara bersama adalah ikhtiar menjaga akal sehat bagi kehidupan. Siapapun, dimanapun, kapanpun sudah semestinya bergandengan tangan untuk turut menyelamatkannya: untuk kehidupan itu sendiri.

 
Back to Home