Google+
Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 14:14 WIB | Senin, 25 Juni 2018

Kejutan

Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM - Ini sepotong kisah dari sepakbola. Tetapi bukan tetang World Cup 2018 yang tengah digelar di Rusia. Ini tentang Leiscester City F.C. yang di tahun 2016 menguncang dunia dengan menjuarai kompetisi Liga Inggris. Sebuah dongeng indah yang dibaliknya terselip secuil kisah manis buah perjuangan yang pahit, kisah tawa diujung tangis panjang; tentang seorang insan bola bernama Claudio Ranieri, pelatih Leischester ketika itu.

 

Argghh, siapa pula Ranieri? Ia memang pernah menangani tim-tim besar semodel Chelsea, Juventus, Inter Milan, dan AS Roma. Tetapi tak sekalipun ia juara liga. Kerapnya hanya hampir juara, alias runner up. Itulah sebabnya media-media menyebutnya Mr. Runner Up. Mourinho kerap mengolok-oloknya, bahkan pernah mengatakannya sebagai orang tua dengan takdir pecundang.

 

Ia masuk Leiscester setelah ditolak oleh dua klub Inggris lainnya, dan baru saja dipecat dari timnas Yunani; ia gagal total di sana. Pula, ia bukan pilihan pertama. Awalnya Leiscester mau Guus Hiddink, pelatih asal Belanda yang sukses ketika menangani timnas Korea Selatan. Cuma si Guus menolak. Wajarlah, mana ada pelatih kelas atas mau tangani klub antah berantah?!

 

Memang sih, Leiscester klub macam mana pula kan? 132 tahun berdiri jangankan juara, diperhitungkan saja tidak pernah. Musim lalu malah hampir terdegradasi. Orang mana mengenal nama-nama model Jamie Vardi, Riyad Mahrez, Shinji Okazaki, Danny Drinkwater, atau Wes Morgan. Pertandingan-pertandingan yang melibatkan mereka hampir tidak pernah menarik penonton.

 

Jadi lengkap sudah, manager terhina plus klub terpuruk. Tidak heran pasar taruhan pun menempatkan mereka pada posisi 1:5000. Tapi pada akhirnya semua orang tahu hasilnya: Leiscester di bawah asuhan Ranieri juara. Orang bilang ini dongeng. Padahal dongeng kan tidak nyata. Ini nyata. True story.

 

Ia mengangkat piala itu, di tengah gemuruh sorak. Dan sayup-sayup terdengar lengking indah Andrea Bocelli. Senyumnya biasa saja, yang tidak biasa adalah ekspresi matanya; ada sebuah "nyala" di sana, nyala dari sebuah jiwa yang terlepas bebas. Tidak akan ada lagi orang yang akan mengejeknya Mr. Runner Up.  Dan Mourinho, yang musim itu jadi pecundang, tidak lagi bisa menghina-dina dirinya. Tuntas sudah mimpinya. Dili ding dili dong.

 

Begitulah.....

Seperti dalam sepakbola, dalam hidup sehari-hari di mana pun dan kapan pun demikian juga adanya:  kejutan selalu bisa terjadi. Maka, ketika berada “di atas angin”, jangan lupa diri dan menjadi sombong. Tetaplah membumi. Sebaliknya, ketika berada “di bawah angin”, jangan kecil hati dan putus berharap. Tetaplah berusaha. Sebab kejutan selalu bisa terjadi. Bisa saja yang berada di bawah, tiba-tiba melesat terbang ke atas. Dan yang berada di atas, tiba-tiba jatuh terjerembab ke bawah. Who knows?

 

 

Editor : Tjhia Yen Nie

 

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com )

 

 

 

 

Back to Home