Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 09:04 WIB | Senin, 15 Juni 2020

Kelompok Separatis Yaman Sita Miliaran Rial Uang Bank Sentral

Lambang STC terlihat di antara senjata yang dipegang oleh tentara pemerintah Yaman di markas Dewan Transisi Selatan separatis di Ataq, Yaman Agustus tahun lalu. (Foto: Reuters)

ADEN, SATUHARAPAN.COM-Kelompok separatis di Yaman selatan menyita pengiriman uang milyaran rial yang ditujukan untuk bank sentral Yaman di Aden pada hari Sabtu (13/6), dalam upaya lebih lanjut untuk mengambil kendali dari pemerintah yang didukung Arab Saudi sejak mendeklarasikan pemerintahan sendiri di selatan pada bulan April.

Pasukan yang setia kepada Dewan Transisi Selatan (STC), yang mendeklarasikan pemerintahan sendiri di Aden pada bulan April, memimpin konvoi yang membawa uang tunai ketika meninggalkan pelabuhan, kata bank sentral Yaman dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, peringatan adanya "konsekuensi yang berbahaya".

Konvoi itu membawa 64 miliar rial dalam uang kertas yang dicetak di Rusia untuk bank sentral Yaman, kata satu sumber pemerintah. Sumber lainnya mengatakan uang tunai itu tengah dibawa ke pangkalan militer ketika dirampok.

"Tindakan itu merupakan bagian dari beberapa langkah untuk mengakhiri sumber korupsi dan untuk mencegah penggunaan uang publik dalam mendukung terorisme," kata STC dalam sebuah pernyataan.

Langkah berani ini dapat mengancam perdamaian yang rapuh antara STC dan pemerintah yang didukung Arab Saudi, sekutu dalam perang melawan gerakan Houthi yang didukung Iran.

Pemerintah dan STC menandatangani perjanjian tahun lalu untuk mengakhiri perebutan kekuasaan mereka di selatan, tetapi para pihak gagal untuk mengimplementasikan kesepakatan di lapangan. STC menuduh pemerintah yang didukung Arab Saudi salah kelola dan korup. Bank sentral itu tidak mengungkapkan berapa banyak uang yang diambil.

Perang di Yaman telah menghancurkan ekonomi dan menyebabkan inflasi yang parah di negara itu yang telah lama menjadi miskin dan bergulat dengan apa yang digambarkan oleh PBB sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia.(Reuters)

Editor : Sabar Subekti

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home