Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 18:35 WIB | Jumat, 03 Agustus 2018

Kelompok Tenggara Gelar Pameran "Se-Yogya-nya"

Kelompok Tenggara Gelar Pameran "Se-Yogya-nya"
Lukisan series potret "Miss No. #" karya Suryadi Suyamtina pada pameran "Se-Yogya-nya" di Jogja Gallery, 2-12 Agustus 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Kelompok Tenggara Gelar Pameran "Se-Yogya-nya"
Perang Tuding - 145 cm x 250 cm - akrilik di atas kanvas - Luddy Astaghis - 2018
Kelompok Tenggara Gelar Pameran "Se-Yogya-nya"
Just Conspiration - 150 x 125 x 90 - cat duko di atas fiberglass - Sumbul Pranov - 2018
Kelompok Tenggara Gelar Pameran "Se-Yogya-nya"
Lukisan karya Ayu Arista Murti berjudul "Percakapan Genta" (kiri), "Percakapan Halus" (kanan).‚Äč

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Sembilan seniman-perupa dari kelompok Tenggara, menggelar pameran bersama karya dua-tiga matra di Jogja Gallery. Pameran denga tajuk "Se-Yogya-nya" dibuka oleh kolektor benda seni Oei Hong Djien, Kamis (2/8) malam.

Pengambilan tema didasarkan pada kesadaran bahwa sebagian besar anggota kelompok Tenggara berproses seni rupa sekaligus belajar tentang kehidupan di wilayah Yogya. Dalam pembacaan secara leksikon, "Se-Yogya-nya" bisa terdengar di telinga sebagai seyogianya yang memiliki makna sebaiknya, selayaknya, atau seharusnya, dan menjadi ruang introspeksi sejauh mana masing-masing anggota Tenggara berkesenian dalam tataran berkarya seni rupa dan seni lainnya serta menempatkan kesadaran pada tujuan awal berkesenian. Dalam koridor tema tersebut kesembilan seniman-perupa membaca diri dan dinamika sosial-lingkungan sekitarnya dalam presentasi karyanya.

Agus Baqul Purnomo dalam karya lukisan abstrak membaca realitas hari ini dalam "Runtuhnya Hoax Sedunia" dan "Mengubur Benih". Dalam ornamen yang diambil dari relief candi, pembacaan Dadi Setiadi pada akar tradisi yang tidak terhindarkan terus tergerus oleh perubahan dan jaman seakan diinterpretasi ulang pada lukisan berjudul "Kidnaping Shinta" sementara pada karya "The Scene of Rewards" Dadi mengubah figur-figur dalam relief candi dengan figur hari ini: perempuan bertubuh seksi dengan tatanan rambut ala salon.

Lukisan potret series dengan figur perempuan karya Suryadi Suyamtina berjudul "Miss No. 6-9" menjadi gambaran kerinduan Suryadi pada rumah sebagai sebuah tempat sekaligus keberadaan seseorang, bisa jadi itu adalah ibu mengingat Suryadi menyematkan keberadaan sebuah nama di belakang namanya.

"Karyanya lucu, warnanya menarik. Suasana riang-ringan saat melihatnya," kata Nadine Nabila pelajar kelas IX sekolah menengah pertama (SMP) tentang karya Ayu Arista Murti berjudul "Percakapan Genta" ketika ditemui satuharapan.com saat pembukaan pameran, Kamis (2/8) malam. Dengan goresan-bentuk bergaya dekoratif-naif khas anak-anak, bisa jadi karya Ayu lebih mudah dicerna anak-remaja. Seyogianya begitulah seni (rupa) menempatkan dirinya yang mampu mengajak pengunjungnya untuk berdialog, memberikan asupan gizi tanpa kehilangan substansi-eksistensi karya.

"Dengan latar warna hitam dan obyek gradasi warna putih dikombinasi garis hijau tosca di tengahnya, saya langsung tertarik pada karya lukisan ini saat memasuki ruang pamer." jelas Nadine tentang karya Heri Purwanto berjudul "Nature Password". Dipajang di belakang karya tiga matra Sumbul Pranov berjudul "Last Predator" yang cukup provokatif, "Nature Password" dan "Password of Life" tidak kehilangan daya tariknya di mata pengunjung mula-muda Nadine.

Sumbul sendiri memamerkan tiga karya 3-dimensi berjudul "Just Conspiration", "Derita Cinta Tiada Akhir" bertemakan sosial-politik, dan lingkungan sebagai pembelajaran etika kehidupan dalam sosial politik yang bisa bersumber pada pengalaman masa lalu dan juga hari ini.

Dalam hal visual dan display karya, seniman-perupa Luddy Astaghis menawarkan hal lain: lukisan dengan gaya teknik cetak grafis. Karakter karya grafis yang banyak digunakan untuk alat propaganda bagi banyak aktivis dikonstruksi oleh Luddy dalam lukisan yang detail dengan tema-tema yang disuarakan: ringan, menohok, visual yang ceria. Pada karya berjudul "Seyogyanya", Luddy mengangkat realitas dinamika sosial di Yogyakarta termasuk dunia seni secara lugas dalam permainan warna, tulisan, garis-garis, serta figur-karakter ganjil yang menjadi ciri khasnya.

Kehidupan sosial-politik dalam lingkup yang lebih luas terbaca dalam karya Luddy berjudul "Perang Tuding". Realitas saling tuding menyalahkan pihak lain membuat Indonesia hari ini hiruk-pikuk dengan sumpah-sampah yang bertebaran di berbagai media sosial atas nama berebut tafsir tunggal kebenaran dan klaim paling benar. Dalam posisi saling tuding, tidak ada pilihan diksi kata yang cerdas dan menukik pada realitas sesungguhnya: semua sampah. Luddy seolah mempertanyakan asupan gizi inikah yang akan digunakan untuk membangun bangsa yang bermartabat?

Pada satu karya instalasi berjudul "Aktor", Luddy mendisplay boneka bergelantungan dalam beberapa karakter lengkap dengan dialog ringan dan latar belakang mural pada dinding ruang pamer dalam pengerjaan bergaya cetak cukil yang detail sekilas seperti karya linocut on wall. Minus panggung, display karya ini akan mengingatkan pada karya-karya teater boneka Papermoon puppet. 

Bagaimana dengan karya Yaksa Agus yang baru saja selesai berpameran tunggal dengan tajuk "Oprasi Gabungan"? Jangan terkecoh dengan lukisan seri Kebonology-nya, namun lanjutkan dengan pilihan caption berikutnya. Selanjutnya berimajinasilah dengan keseluruhan caption tersebut pada pilihan mana Anda menempatkan diri. Begitupun pada lukisan "Fatwa sang Bawor" yang didisplay di belakang sebuah mimbar.

Pameran kelompok Tenggara bertajuk "Se-Yogya-nya"dibuka setiap akan berlangsung di Jogja Gallery Jalan Pekapalan, Kraton-Yogyakarta hingga 12 Agustus 2018.

 

Back to Home