Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Reporter Satuharapan 14:22 WIB | Kamis, 09 Februari 2017

Kembang Sepatu, si Ratu Bunga Tropis

Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis, L). (Foto: Nursery Live Wikipedia)

SATUHARAPAN.COM – Kembang sepatu termasuk salah satu tanaman hias favorit di negeri ini. Bukan hanya menghiasi pekarangan rumah, kembang sepatu juga dipilih menjadi tanaman hias dan tanaman pembatas di kompleks perumahan hingga menjadi tanaman penghias ruas jalan tol.

Walau tidak berbau, bunganya yang cantik dan besar menarik perhatian pencinta bunga untuk mengoleksinya. Kembang sepatu bukan hanya beraneka warna bergantung pada kultivar dan hibridanya, mulai dari putih, kuning, oranye, merah muda, merah tua, hingga ungu, namun kecantikannya juga ditampilkan lewat bentuk bunganya yang tunggal (daun mahkota selapis) ataupun yang berbunga ganda (daun mahkota berlapis).

Karena kecantikan penampilannya pula Malaysia memilih bunga asli Asia timur yang banyak ditanam di negara-negara tropis dan subtropis ini sebagai bunga nasional, tepatnya pada tanggal 28 Juli 1960.

Di Okinawa, Jepang, mengutip dari Wikipedia, kembang sepatu digunakan sebagai tanaman pagar. Di bagian selatan Okinawa, tanaman yang disebut gushōnu hana (bunga kehidupan sesudah mati) ini, banyak ditanam di makam.

Di Tiongkok, bunga yang berwarna merah dimanfaatkan sebagai bahan pewarna makanan. Di India, kembang sepatu termasuk bunga persembahan yang penting, terutama dikaitkan dengan Dewa Ganesha. Kembang sepatu juga digunakan untuk menyemir sepatu.

Di Indonesia, daun dan bunga digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional. Kembang sepatu yang dikeringkan juga diolah sebagai minuman teh.

Sidik Raharjo dalam buku Rangkuman Fungsi dan Khasiat Tanaman Obat terbitan Merapi Farma Herba, menyebutkan daun kembang sepatu dimanfaatkan untuk mengobati demam anak, batuk, dan sariawan.

Situs web Plants of a Future menyebutkan daun-daun muda tumbuhan kembang sepatu acap dimanfaatkan sebagai sayuran, seperti halnya sayuran bayam. Selain sebagai tanaman hias, bunga tanaman kembang sepatu juga dapat dikonsumsi langsung atau diolah terlebih dulu, di antaranya menjadi acar. Kembang sepatu juga sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami untuk makanan, di antaranya mi. 

Kembang sepatu, mengutip dari Wikipedia, dimasukkan ke dalam kategori obat herbal yang memiliki sifat sebagai pendingin, menenangkan, dan melemaskan jaringan yang kejang. Bunganya bersifat afrodisiak, penawar rasa sakit, memperlancar haid, melembabkan, dan bersifat mendinginkan.

Secara tradisional, kembang sepatu dimanfaatkan untuk mengobati nyeri haid, mengobati radang, penyakit kelamin, demam, radang selaput lendir bronkial, batuk, dan untuk mempromosikan pertumbuhan rambut. Infus bunga diberikan dalam bentuk minuman pendingin untuk orang sakit.

Daunnya dimanfaatkan obat cuci perut, pelembab, dan pencahar. Rebusan daunnya digunakan sebagai obat demam. Daun dan bunga yang dihaluskan dimanfaatkan sebagai obat gondok. Demikian pula bunga-bunganya digunakan dalam pengobatan bisul, gondok, demam, dan luka. Akarnya disebutkan dapat dimanfaatkan dalam pengobatan batuk dan pilek, dan pasta dari akar juga digunakan dalam pengobatan penyakit kelamin.

Kembang sepatu juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik. Di sebagian wilayah di Tiongkok, cairan yang diambil dari kelopak bunga digunakan sebagai maskara dan semir sepatu. Kembang sepatu juga dimanfaatkan untuk bahan pewarna.

Batang-batang kembang sepatu juga dimanfaatkan untuk diambil seratnya. Di daerah subtropis, serat kembang sepatu yang dapat mencapai 3 meter, dimanfaatkan untuk membuat kain kasar, jaring, dan kertas.

Pemerian Botani dan Kemungkinan Pengembangannya  

Tumbuhan dari keluarga Malvaceae ini memiliki nama ilmiah Hibiscus rosa-sinensis, L. Di dunia ilmiah, dikenal pula nama dengan sinonimnya, Hibiscus arnottii Griff. ex Mast., Hibiscus boryanus DC., Hibiscus festalis Salisb., Hibiscus liliiflorus Griff. ex Mast., Hibiscus rosiflorus Stokes, Hibiscus storckii Seem.

Kembang sepatu memiliki masa berbunga yang pendek, 24 jam hingga 48 jam, namun kecantikannya mengantarnya mendapatkan julukan hebat, seperti "Ratu Bunga Tropis", dan Queen of Dreams.

Dalam bahasa Inggris, mengutip dari situs web Plants of a Future (www.pfaf.org), tumbuhan ini dikenal dengan nama chinese hibiscus, shoeblackplant, hawaiian hibiscus, tropical hibiscus, china rose, rose-of-China. Dua nama yang disebut terakhir diambil dari nama ilmiah rosa-sinensis, nama yang diberikan oleh ahli botani, zoologi, dan dokter Swedia, Carolus Linnaeus (Carl von Linne), yang memberikan penamaan tumbuhan dan hewan dalam suatu sistem modern, binomial nomenclature.

Di Sumatera dan Malaysia, kembang sepatu disebut bunga raya. Orang Jawa menyebutnya kembang worawari.

Tumbuhan kembang sepatu, mengutip dari Wikipedia, dapat mencapai tinggi 2 sampai 5 meter. Daunnya berbentuk bulat telur lebar atau bulat telur sempit, dengan ujung daun meruncing. Di daerah tropis atau di rumah kaca tanaman berbunga sepanjang tahun, sedangkan di daerah subtropis berbunga mulai dari musim panas hingga musim gugur.

Kembang sepatu terdiri atas lima helai daun kelopak, yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx), sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri atas lima lembar atau lebih jika merupakan hibrida. Tangkai putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval yang bertaburan serbuk sari. Biji terdapat di dalam buah berbentuk kapsul berbilik lima.

Bunga berbentuk trompet dengan diameter bunga sekitar 6 cm hingga 20 cm. Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar bunga. Bunga bisa mekar menghadap ke atas, ke bawah, atau menghadap ke samping. Pada umumnya, tanaman bersifat steril dan tidak menghasilkan buah. Tanaman berkembang biak dengan cara stek, pencangkokan, dan penempelan.

Situs web Plants of a Future menampilkan komposisi kandungannya dalam 100 gram kembang sepatu, terdiri atas 89.8 persen air, 0,06 g protein, 0,4 g lemak, dan 1,56 g serat. Kandungan mineralnya, kalsium 4 mg, fosfor  27 mg, besi 1.7 mg. Tidak ditemukan kandungan magnesium, sodium, potassium, dan zinc. Sementara itu, kandungan vitamin yang ditemukan di dalamnya adalah Thiamine (B1) 0.03mg, Riboflavin (B2) 0.05mg, Niacin 0.6mg, C 4.2mg. Tidak ditemukan vitamins A dan B6.

Hingga saat ini peneliti terus mengeksplorasi manfaat dan khasiat obat dari kembang sepatu. Pada 2009 VM Jadhav, RM Thorat, VJ Kadam, dan NS Sathe, seperti dimuat dalam researchgate.net, menelaah kemungkinan pengembangan kembang sepatu sebagai kontrasepsi.

Penelitian Jadhav dan tim itu juga memperkuat khasiat obat tumbuhan kembang sepatu. Rebusan, jus, dan ekstrak yang diambil dari bagian-bagian tumbuhan daun, bunga, dan akar tumbuhan ini berdasarkan penelitian mereka berkhasiat diuretik, kontraseptif, antidiare, afrodisiak, pereda batuk, sebagaimana dimanfaatkan secara tradisional berbagai masyarakat. Kurup dan timnya, dalam penelitian yang dilakukan pada 1979, menyebutkan daun dan bunga kembang sepatu berkhasiat sebagai obat gangguan usus.

Terlepas dari khasiatnya sebagai obat, kembang sepatu adalah tanaman koleksi favorit. Kembang sepatu memiliki karakteristik genetik poliploidi. Poliploidi, mengutip dari Wikipedia, adalah kondisi pada suatu organisme yang memiliki set kromosom (genom) lebih dari sepasang dan usaha-usaha yang dilakukan orang untuk menghasilkan organisme poliploid disebut sebagai poliploidisasi. Kondisi poliploid akan menghasilkan fenotip yang berbeda dengan induknya. Poliploidi sering kali memberikan efek dramatis dalam penampilan atau pewarisan sifat yang bisa positif atau negatif. Tumbuhan secara umum bereaksi positif terhadap poliploidi.

Sifat itu pula yang mendorong pencinta kembang sepatu untuk terus mengembangkan persilangan variestas, menciptakan varietas baru. Keadaan itu mendorong persaingan tersendiri bagi pencinta kembang sepatu untuk berlomba-loba melahirkan variestas baru. Di antara sekian banyak yang menarik adalah Blue Bird, yang sesuai namanya berwarna kebiruan, Stolen Kiss, hingga Voodoo Queen.   

Asosiasi pencinta kembang sepatu juga berdiri di beberapa negara, di antaranya Amerika Serikat, Australia, dan Jerman.  

Editor : Sotyati

Back to Home