Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 16:00 WIB | Kamis, 01 Februari 2018

"Kembulan" Ruang Dialog Dalam Ritual Makan Bersama

"Kembulan" Ruang Dialog Dalam Ritual Makan Bersama
Pengunjung menyaksikan karya sastrawan-budayawan Ahmad Mustofa Bisri saat pembukaan pameran seni rupa "Kembulan", Rabu (31/1) malam di Studio Kalahan. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
"Kembulan" Ruang Dialog Dalam Ritual Makan Bersama
Perayaan assemlage, mix media variable dimension Hendra Priyadani
"Kembulan" Ruang Dialog Dalam Ritual Makan Bersama
Wakil ketua PWNU DI Yogyakarta Purwo Santoso (batik) bersama Oei Hong Djien (baju putih) dan Yani Sapto Hudoyo (baju merah) menyaksikan karya saat pembukaan pameran "Kembulan"
"Kembulan" Ruang Dialog Dalam Ritual Makan Bersama
Kembulan di atas daun pisang saat pembukaan pameran "Kembulan"
"Kembulan" Ruang Dialog Dalam Ritual Makan Bersama
Kesaksian Kanan -drawing pen on canvas- Laksmi Shitaresmi
"Kembulan" Ruang Dialog Dalam Ritual Makan Bersama
Sutasoma -pencil on paper- Handoyo
"Kembulan" Ruang Dialog Dalam Ritual Makan Bersama
Bapak Bangsa -nail on hardboard- Djoko Susilo

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Empat puluh dua seniman individu dan delapan seniman komunitas memamerkan karya dua-tiga dimensinya di Studio Kalahan, mengambil tajuk "Kembulan". Pameran yang digelar oleh Lesbumi DIY dibuka bersama oleh kolektor karya seni Oei Hong Djien dan wakil ketua PWNU DI Yogyakarta yang juga rektor Univ. Nahdlatul Ulama Yogyakarta Purwo Santoso.

"NU hadir (di tengah-tengah masyarakat) dengan keindahan, bukan dengan kemarahan. Simbol daun pisang (dalam poster) digunakan untuk meletakkan hasil kerja bersama lalu dinikmati bersama adalah gambaran kebersamaan untuk hidup bersahaja. Semua berjarak sama dengan makanan yang tersaji. (Semuanya merupakan) hasil dari kerja sendiri. Kembulan menjadi media kangen-kangenan di antara santri (setelah lama tidak berjumpa) yang menjadi simbol keakraban. Suasana guyub yang tercipta seperti malam ini diharapkan dapat dibawa dalam kehidupan sehari-hari." jelas Purwo Santoso dalam sambutannya saat membuka pameran Kembulan, Rabu (31/1) malam.

"Kembulan" dijadikan tema pameran dengan mengangkat spirit kebersamaan yang terjadi saat kembulan. Dalam kembulan terdapat unsur jiwa, nurani, dan kemanusiaan. Kurator pameran A. Anzieb dalam sambutan pengantarnya menjelaskan bahwa kembulan menjadi cermin: makan bersama, merasakan bersama, berbagi bersama tanpa melihat siapa mendapat banyak-sedikit, siapa yang cepat maupun yang lambat semua dirasakan bersama. Dan tidak berjarak.

Lebih lanjur Anzieb menjelaskan yang kerap lalai dari Kembulan adalah apa yang kita makan, semua adalah dari alam. Nasi, sayur, rempah semua dari alam. Maka banyak tradisi-tradisi yang berlangsung di pondok pesantren hingga saat ini yang digunakan untuk kembulan biasanya ditanam sendiri oleh pondok-pondok tersebut. Di sinilah wujud dari syukur terhadap alam yang telah memberikan semua kepada keberlangsungan hidup manusia. 

"Kembulan adalah tradisi makan bersama di atas daun pisang. Tradisi ini hampir ada di semua daerah di Indonesia. Sampai hari ini tradisi tersebut masih dilakukan di pondok pesantren salaf (tradisional)." jelas A. Anzieb kurator pameran Kembulan.

Di beberapa ponpes istilahnya mungkin berbeda misalnya di Lasem-Rembang  menggunakan istilah liwetan. Kembulan/liwetan dilakukan pada malam hari setelah melakukan ngaji atau kajian bersama, burdahan. Biasanya lurah pondok atau bahkan kyai mengajak santri untuk masak bersama dengan seluruh sumberdaya yang ada saat itu: beras, tahu, tempe, bumbu, ikan, asing, dan yang menjadi salah satu cirinya adalah terong yang dibakar yang tidak jarang sampai gosong. Kembulan/liwetan tidak sekedar berkumpul dan makan bersama, karena pada kesempatan-kesempatan tersebut tidak jarang para kyai memberikan nasihat-nasihat kepada santrinya baik secara langsung tersurat dalam nasihat-nasihat ataupun yang tersirat yang disampaikan saat kembulan/liwetan. 

Kenangan pada terong gosong digunakan khatib aam PBNU Yahya Cholil Tsaquf membuat laman Teronggosong.com untuk memotret dialog-dialektika yang terjadi pada dunia pondok dalam kesehariannya. Kehidupan dunia keseharian santri di pondok pesantren dengan segala dialektika yang melingkupi baik kesedihan, keriangg-gembiraan, konflik, perdebatan, kerap terekam dalam suasana serius tanpa kehilangan humor-humor yang segar bahkan saat membungkus kesedihan itu sendiri. Kembulan/liwetan dengan proses yang mengikutinya menjadi dramaturgi tersendiri kehidupan pondok pesantren.

Dalam dramaturgi kehidupan yang tidak semata-mata hitam putih, karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa "Kembulan" justru memanfaatkan dua warna tersebut (hitam-putih) untuk mengingatkan bahwa masih banyak warna dalam kehidupan manusia. Hitam, putih, merah, kuning, hijau, dan jutaan warna lain yang ada di dunia adalah warna dasar fitrah manusia. Esensi nilai kemanusiaan itu sendiri tetaplah sama. Dan karena perbedaan itulah dunia menjadi lebih indah.

Pameran seni rupa "Kembulan" akan berlangsung hingga 6 Februari 2018, Studio Kalahan  Jalan Patukan 50 RT 1 RW 20, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

 

 

Back to Home