Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 11:07 WIB | Rabu, 17 April 2019

Kemenkes Berikan Perhatian Khusus pada Stres Pascapemilu

Ilustrasi. Seorang perawat merapikan tempat tidur ruangan inap Rumah Sakit Mahoni Medan, Sumut, 28 Maret 2014. Rumah sakit tersebut menampung dan menyediakan ruangan khusus bagi caleg yang mengalami gangguan jiwa dan juga depresi saat gagal dalam Pemilu Legislatif 2014. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Stres pascapemilu bisa saja terjadi pada calon legislatif (caleg) yang gagal meraup suara terbanyak. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan, Fidiansjah, mengatakan hal tersebut akan menjadi perhatian Kemenkes.

Ia menjelaskan penyebab stress yang terjadi pada setiap individu tidak bisa diprediksi. Namun, begitu daya tahan rapuh, konsep dalam diri seseorang terjadi suatu gejolak antara cita-cita dan harapan, ketika realitas tak terpenuhi.

“Orang-orang yang rapuh menghadapi antara realitas dan kenyataan, bukan hanya pada pemilu, tapi terjadi di semua kondisi. Prinsipnya, di dalam penyeleksian pasti mengalami kemenangan atau kegagalan. Maka harus ada kesiapan menerima kenyataan karena tidak sesuai yang diharapkan. Prinsip pertamanya itu siap kalah dan menang,” kata Fidi, Selasa (16/4), melalui siaran pers Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, seperti dilansir setkab.go.id.

Ketika caleg mengatakan ingin menjadi calon, kata Fidi, itu ada surat keterangan kesehatan termasuk kejiwaan. Terjadinya stres pascapemilu dianggapnya sebagai sebuah kejadian yang tidak biasa atau dianalogikan seperti bencana alam yang tidak dapat diprediksi.

Artinya, kejadian tidak lazim termasuk stres pascapemilu sama dengan stres pascabencana. Bencana itu tidak ada yang menduga, hal sama juga pada pemilu.

“Proses ini (pemilu) adalah proses persaingan, dan gangguan jiwa itu bisa terjadi dari ringan sampai tingkat berat,” katanya.

Berapa banyak jumlah caleg yang akan mengalami stres, Fidi mengaku tidak bisa diprediksikan. Namun, sektor kesehatan tetap siaga untuk melayani masalah-masalah yang berhubungan dengan kejiwaan pascapemilu serentak ini.

Semua rumah sakit sudah diberikan arahan untuk betul-betul menyiapkan, bahkan mencoba untuk melakukan pengumpulan data berkaitan dengan gangguan jiwa.

“Ini situasi yang saya katakan pada dasarnya rumah sakit, seperti rumah sakit jiwa, siap dengan kejadian yang tidak biasa ini. Tapi, langsung melakukan sebuah penyesuaian, misalnya rumah sakit umum, puskesmas, semuanya diberdayakan,” ucap Fidi.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home