Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:08 WIB | Selasa, 11 September 2018

Kemerdekaan dalam Sekotak Koper

Kemerdekaan dalam Sekotak Koper
Karya tiga matra berjudul "Reach the star" karya Andrik Musfalri pada pameran "Dongeng tentang Kemerdekaan" di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Dusun Kembaran RT 04 Tamantirto, Kasihan-Bantul, 18 Agustus - 8 September 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Kemerdekaan dalam Sekotak Koper
Unity - akrilik di atas kanvas - 60 panel masing-masing 20 cm x 20 cm - Iqro' Ahmad Ibrahim - 2018.
Kemerdekaan dalam Sekotak Koper
Safety first - cat air di atas kanvas - 32 cm x 31 cm - Lukman Edi Santoso - 2018.
Kemerdekaan dalam Sekotak Koper
Memories from the Harvest - akrilik di atas kanvas - 120 cm x 100 cm - Arif Hanungtyas Sukardi - 2018.
Kemerdekaan dalam Sekotak Koper
Catharsis - akrilik di atas kanvas - Helmi Fuadi - 2018.
Kemerdekaan dalam Sekotak Koper
Conversation with egg - inkjet print di atas kertas - 20 cm x 30 cm - Prasetya Yudha - 2016.
Kemerdekaan dalam Sekotak Koper
All Night Friends (steam series) - akrilik di atas kanvas - 40 cm x 40 cm - Wisnuaji Putu - 2018.
Kemerdekaan dalam Sekotak Koper
Behind the Star - mix medium (botol gelas, resin, kayu, stiker plastik) - Iqro' Ahmad Ibrahim - 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tujuh seniman-perupa muda alumni program Seniman Pasca Trampil (SPT) dari berbagai angkatan mempresentasikan karya project-nya menginterpretasi makna kemerdekaan di ruang seni rupa Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Pameran berlangsung  18 Agustus - 8 September 2018.

Pembacaan ruang kemerdekaan diantara ketujuh seniman-perupa menawarkan hal berbeda dan tidak jarang menggelitik berangkat dari hal-hal sederhana.

Seniman foto yang baru saja berpameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) Prasetya Yudha dalam project fotonya memotret seri karya berangkat dari pengalaman menghadapi situasi buruk di dalam upaya merawat rumah seorang diri. Semua karya yang dicetak dengan menggunakan inkjet printer di atas kertas berbicara tentang masalah: bahwa kesendiriaan yang identik dengan keterbebasan ternyata tidak berarti merdeka dari masalah. Pada satu karya foto berjudul "Conversation with egg" Pras sedang memperbincangkan diam sebagai obyek dari keseluruhan karya fotonya.

Arif Hanungtyas Sukardi dalam goresan abstraknya mencoba membangunkan ingatan kerinduan masa kecilnya dalam realitas hari ini: kondisi lingkungan yang penduduknya lebih padat dan berkembang vis a vis dengan “kemerdekaan” masa kecilnya yang dirasakan begitu indah, dan sekarang menjadi ingatan yang semakin lama semakin kabur. 

Traumatik Helmi Fuadi digambarkan dalam lima lukisan panel tentang peristiwa-peristiwa masa lalunya yang menimbulkan rasa sakit, kecewa, hingga menyebabkan rasa penyesalan yang besar. Dalam karya panel "Catharsis" sebagai gambaran proses melupakan masa lalunya di atas kanvas, Helmi mengakhiri dengan sebuah lukisan kanvas putih polos dengan satu kata yang tidak kalah dramatisnya: Why.

Dalam lukisan-stensil Steam series, Wisnuaji Putu mencoba memperbincangkan relasi masyarakat lewat teko minuman sebagai pembuka ruang dialog-komunikasi di antara mereka. Teko-ceret masih menjadi simbol kedekatan, keakraban, keintiman masyarakat dalam mencari solusi-solusi yang spontan, lepas, tanpa beban meskipun menyimpan potensi konflik jika kebablasan.

Apa jadinya ketika petinju bertanding mengenakan helm full-face? Lukman Edi Santoso secara satire menyajikan realitas bahwa helm full-face  sebagai simbol benturan antara keamanan dan kenyamanan yang bersandingan. Dengan mengenakan helm full-face seseorang menjadi lebih bebas saat berkendara untuk bernyanyi, berhayal, berteriak,  meracau,  dialog dengan diri saya,  menirukan suara orang lain tanpa diketahui orang di sekitarnya. Masalah muncul manakala tiba-tiba bersin dan batuk atau ingin membuang ludah setelah batuk.  Belum lagi ditambah kondisi macet dan panas,  rasa aman dan nyaman kini berganti dengan situasi gerah dan sumpek. Akhirnya hanya bisa berkata : damn I love helmet.

Merah-putih, itulah ingatan visual Iqro' Ahmad Ibrahim tentang kemerdekaan yang dituangkan dalam empat karya berbeda. Sebuah lukisan akrilik di atas kanvas dengan obyek botol hijau, peta Papua, dinding batu bata warna merah di atas lantai berwarna putih. Karya lukisan Iqro tersebut seolah menjadi pembuka bagi tiga karya berikutnya. Sebuah drawing di dinding RSR-PSBK dibuat Iqro' dengan figur-figur khasnya yang saling berinteraksi dalam outline warna merah di atas warna putih.

Pada karya tiga matra berjudul "Behind the Star", Iqro' membenamkan figur-figurnya ke dalam dua puluh enam botol kaca. Lagi-lagi warna merah putih menjadi penanda karya Iqro': tubuh bagian atas figur berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih. Sementara pada karya serie "Unity", enam puluh lukisan sketsa panel berwarna merah-putih dengan ukuran masing-masing 20 cm x 20 cm yang disusun pada dinding ruang pamer oleh pengunjung secara acak saat pembukaan pameran, Sabtu (18/8) malam. Menariknya Iqro' memberikan ornamen warna-warni pada sisi kanvas yang menempel pada spanram.

"Warna merah dan putih yang sangat dominan menjadi tanda dan penanda, sebagai upaya menstimulasi atau untuk memantik ingatan sensibilitas/kepekaan kita sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, akankah warna merah dan putih yang menjadi simbol dan identisas bangsa," jelas Iqro' kepada satuharapan.com, Minggu (9/9) sore.

Karya tiga matra berjudul "Reach the star" yang dibuat Andrik Musfalri pada sebuah koper yang selalu menemani perjalanan melintasi batas-batas kota menawarkan tafsir yang beragam tentang kemerdekaan itu sendiri: apakah kemerdekaan itu sebuah tujuan ataukah bagian dari perjalanan itu sendiri? Dalam sebuah koper, tanpa ilustrasi berlebihan Andrik seolah sedang menawarkan narasi kemerdekaan yang bisa jadi tidak sesederhana tampilan visual karyanya meskipun pesan yang disampaikan sangat jelas: mengambil peran untuk Indonesia menjadi energi menggapai bintang di negeri sendiri, meraih mimpi, menjujung tinggi dan melindungi Ibu Pertiwi.

 
Back to Home