Loading...
INSPIRASI
Penulis: Julianus Mojau 04:44 WIB | Kamis, 05 Mei 2016

Kenaikan Yesus: Kemandirian Umat

Hari kemandirian hati dan pikiran.
Mengapa kamu menatap ke langit? (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Dalam beberapa kasus hidup menggereja gereja-gereja di Indonesia belum memperlihatkan kemandirian. Apalagi di tengah proses otonomi daerah. Di beberapa daerah yang mayoritas Kristen, gereja acap melihat posisi strategis warga Jemaat di pemerintahan sebagai peluang untuk memperoleh dukungan finansial atau kekuasaan untuk memperluas pengaruh sosialnya.

Mentalitas semacam ini tak beda dengan mentalitas kekristenan abad pertengahan. Dapat diduga, mentalitas ketergantungan ini merupakan konsekuensi dari persenyawaan antara ”corak spiritualitas dualistis Platonisme” dan ”corak dominatif mentalitas monarkial masyarakat feodal”. Persenyawaan inilah yang menghasilkan ”mentalitas ketergantungan” di satu pihak dan ”mentalitas suka menguasai orang lain” di pihak lain.  

Kita tidak anti terhadap dukungan finansial dan kekuasaan dari Pemerintah. Tetapi, baiklah jika dukungan itu tidak memperlemah kesadaran kemandirian sebagai umat Allah yang misioner. Sebab kemandirian adalah salah satu ciri penting dari menjadi umat Allah yang misioner. Bahkan, umat Kristen Indonesia dipanggil untuk menjadi perintis pembaruan hidup pribadi dan sosial di tengah mentalitas ketergantungan dan suka menguasai dalam diri sebagian besar warga negara Indonesia, termasuk para pejabatnya.

Semangat kebebasan dan kemandirian hati itulah yang dikisahkan dalam Lukas 24:50-53 dan Kisah Rasul 1:6-11. Para ahli Perjanjian Baru memaknai kisah ini sebagai ”masa Yesus Kristus memberi ruang kepada para murid-Nya” untuk dapat mengembangkan diri. Dalam pemaknaan ini kita dapat mencatat setidaknya dua hal penting.

Pertama,  peristiwa kenaikan Kristus sebagai cara-Nya menciptakan ”ruang inisiatif  dan kemandirian mandiri” bagi para murid-Nya. Ruang ini diciptakan agar mereka bebas berkreasi  dan mandiri dan tidak tergantung pada Yesus Kristus semata-mata. Ia akan memberi kuasa atau otoritas. Itulah Roh Kudus sebagai cara berada baru dari Kristus yang dimuliakan. Kenaikan Yesus ke surga menciptakan ruang kebebasan bagi murid-murid-Nya sebagai anak-anak Allah bukan budak.  

Kedua, kenaikan Yesus ke surga mengarahkan kehidupan para murid-Nya untuk selalu terarah ke masa depan.Kenaikan Yesus menciptakan hati dan pikiran yang selalu optimis menjalani kebebasan hidup dan kemandirian hati dan pikiran di tengah-tengah suasana kekuasan hegemonik dan dominatif yang masih terus menghantui kehidupan sehari-hari kita di Indonesia.Dan menarik disimak, tanda keruntuhan kuasa hegemonik dan dominatif jatuh tepat pada hari kenaikan Kristus pada 21 Mei 1998.

Selamat Merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus sebagai Hari Kebebasan dan Kemandirian Hati dan Pikiran!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home