Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:26 WIB | Selasa, 13 Agustus 2019

Keroncong Jathilan Menuju Upacara Kebo Ketan 2019

Keroncong Jathilan Menuju Upacara Kebo Ketan 2019
Penampilan Keroncong Jathilan (Kronjal) oleh Perkumpulan LSM Kraton Ngiyom di kompleks Jogja National Museum, Minggu (11/8). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Keroncong Jathilan Menuju Upacara Kebo Ketan 2019
Interaksi penonton dalam penampilan keroncong jathilan.
Keroncong Jathilan Menuju Upacara Kebo Ketan 2019
Seniman-perupa Joseph Wiyono saat membuat sketsa on the spots merekam penampilan Kronjal-Reog Mahesa Nempuh.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Untuk kesekian kalinya dalam perjalanan menuju Upacara Kebo Ketan 2019 Kraton Ngiyom, sebuah LSM yang berasal dari Desa Sekaralas Kecamatan Widodaren-Ngawi memperkenalkan dua seni pertunjukan Keroncong Jathilan dan kesenian Reog Mahesa Nempuh. Upacara Kebo Ketan (UKK) 2019 akan berlangsung pada 8-9 November 2019 di Desa Sekaralas.

Keroncong Jathilan atau diperkenalkan dengan nama Kronjal merupakan gabungan musik keroncong dengan menggunakan instrumen gitar, cello, kontra bass, serta instrumen khas yang sering dimainkan dalam musik keroncong yakni cak dan cuk. Instrumen musik tersebut masih dikombinasikan dengan beberapa instrumen gamelan dari keluarga balungan, kendang, serta seruling. Secara musikalitas tidak ada yang baru dari Kronjal dengan warna musik langgam, namun dari sisi penyajian dengan penambahan perform jathilan selama musik dimainkan Kronjal menjadi lebih interaktif dengan keterlibatan penonton merespons musik yang sedang dimainkan.

Hari Minggu (11/8) malam Kronjal dimainkan di kompleks Jogja National Museum (JNM), Jalan Ki Amri Yahya No 1 Gampingan, Wirobrajan-Yogyakarta dengan empat komposisi. Sebagai pembuka dimainkan repertoar berjudul Gegayuhan, dilanjutkan dengan Wolak-waliking Jaman. Pada repertoar kedua kelompok Kronjal mengajak penonton untuk turut terlibat bersama merespons musik yang mereka mainkan. Tawaran kepada penonton untuk terlibat menjadi bagian dari repertoar yang sedang dimainkan menjadikan repertoar Wolak-waliking Jaman sebuah performance multiarah.

Dalam dua repertoar berikutnya Kronjal dimainkan mengiringi diperkenalkannya dua karakter yang menjadi tokoh dalam Reog gaya baru yang diperkenalkan LSM Kraton Ngiyom saat UKK 2018. Kedua karakter karya seniman-perupa Agus Kamal tersebut adalah Mahesa Dahana dan Mahesa Nempuh. Pada Reog Mahesa Nempuh, secara konsep pertunjukan hampir sama dengan reog Ponorogo, namun pada bagian Dadak Merak yang menjadi salah satu perlengkapan penting pertunjukan, kepala harimau diganti dengan kepala kerbau.

Selama penampilan Kronjal dan Reog Mahesa Nempuh, pengajar Seni Rupa ISI Yogyakarta Joseph Wiyono merekam pertunjukan dalam sketsa secara on the spots. Sketsa tersebut rencananya akan digunakan sebagai ilustrasi buku yang sedang disusun LSM Kraton Ngiyom mengangkat tema kebangkitan seni rakyat dengan Kronjal dan Reog Mahesa Nempuh sebagai salah satu pintu masuknya.

Rencananya pada perhelatan UKK 2019, kedua seni pertunjukan yang bisa dikatakan relatif baru tersebut akan dimainkan secara penuh selama tiga jam.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home