Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 15:18 WIB | Minggu, 28 Agustus 2016

Kethoprak Tjap Tjonthong Pentaskan Kancil Amongpraja

Berturut-turut (ki-ka): Patih Wraha Kenya (celeng), Wanara Sadi (kera, diperankan Marwoto Kawer), Prabu Brama Denta (macan), Sona Rupa (anjing, diperankan Susilo Nugroho), membicarakan kekeringan yang melanda hutan di sekitar Merapi akibat pengerukan pasir yang berlebihan, dalam lakon Lampor oleh kethoprak ringkes Tjap Tjonthong di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta Selasa (29/12) tahun lalu. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Dikisahkan Kancil dikurung oleh Sutatruna karena mencuri timun di sawah miliknya. Dengan akal cerdiknya Kancil dapat menipu Anjing. Anjing mau menggantikan Kancil di dalam kurungan. Kancil pun dapat melarikan diri. Anjing akhirnya dihajar oleh Sutatruna, karena dituduh telah memakan Kancil. Anjing melarikan diri dengan kesakitan.

Dengan bimbingan Wedhus Prucul, ibunya, Kancil sadar akan segala kesalahannya kemudian bertapa di gua Langse. Sementara anjing dengan bantuan anjing liar, juga ingin bertapa di gua Suracala.

Di dekat gua Langse, para binatang resah akibat ulah RM Bogawana dan RM Rudita yang serba merugikan binatang. Di saat yang sama muncul Kancil. Ia menyatakan diri sebagai pimpinan binatang se-tanah Jawa, karena dalam bertapanya ia telah mendapat tanda pengangkatan dari raja Mesir. Semua binatang yang hadir tunduk kepadanya. Ia pun mengangkat Banteng sebagai patih, Wedhus Prucul sebagai bendahara, Munyuk sebagai menteri luar negeri dan negosiator dan Macan sebagai pimpinan perang.

Ternyata Anjing tidak mau tunduk pada Kancil. Kedudukan Kancil sebagai raja tidak akan membawa pengaruh pada dirinya. Meski begitu Anjing tidak akan mengganggu Kancil. Selama ini ia hanya menempati gua Suracala, didatangi binatang yang ingin berguru. Sikap ini berpengaruh dan diikuti oleh Munyuk.

Di saat yang sama RM Bogawana dan RM Rudita telah merusak istana Kancil. Di lain pihak, dana yang seharusnya ada dan dapat dipakai untuk memperabaiki istana, telah dipakai untuk kepentingan Wedhus Prucul. Kancil terpaksa mempidana ibunya sendiri.

Lakon di atas adalah sepenggal cerita Kancil Amongpraja yang akan dipentaskan kelompok kethoprak ringkes Tjap Tjonthong di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 12-13 September 2016 pukul 19.00 WIB - selesai.

Pimpinan produksi Nicky Nazaready Sabtu (27/8) kepada satuharapan.com menjelaskan lakon Kancil Amongpraja dipentaskan secara ringan, jenaka, tanpa kehilangan daya kritis satire atas berbagai problematika kehidupan, serta pesan moral kepada penonton. Seperti lakon Lampor yang dipentaskan pada 29-30 Desember tahun lalu, format pementasan Kancil Amongpraja pun a'la dongeng fabel dengan peran binatang dalam cerita.

Naskah garapan Susilo Nugroho disutradarai berdua dengan Marwoto Kawer menyadur dari tembang Serat Kancil Amongpraja karya Ki Padmasusastra (Ng. Wirapustaka) yang banyak menceritakan kecerdikan Kancil.

Ditemui satuharapan.com saat memandu acara Anugrah Penggiat dan Pelestari Budaya 2016 di Komplek Kepatihan Yogyakarta Senin (22/8), Susilo Nugroho menjelaskan bahwa lakon Kancil Amongpraja diambil dari Serat Kancil yang awalnya merupakan tembang.

"Kancil itu representasi anak yang cerdas. Kenakalan-kenakalan Kancil itu sebenarnya gambaran dari kecerdikan. Bocah sing mletik pikire. Itu ada di tembang Serat Kancil. Kalau kemudian diartikan dalam lagu si Kancil anak nakal yang harus lekas dikejar dan jangan diberi ampun kan justru terjadi distorsi pada dunia anak-anak. Tidak ada anak-anak yang nakal. Kenakalan anak dalam diri kancil itu justru yang seharusnya ditangkap dan digali sebagai potensi anak-anak. Itu juga harus diluruskan kembali," kata Susilo Nugroho.

Bagaimana ending lakon Kancil Amongpraja? "Tonton saja di Concert Hall TBY hehehe...," kata Susilo mengakhiri perbincangan.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home