Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:26 WIB | Kamis, 13 Februari 2020

Ketika Ramuan Tradisional China Ikut Berjuang Lawan Virus Corona

Dunia berpacu dengan waktu mencari obat untuk virus corona jenis baru, tetapi sejumlah dokter dan individu di China beralih ke pendekatan tradisional guna mengobati gejala penyakit ini. (Foto: dw.com)

CHINA, SATUHARAPAN.COM – Dunia berpacu dengan waktu mencari obat untuk virus corona jenis baru, tetapi sejumlah dokter dan individu di China beralih ke pendekatan tradisional guna mengobati gejala penyakit ini.

Dalam sebuah artikel yang baru-baru ini dipublikasikan di akun WeChat untuk berita medis, Tang Ying, direktur sebuah rumah sakit di Provinsi Henan, menjelaskan cara untuk melindungi para dokter dari virus corona jenis baru atau COVID-19 , yaitu dengan mengonsumsi obat tradisional China.

Para staf administrasi yang tidak secara langsung berhubungan dengan pasien, dianjurkan meminum sup jahe kering yang dicampur dengan licorice atau akar manis.

Sedangkan dokter yang bekerja di klinik harus meminum Guizhi Tang atau formula yang berbahan dasar kayu manis. Selain itu wajib juga meminum ramuan jamur Fuling dan Bai Zhu, sejenis ramuan yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional China.

Ramuan-ramuan ini dipercaya dapat melindungi kekebalan tubuh hingga memperkuat fungsi limpa.

"Kali ini di garda depan medan perang melawan virus corona jenis baru, pengobatan China tidak boleh absen," tulis Tang Ying, 

Pendekatan tradisional ini sejalan dengan rekomendasi Pemerintah China untuk mengobati gejala virus. Komisi Kesehatan Nasional China pada pekan lalu menerbitkan saran, di antaranya untuk menambahkan bahan yang biasa digunakan oleh praktisi pengobatan tradisional selain juga obat-obatan barat.

Masih belum ada obat untuk penyakit yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China, ini. Beberapa dokter dan individu pun lantas beralih ke pengobatan tradisional. Namun, langkah ini telah memicu perdebatan tentang efektivitas dan keamanan ramuan tersebut.

Seberapa Manjur?

"Ada perdebatan mengenai apa yang diidentifikasi dalam pengobatan (modern) dan apa yang diidentifikasi dalam (pengobatan) kami," Shelley Ochs, praktisi pengobatan tradisional China Beijing mengatakan kepada DW, yang dilansir dw.com, pada Rabu (12/2).

Shelley Ochs sendiri memperoleh gelar doktor dari Akademi Ilmu Pengetahuan Medis China. Ia mengatakan bahwa para profesional yang terlatih dalam pengobatan tradisional China memiliki serangkaian pertimbangan berbeda dalam mengidentifikasi, memerangi, dan mencegah penyakit.

"Kami menargetkan gejala-gejala yang ditunjukkan oleh seseorang dan kami menargetkan seluruh polanya."

Ketika menghadapi wabah SARS pada 2003, Komisi Kesehatan juga mempromosikan penggunaan obat tradisional bagi pasien yang menderita kerusakan tulang, akibat efek samping penggunaan steroid.

Penggunaan obat-obatan tradisional ini merupakan upaya pemerintah untuk meremajakan dan menyebarkan praktik pengobatan tradisional. Kantor Informasi Dewan Negara China memperkirakan pasar ini pada tahun 2020 akan mencapai omzet sebesar 397 miliar euro (Rp 5,9 kuadriliun).

Namun, langkah penggunaan obat tradisional ini ditanggapi secara skeptis oleh sejumlah tenaga medis profesional karena ketiadaan regulasi dan pengujian.

Skeptisisme Dunia Pengobatan Barat

Rekomendasi Komisi Kesehatan China untuk menggunakan bahan-bahan tradisional ini, muncul pada saat beredarnya informasi yang belum terbukti terkait pengobatan dan penyembuhan virus corona jenis baru. Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah mengumumkan bahwa klaim beberapa bahan seperti bawang putih dan minyak wijen yang dapat menawarkan perlindungan terhadap virus belum bisa dibuktikan.

Ming Lei, Profesor Departemen Farmakologi Universitas Oxford, mengatakan, bahwa dalam hal pemanfaatan bahan-bahan tradisional untuk pengobatan terbaru, ramuan tradisional China memang diakui di bidangnya. Namun, saat ini, tekanan waktu untuk mengobati virus corona jenis baru membuat produksi obat-obatan dengan bahan ini menjadi tidak realistis.

"Komponen-komponennya bisa jadi bermanfaat, tetapi butuh waktu lama untuk mengembangkannya," kata Ming Lei.

Saat ini China mulai menguji remdesivir, obat antivirus yang diproduksi oleh perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, yaitu Gilead. Obat ini belum disetujui untuk digunakan pada manusia tetapi telah menunjukkan hasil positif.

Pakai Pendekatan Campuran

Belum adanya kepastian tentang pengobatan virus corona jenis baru ini membuat Shelley Ochs melakukan pendekatan campuran untuk mengobati gejala, tergantung tingkat keparahannya.

Setidaknya Shelley Ochs yakin dengan kemanjuran pengobatan tradisional untuk menjaga keluarganya. Mereka minum jus pir untuk melembabkan paru-paru, makan bubur untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan, dan mengonsumsi Yu Ping Feng San, formula herbal untuk memperkuat kekebalan tubuh ketika menunjukkan tanda-tanda pilek.

Shelley Ochs mengatakan, ia "benar-benar akan mempertimbangkan apa yang kita ketahui tentang manifestasi suatu penyakit."

Ia juga menegaskan, menggunakan obat tradisional tidak berarti dia mengabaikan ilmu pengetahuan yang datang dari bidang lain. "Itu akan merugikan pasienmu," katanya. (dw.com)

 

 

 

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home