Google+
Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Reporter Satuharapan 10:25 WIB | Senin, 03 September 2018

Kevin Sanjaya di Asian Games 2018: Mukjizat Itu Nyata

Ilustrasi. Kevin Sanjaya Sukamulyo (kanan) dan Marcus Fernaldi Gideon (kiri) ketika menjuarai All England 2017 di Birmingham, Inggris, hari Minggu (12/3/2017). (Foto: Dok satuharapan.com/PBSI)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih medali emas Asian Games 2018. Air mata Kevin/Marcus meluncur deras saat berhasil melewati laga sengit melawan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, sesama pasangan Indonesia.

Badmintonindonesia.org berbincang dengan Kevin seputar kemenangannya dan masa-masa sulit yang ternyata pernah dilaluinya setelah kini ia berada di puncak tertinggi peringkat dunia.

Berikut petikan wawancaranya.

Sepertinya lega sekali setelah meraih emas Asian Games 2018? Apa ada beban tersendiri?

Pastinya seneng banget bisa dapat emas, akhirnya bisa juara major event, karena banyak yang bilang kami juaranya cuma turnamen superseries saja, tapi belum terbukti di major event.

Apa yang pertama kali dikatakan Kevin ke Fajar/Rian sesaat setelah menang di lapangan?

Saya bilang, terima kasih untuk hari ini, kami benar-benar hoki, kalian main sangat baik.

Menurut Kevin, mereka kemajuannya di bagian apa?

Fajar/Rian benar-benar bermain pada peak performance mereka, malah melebihi. Fajar/Rian jarang membuat kesalahan sendiri dan benar-benar saling mengisi.

Bisa dibilang Fajar/Rian sekarang jadi saingan terberat Kevin/Marcus?

Menurut saya, ganda putra ranking 1-20 itu semua memang saingan berat. Jadi salah satunya ya Fajar/Rian juga, mereka kan sudah di Top 10. Tidak ada lawan yang bisa dibilang mudah dihadapi. Di Malaysia Open kami kalah dari pasangan Tiongkok yang rankingnya sekitar 20-an. Di Kejuaraan Dunia 2018 juga kami hampir kalah dari pasangan Tiongkok lain yang ada di ranking 20-an. Sekarang persaingan sudah merata banget.

Biasanya di pelatnas dan di hotel kalau pertandingan sekamar sama Rian. Kemarin bagaimana?

Ha ha ha, kali ini tidak sekamar. Selama Asian Games saya sekamar sama Koh Sinyo (Marcus). Tadinya mau sekamar sama Rian, tapi Rian sudah telanjur masuk hotel duluan sama Fajar.

Waktu menang itu sempat nangis?

Ya, menangis, karena dapat mukjizat dari Tuhan. Ternyata Tuhan sebaik itu memberi hal yang nyaris mustahil. Harus menunggu empat tahun lagi kalau mau dapat emas Asian Games. Itu juga belum pasti. Jadi hari itu benar-benar merasa bahwa mukjizat itu nyata. Saya sampai sudah tidak bisa ngomong apa-apa, cuma menangis. Ini pertama kalinya saya sampai menangis kayak gitu. Sebelumnya saya tidak pernah menangis waktu juara.

Apakah orangtua Kevin nonton langsung di Istora?

Hanya papa saya. Waktu saya ke warming up court selesai pertandingan, papa cuma peluk saya, bilang selamat dan terima kasih. Mama saya tidak bisa datang, jadi kasih ucapannya via whatsapp.

Dapat bonus dari pemerintah, selain ditabung mau diapakan bonusnya? Ganti mobil? Mau beli rumah?

Ha ha ha, nanti dulu kalau ganti mobil. Mau nabung dulu. Rumah sudah punya. Masih dipikir-pikir bonusnya selain ditabung mau buat apa.

Siapa sosok yang Kevin kagumi? Kenapa?

Saya ngefans sama Lin Dan. Dia punya semua gelar dan bisa bertahan sangat lama di atas.

Indonesia memenangkan medali emas Asian Games lagi, sudah tiga Asian Games dikuasai ganda putra Indonesia. Apa istimewanya pemain ganda putra Indonesia menurut Kevin?

Kami di ganda putra punya persaingan yang sangat ketat di saat latihan, jadi yang pemain di bawah-bawahnya cepat terangkat juga. Menurut saya pemain ganda putra Indonesia itu punya pola permainan yang spesial dan kami bisa mengubah-ubah pola itu saat bermain.

Kevin/Marcus selalu dipuji punya mental baja. Apa yang ada di pikiran Kevin/Marcus di saat adu mental di laga kritis?

Kami selalu mencoba terus selama masih ada kesempatan. Jangan pernah menyerah sebelum lawan sudah menyelesaikan game, karena tidak ada yang tidak mungkin.

Kevin pernah mengalami masa-masa down juga?

Tiap atlet pasti pernah mengalami masa down. Saya juga pernah waktu di klub Djarum di Kudus. Dulu saya main di nomor tunggal putra dan dianggap kurang berpotensi. Lalu saya akhirnya memutuskan jadi pemain ganda. Padahal waktu kecil kan saya maunya main dua-duanya. (badmintonindonesia.org)

Editor : Sotyati

Back to Home