Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 11:55 WIB | Senin, 25 November 2013

KH Husein Muhammad: LGBITQ Berdosa atau Tidak Itu Hak Tuhan

KH Husein Muhammad: LGBITQ Berdosa atau Tidak Itu Hak Tuhan
Pekan LGBTIQ diselenggarakan di STT Jakarta pada hari Jumat (22/11) - Minggu (24/11). (Foto-foto: Diah Anggraeni Retnaningrum)
KH Husein Muhammad: LGBITQ Berdosa atau Tidak Itu Hak Tuhan
Para peserta nampak antusias mengikuti setiap sesi yang diberikan dan acara selingan yang dipandu oleh dua MC kocak tersebut.
KH Husein Muhammad: LGBITQ Berdosa atau Tidak Itu Hak Tuhan
Menerima dan Memahami adalah salah satu tujuan dan harapan diselenggarakannya acara ini.
KH Husein Muhammad: LGBITQ Berdosa atau Tidak Itu Hak Tuhan
Dr. Bambang Subandrijo menjadi pembicara dalam tema Perspektif Alkitab Perjanjian Baru Mengenai LGBTIQ.
KH Husein Muhammad: LGBITQ Berdosa atau Tidak Itu Hak Tuhan
KH. Husein Muhammad, pembicara dalam Islam dan LGBTIQ.
KH Husein Muhammad: LGBITQ Berdosa atau Tidak Itu Hak Tuhan
Salah satu peserta seminar bertanya dalam sesi tanya jawab.
KH Husein Muhammad: LGBITQ Berdosa atau Tidak Itu Hak Tuhan
Pdt. Melinda Siahaan, M.Th memberikan pandangan tentang teologi queer dan pluralitas gender.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – “Saya tidak berhak menyatakan bahwa rekan-rekan LGBTIQ itu berdosa atau tidak. Yang berhak adalah Tuhan,” kata KH Husein Muhammad. Pernyataan pendiri Perguruan Tinggi Institute Studi Islam Fahmina, Cirebon, ini disampaikan pada sesi keempat Pekan Lesbian, Gay, Bisexual, Intersex dan Queer  (LGBTIQ) di STT Jakarta pada Sabtu (23/11). Pekan LGBTIQ berlangsung pada Jumat (22/11) hingga Minggu (24/11).

STT Jakarta telah tiga kali menggelar acara ini dan berhasil merangkul rekan-rekan dengan orientasi seks yang berbeda dan merubah pandangan umum tentang LGBTIQ. Pada Sabtu (23/11), acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan sesi pertama dibuka Pdt. Stephen Suleeman yang membawakan tema “Konstruksi Sosial atas Gender dan Seksualitas”. Sesi—berlangsung selama kurang lebih satu jam—tersebut mengupas tentang pola pemikiran atau konstruksi sosial dalam masyarakat mengenai gender dan seksualitas.

Sesi kedua dibawakan oleh Dr. Bambang Subandrijo dengan mengupas tentang “Persepektif Alkitab Perjanjian Baru Mengenai LGBTIQ. Pada sesi ini Dr. Bambang dengan pembawaannya yang segar membawa para peserta seminar menyelami apa yang Perjanjian Baru katakan tentang LGBTIQ.

Berdosa atau Tidak, Hak Tuhan

Setelah makan siang, sesi keempat dibawakan oleh KH. Husein Muhammad, pendiri Perguruan Tinggi Institute Studi Islam Fahmina, Cirebon. Dalam sesi ini ia membahas pandangan Islam dan LGBTIQ. Pada sesi ini sangat menarik ketika ia mengatakan bahwa: “Saya tidak berhak menyatakan bahwa rekan-rekan LGBTIQ itu berdosa atau tidak. Yang berhak adalah Tuhan.”

Menjelang sore, sesi kelima tentang Teologi Feminis dan Teologi Queer dibawakan oleh Pdt. Melinda Siahaan, M. Th. Namun, ia menyatakan bahwa ia lebih suka jika diskusi tersebut diganti dengan judul Teologi Pluralisme Gender: Salah Satu Upaya Berteologi Queer. Queer adalah subjek yang keluar dari konsep-konsep kenormalan.” Tidak selamanya rekan LGBTIQ itu adalah queer, tetapi mereka bisa mengatakan bahwa mereka adalah queer,” kata dia. “Konsep teologi queer adalah berani mendobrak pemikiran normatif atau stabil dan pluralisme gender adalah menghargai keberagaman gender.”

Sesi keenam diakhiri dengan menonton film berjudul “Tales of Waria”. Film ini mengambil latar belakang beberapa cerita dari Waria yang berbeda. Meskipun mengambil setting di Indonesia, namun film ini tidak diedarkan di Indonesia dengan beberapa alasan.

Dihadiri Para LGBTIQ

Selain mahasiswa STT yang turut mengikuti seminar ini, rekan-rekan dari komunitas LGBTIQ pun setia mengikuti acara tersebut dari awal sampai akhir. “Saya berharap dengan adanya kegiatan seperti ini, masyarakat tidak lagi berpandangan negatif bahkan mem-bully kaum LGBTIQ. Kami layaknya manusia biasa,kok. Sama seperti yang lainnya,” kata salah satu peserta seminar yang tidak ingin disebutkan namanya kepada reporter satuharapan.com.

Pdt. Stephen Suleeman pun berharap “Dengan adanya acara ini akan semakin banyak orang mengerti, menerima kehadirian teman-teman LGBTIQ di masyarakat, di keluarga, dan juga di komunitas agama,”

“Kami berharap masyarakat bisa menerima teman-teman LGBTIQ apa adanya, menghindari tindak kekerasan terhadap mereka,” katanya.

Ia juga menyatakan bahwa tujuan diadakannya acara ini adalah sebagai pembelajaran untuk mahasiswa STT Jakarta dan komunitas agama dalam hal ini gereja maupun dari rekan-rekan Islam. Acara ini selalu dibuat dengan model interfaith yaitu, dari berbagai agama juga diundang untuk memberikan pandangannya dan di akhir acara selalu dibuat doa komitmen bersama antaragama.

Dampak yang sudah terlihat dari terselenggaranya acara Pekan LGBTIQ yang sudah dilakukan tiga kali dalam tiga tahun terakhir ini Pdt. Stephen mengungkapkan bahwa semakin banyak teman-teman dari luar STT Jakarta mengatakan “Kami sangat merasa beruntung bisa ikut acara seperti ini, karena di kampus kami tidak ada. Dan, kami belajar banyak dari acara-acara seperti ini.”

Pada kata penutup, Pdt Stephen berkata, “Perlu keberanian untuk bicara soal keadilan untuk mengajarkan komunitas kita untuk hidup dan berlaku adil.”

Editor : Bayu Probo

Back to Home