Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Kris Hidayat 09:46 WIB | Kamis, 26 Desember 2013

Khotbah Natal di Seberang Istana Merdeka: Berharap di Tengah Ketiadaan Pengharapan

Pendeta Stephen Suleeman tengah menyampaikan Kotbah Natal (Foto: Kris Hidayat).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM  - Ibadah Natal di seberang Istana Merdeka Jakarta yang dihadiri simpatisan dari berbagai gereja dan kalangan pegiat lintas agama, serta menghadirkan pengkhotbah Pendeta Stephen Suleeman, menampilkan khotbah bertema “Datanglah ya, Raja Damai: Berharap di Tengah Ketiadaan Pengharapan”. Khotbah Natal itu terasa istimewa, karena mengangkat kembali peristiwa Natal pertama pada 2000,  sekaligus mengambil kerangka keberadaan kehidupan berbangsa di masa sekarang.

Berikut adalah Khotbah Natal di seberang Istana Merdeka, Minggu (25/12):

Natal Pertama dan Natal Kita 2013

Hari Natal pertama terjadi di sebuah kandang binatang yang kotor dan bau. Hari Natal yang pertama dirayakan dengan bayi dan kedua orangtuanya yang kedinginan karena tidak ada tempat untuk berbaring dan bukan mustahil pula mereka sangat kelaparan.

Hari Natal yang pertama terjadi di tengah-tengah ketidakpastian ke mana pasangan Maria dan Yusuf harus pergi karena tidak ada tempat untuk mereka. Tidak ada satu pun penginapan tersedia.

Lebih dari dua ribu tahun sudah berlalu sejak Natal yang pertama terjadi. Namun, orang-orang yang tidak memiliki tempat bernaung dan yang tersingkir karena peperangan dan bencana alam, mereka yang kelaparan dan harus tidur dengan perut perih karena kelaparan, masih tetap berada di sekitar kita. Bahkan lebih dari itu, sebagian dari kita pun mengalaminya.

Sebagian dari kita, seperti jemaat Bapos GKI Yasmin, HKBP Filadelfia dan mungkin masih banyak yang lainnya, harus merayakan Natal di jalan-jalan kota, di lorong-lorong gelap dan terlupakan. Dan, masih banyak pula orang Kristen dan orang-orang beragama lain yang harus memperingati hari-hari suci keagamaan mereka di tengah-tengah rasa takut dan ancaman senjata.

Dengan cara yang sama, suatu gambaran ketika dengan segala upaya Raja Herodes dan para prajurit Herodes terus berusaha  memastikan bahwa “Sang Bayi Kudus” itu tidak akan terlahir dan bertumbuh menjadi ancaman bagi kekuasaan yang memimpin Yehuda dan Roma.

Nas Alkitab yang menjadi bahan diambil dari kitab Yesaya 52:7-10, yang mengingatkan akan sebuah pengharapan luar biasa, yang diberitakan Nabi Yesaya kepada umat Tuhan: “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit keda­tangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion:’Allahmu itu Raja!’”

Pemberitaan itu mungkin kedengarannya absurd. Bodoh. Tidak masuk akal. Ketika pembawa berita baru kelihatan dari puncak bukit-bukit. Kedatangannya masih jauh. Bahkan mungkin masih belum jelas kelihatan. Mungkin pula berita yang disampaikannya pun masih samar-samar, “Allahmu itu Raja!” Tetapi, bagi umat Allah, tanda sekecil apa pun telah menjadi benih pengharapan yang meyakinkan bahwa penderitaan mereka akan segera berakhir, dan Yerusalem akan ditebus kembali.

Sudah beberapa tahun ini jemaat BaPos GKI Taman Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi tidak bisa merayakan Natal di gedung gerejanya sendiri. Ya, gedung gereja milik sendiri, punya sertifikat resmi, punya izin pembangunan resmi, namun kedua jemaat itu masih tetap terlunta-lunta tidak bisa merayakan Natal ataupun kebaktian-kebaktian di gedung mereka sendiri.

Seruan Kenabian Yesaya

Dengan cara yang lain, kita berterima kasih kepada pemerintah Republik Indonesia yang mendukung kebhinekaan ini, yang justru telah mengizinkan jemaat BaPos GKI Taman Yasmin, HKBP Filadelfia, dan masih banyak lagi jemaat Kristen lainnya dan bahkan kelompok-kelompok agama lain yang bukan mayoritas untuk menghayati penderitaan hidup.

Khusus untuk jemaat-jemaat Kristen dan Katolik di Indonesia, pemerintah  telah mengizinkan orang-orang Kristen untuk lebih menghayati penderitaan keluarga kudus, Yusuf, Maria, dan Bayi Yesus, yang hidup di tengah-tengah ketidakpastian, kemiskinan, dan penderitaan.

Bukan itu saja, pemerintah juga telah menolong jemaat-jemaat Kristen untuk betul-betul menyadari bahwa pengharapan mereka tidak berasal dari istana di seberang sana, tidak berasal dari seorang Ksatria dari Britania Raya, tetapi dari Tuhan Allah sendiri yang telah datang ke bumi dalam diri seorang bayi kecil yang tidak berdaya.

Tahun lalu, kita mengirimkan ribuan kartu pos kepada penguasa negeri ini yang terus menutup mata dan telinganya terhadap seruan dan kenyataan yang gamblang, untuk meminta agar Presiden SBY membuka segel di kedua gereja itu. Tapi tidak! Untunglah tidak! Sebab bukan tangan manusia yang akan membukanya. Bukan kepada manusia kita harus meminta dan memohon. Sebab tangan Tuhan sendirilah yang kelak akan membukanya!

Inilah kesaksian iman orang yang percaya dan menaruh harapannya kepada Allah di surga dan bukan kepada penguasa-penguasa dunia. Inilah kesaksian iman yang di tengah-tengah keadaan yang tidak berpengharapan masih dapat menyaksikan bagaimana Allah bekerja untuk mendatangkan damai sejahtera bagi seluruh umat manusia.

Berita dari Nabi Yesaya mungkin tidak bisa sepenuhnya dipahami, ketika melihat tengah-tengah reruntuhan Yerusalem, Yesaya mengajak mereka “Ber­gembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama! Sebab Tuhan telah meng­hibur umat-Nya.”

Kita diminta Allah untuk berharap di tengah-tengah keadaan tanpa harapan. Di tengah-tengah kondisi yang sa­ngat buruk dan mustahil bisa berharap. Namun “TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa.” Tuhan tidak tinggal diam, dan terus bekerja untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Karena itulah kita menyak­sikan bagaimana satu demi satu pejabat yang korup, yang menyalahgunakan kekua­saan, yang sering­ kali memperlihatkan kesombongan dengan kuasanya – ya, satu per satu – kehilangan jabatan dan berakhir di balik penjara.

Inilah tanda-tanda yang Tuhan perlihatkan kepada kita bahwa Ia masih terus bekerja dan akan bekerja terus demi kehidupan bangsa kita yang lebih baik lagi.

Memasuki tahun 2014 kita akan menyaksikan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang lebih dahsyat lagi. Ia akan mengukuhkan pengharapan kita, dan karena itulah kita terpanggil untuk tidak menyerah, tidak berhenti dengan perjuangan untuk menegakkan keadilan, menegakkan Indonesia yang bhinneka, menegakkan Indonesia yang pluralistik dan dilandaskan oleh saling menerima, saling mengakui, saling menghormati perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita semua.

Dalam Ibadah Natal ini juga dilangsungkan sakramen Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus ini kembali mengingatkan kita akan perjamuan Tuhan dalam pesta besar di surga kelak. Perjamuan Kudus ini kembali mengingatkan kita ada pengharapan yang lebih tinggi yang bisa kita pegang dan pertahankan. Semoga perja­muan ini semakin menguatkan kita di dalam perjuangan dan pengharapan kita – meskipun kita sering kali kehilangan pengharapan. 

Editor : Sotyati

Back to Home