Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 10:22 WIB | Sabtu, 09 Juni 2018

Kisah Adam dan Hawa

Allah adalah Pribadi yang suka mengampuni.
Adam dan Hawa bersembunyi (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM–”Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” (Kej. 3:11). Demikianlah pertanyaan Allah kepada Adam. Pertanyaan sederhana yang semestinya dijawab ya atau tidak!

Namun, Adam menjawab: ”Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan” (Kej. 3:12). Jawabannya bukan ya atau tidak. Adam merasa perlu memberikan alasan yang melatarbelakangi tindakannya. Dalam Alkitab jawaban yang seharusnya satu kata beranak pinak menjadi 15 kata.

Adam menyalahkan Hawa. Adam bertindak lempar batu sembunyi tangan. Dia tak mau disalahkan. Dia enggan dihukum sendirian. Manusia pertama itu ingin—kalau pun harus menerima hukuman—dihukum berjamaah! Adam sebagai kepala keluarga, ternyata lebih suka menyalahkan istrinya—dan serentak dengan itu secara tidak langsung menyalahkan Allah. Bukankah Allah yang telah menjadikan Hawa sebagai pendampingnya? Sekali lagi Adam lebih suka mencari kambing hitam. Dan Allah juga jadi kambing hitam.

Persoalan besar dalam hubungan antarmanusia adalah ketika seseorang yang nyata-nyata bersalah lebih suka lepas tangan. Juga dalam keluarga. Bagaimana perasaan Hawa ketika mendengar pembelaan diri Adam? Pasti kecewa!

Keluarga semestinya menjadi tempat di mana setiap anggota keluarga saling mendukung dan bukan saling menyalahkan. Itu hanya terjadi ketika setiap anggota keluarga belajar menjadi hamba Allah. Setiap hamba Allah niscaya bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri kepada Allah. Rasa tanggung jawab itu biasanya menuntun manusia pada permohonan ampun.

Itu jugalah yang dinyatakan pemazmur: ”Jika Engkau terus mengingat dosa kami, ya TUHAN, siapakah dapat tahan? Tetapi Engkau suka mengampuni, supaya orang menjadi takwa” (Mzm. 130:3-4, BIMK).

Allah adalah Pribadi yang suka mengampuni. Dia membenci dosa, tetapi mengasihi manusia berdosa. Pertanyaannya: maukah kita memohon pengampunan-Nya? Itu berarti siap bertanggung jawab atas semua perbuatan kita!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

Back to Home