Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 11:02 WIB | Sabtu, 11 Juli 2015

Kisah Bocah Pengungsi Jadi Menteri Pendidikan di Sudan Selatan

Menteri Pendidikan Valentino Achak Deng di Northern Bahr el-Ghazal, salah satu dari 10 negara bagian Sudan Selatan. (Foto: bbc.com)

SUDAN SELATAN, SATUHARAPAN.COM – Valentino Achak Deng dulu harus mengalami kenyataan pahit sebagai bagian dari pengungsi yang melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari perang brutal berkepanjangan di daerahnya.

Saat itu, dia tinggal di kamp pengungsi di Ethiopia dan Kenya. Meskipun menjadi pengungsi, keinginan belajar yang kuat menjadi pemacunya untuk tetap belajar selama perjalanan sebelum akhirnya direlokasi ke Amerika Serikat.

Seiring berjalannya waktu, kini Si Bocah Pengungsi itu telah berubah nasib menjadi menteri pendidikan di Northern Bahr el-Ghazal, salah satu dari 10 negara bagian di Sudan Selatan.

Seperti dilaporkan bbc.com, Deng mengatakan hingga kini pun dia tak percaya semua itu terjadi. Dulu, dia berpakaian compang-camping, sekarang sudah mengenakan setelan jas rapi.

“Bila seseorang bersikap positif dan optimistis, hal-hal baik akan terjadi kepadanya,” kata dia.

Ambisi besar Deng saat ini adalah agar anak-anak di wilayahnya juga bisa berhasil dan mengatakan kisah hidupnya adalah contoh yang bisa diteladani.

“Pelajaran yang saya dapatkan adalah manusia bisa selalu belajar, berhasil melalui masa sulit dan gigih dan bertumbuh. Sangat menyenangkan melihat anak-anak yang berhasil – semuanya tersenyum dan memiliki kisah sukses.”

Kisahnya Dibukukan

Kisah Deng yang bertransformasi dari bocah pengungsi hingga menjadi menteri ini dibukukan oleh penulis asal AS, Dave Eggers, dengan judul What is the What.

Salah satu faktor mengapa dia diangkat menjadi menteri pendidikan adalah karena dia berhasil membangun sekolah di Kota Marial Bai pada tahun 2008 dengan bantuan dari hasil penjualan buku kisah hidupnya tersebut.

Di sekolah yang ia bangun itu, Deng membawa anak-anak dari Pibor, area terdampak konflik di ujung negara tersebut.

“Saya ingin anak-anak dari Northern Bahr el-Ghazal belajar bersama anak-anak dari ke sembilan negara bagian Sudan Selatan lainnya, dan mengambil manfaat dari lingkungan antar-budaya itu,” katanya.

Banyak Pergumulan

Namun, saat ini Deng mengalami kesulitan untuk memiliki pengajar-pengajar yang cakap di tengah banyaknya siswa yang datang beramai-ramai ke sekolahnya itu.

Bangunan sekolah pun masih belum memadai. Banyak kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di bawah pohon. Kendalanya adalah ketika hujan, semua orang basah kuyup.

Hal yang memilukan lainnya adalah banyak di antara siswa yang datang dengan keadaan kelaparan. Kondisi seperti itu mengganggu daya tangkap anak tersebut saat belajar.

Mereka juga belum banyak mengerti tentang bahasa inggris, yang sudah ditetapkan sebagai bahasa resmi Sudan Selatan. Apalagi bagi mereka yang tumbuh besar di masa pra-kemerdekaan Sudan yang berbahasa resmi Arab.

Selain itu, gaji guru-guru juga masih minim, seiring dengan dampak krisis yang timbul akibat perang.

"Harga terus berfluktuasi. Guru-guru tidak dapat bertahan hidup dengan gaji mereka," kata Deng, "Anak-anak kelaparan, mereka tidak pergi ke sekolah karena mereka harus bertahan hidup."

Deng khawatir kehilangan jumlah besar anak-anak yang buta huruf, akibat kekerasan.

Pendidikan Ubah Keadaan

Deng berkeyakinan pendidikan dapat mengubah keadaan. Namun, jika dilihat dari dampak krisis saat ini, di mana anak-anak tersebut terpaksa meninggalkan sekolah karena harus bertahan hidup, maka tidak banyak yang bisa dilakukan.

Deng menganggap dirinya sebagai seseorang yang bertindak dan bukan hanya seorang politikus, namun dia sendiri tahu dari pengalaman pribadi perubahan yang bisa dibawa oleh pendidikan.

“Ketika saya berjalan melintasi selatan Sudan tanpa alas kaki, saya benar-benar tidak tahu apa pun, tidak memiliki peta, tidak tahu di mana saya berada, cara mencari jalan di hutan, atau mencari tanda-tanda bahaya. Saya hanya seorang bocah naïf, mencari keselamatan.”

Perjalanan pendidikan Deng sendiri terputus karena perang. Hidup di kamp pengungsi Ethiopia dan Kenya mengajarkan dirinya bahwa negara asalnya akan lebih baik bila lebih banyak orang bersekolah.

“Kami memiliki segelintir orang-orang yang berpendidikan, jumlah sekolah yang sedikit, infrastruktur dasar pun tidak ada, tidak ada sistem pertanian pusat. Itu semua karena perang, yang memundurkan kami beberapa tahun. Jadi dengan pendidikan, saya tidak akan harus melalui kesusahan itu. Seseorang pasti akan memikirkan alternatif.”

Sekarang Deng memiliki kesempatan mendidik ribuan anak-anak, sebagai menteri pendidikan negara bagian atau melalui sekolahnya.

“Yang saya doakan, kami sebagai pemimpin negara muda ini harus menghentikan kekerasan, menghentikan apa pun yang menghancurkan jiwa, mencari solusi, dan kita pun bisa seperti yang lain.” (bbc.com)

Editor : Sotyati

Back to Home